Saturday, February 24, 2007

Lebih gampang cari pacar?

Seminggu mantengin Hikari sakit plus dapat tugas tambahan: ngurus rumah beserta isinya (2 mbah, 3 laki-laki bangkotan, 1 anak kecil sakit, 3 kura-kura, dan sejibun ikan hias) karena PRT pulang kampung (red: baca TATI) membuat saya tepar di akhir minggu. Alhamdulillah, walau di akhir minggu pertama saya sempat meriang merem melek, Hikari sudah mulai membaik. Dengan catatan, kalau dia gak banyak pecicilan.

Minggu ini PRT saya yang satu rencananya balik ke rumah kami. Tati tentu saja tak ikut balik. Sebagai gantinya, si bibi membawa kerabatnya yang lain. Fakta ini -yang tadinya membuat saya berduka sekali- sekarang membuat saya deg-degan. Ganti PRT berarti harus training ulang, kan? Padahal saya itu bener-bener terrible PRT trainer. Stress lagi deh.

Kalau ingat si Tati, saya makin sedih. Walau masih kecil dan belum pengalaman ngasuh anak (ikut dengan saya sejak Hikari umur 1.5), anak itu pintar. Dan yang pasti, dia ngerti adat saya yang nyebelin dan moody. Dia gak pernah saya ajarin harus gini gitu karena saya paling mati gaya kalau harus ngajarin kerja PRT.

"Gini loh caranya masak. Ini kompor. Ini lada. Ini sabun cuci..."
"Emangnya mbak bisa masak ya?"
"Nggak sih. Ini juga sok tau aja."
See what I mean?

Dengan si Tati, saya hanya ngerjain apa yang harus dikerjain. Learning by doing. Lalu, dengan cerdasnya, dia memperhatikan diam-diam. Karena kalau dia kebanyakan nanya, jawaban standar saya adalah 'tanya Ibu aja deh'. Dia memperhatikan jam berapa saya ngebangunin Hikari. Apa yang saya lakukan setelah itu. Bagaimana cara saya memandikan, memakaikan baju, memberi makan, sampai menidurkan Hikari. Lama kelamaan, dia melakukannya persis sama dengan saya. Tanpa perlu instruksi verbal. Hanya kadang-kadang saya kasih komen atau instruksi, sisanya benar-benar hasil belajar dirinya sendiri. Selain itu dia ikut menerapkan nilai-nilai (values) yang saya berikan ke Hikari. Misalnya, dia tahu kalau saya ingin Hikari makan sambil duduk manis (dan tidak berlarian kesana-kemari), maka dia akan mengikuti prosedur saya. Atau dia tahu kalau sepulang sekolah Hikari harus melakukan A-B-C, ya dia ikuti tanpa harus saya awasi. Kalau Hikari sedang main, si Tati juga ikut ngajarin alfabet, misalnya, karena dia melihat saya melakukan hal yang sama. Nah, model PRT seperti Tati ini rasanya tidak diproduksi lagi. Pengasuh Hikari yang pertama -walaupun jagoan ngasuh anak- seringkali memangkas prosedur dan nilai-nilai terapan saya. Akhirnya dia malah menerapkan nilai-nilai yang dia anut....

Maka, ketika kali ini Hikari akan mendapat pengasuh baru, saya mulai bertanya-tanya 'What if?'.
"Yang penting dia bersih," kata si Papap.
"Ya, itu harus. Tapi dia juga harus sayang anak. Perhatian," jawab saya.
"Kamu ajarin dia untuk ngurus Hikari," kata Papap lagi.
"Yang penting jujur," kata si Mami.
"Jangan yang bodo banget. Nanti bisa dikerjain si Ari," kata si Babe, yang sering jadi bulan-bulanan Hikari.
Dia harus begini.
Dia harus begitu.
Dia harus seperti ini.
Dia harus seperti itu.

Sigh.
"Pap?"
"Oi?"
"Kayaknya lebih gampang cari pacar daripada cari pembantu."
"Hihihi..."

1 comment:

  1. susahnya berhubungan dgn manusia itu ya gini ya...krn dia tdk bermodal tombol yg tinggal klik, tp malah berpikir dgn caranya sendiri, tdk bisa diatur...hehehe,jadi inget tiap kali dulu aku ngomel ttg "kebodohan" pembantu, pak ubanku selalu bilang,
    " kalo dia pintar, mungkin dia memilih jadi dokter dan bukan pembantu..." oh noooo.....

    ReplyDelete