Hujan dari Masa Lalu
Monday, March 03, 2008 by Mariskova
Dari balik jendela mobil, saya memandangi tiga sosok anak kecil yang sedang tenggelam dalam keriaan curahan hujan.
Saya pernah merasakan keriaan mereka.
Dulu sekali.
Hujan selalu membawa keriaan buat saya. Lebih besar hujannya, lebih ria diri ini.
Berjingkat-jingkat saya keluar rumah untuk menghambur dan memeluk air hujan.
Begitu air dingin dari langit mengalir ke seluruh tubuh, saya tak perduli pada sosok perempuan bersanggul yang memperhatikan dari balik jendela rumah.
Eyang Uti.
Eyang Uti selalu membiarkan saya menikmati hujan.
Ketika hujan berhenti dan keriaan saya memudar, saya kembali ke rumah.
Saat itulah Eyang Uti akan menyambut saya dengan handuk tebal untuk kemudian menyeret saya ke kamar mandi.
Beliau akan membasuh badan dingin saya dengan air hangat dan menyuci rambut saya keras-keras. Setelah itu, saya akan dipeluknya erat-erat sampai beliau selesai mengeringkan kepala saya.
Bertahun-tahun kemudian ketika saya tak lagi menanti keriaan saat hujan turun, Eyang Uti mengganti sapuan handuk di kepala dan badan saya dengan pijatan di kaki setiap kali saya terbaring di rumah sakit. Setiap kali.
Wajahnya selalu berbicara banyak tentang nasihat yang tak selalu keluar dari mulutnya.
Dan seringkali saya tak mau menatap wajahnya karena saya tak ingin dia nasihati.
Seminggu lalu, ketika napas yang keluar dari dirinya terdengar samar, saya terisak mencium pipinya.
Beliau membuka mata dan memandang saya dalam-dalam sambil tersenyum.
Mama menyentuh saya pelan dan berbisik bahwa Eyang sudah tidak mengenali siapa-siapa lagi.
Saya tak perduli.
Saya mencium pipinya dan meminta ampun padanya.
Eyang hanya tersenyum, dan kemudian kembali tertidur.
Pasrah dan sedih saya mengelus tangannya yang kurus.
Tiba-tiba bibir Eyang bergerak dan mengucap lirih.
"8 Maret, ya?"
Kalimat terakhir sebelum beliau koma.
Dan kemarin Eyang Uti dimakamkan.
Ini ulang tahun pertama tanpa suara perempuan bersanggul yang mengucapkan selamat ulang tahun dari ujung sambungan telpon...

