Saturday, April 21, 2007

Anak si Mami

Menjadi anak ibu saya itu susah. Dan itu bukan karena salah satu sifat keibuannya yang senantiasa muncul: cerewet. Ada hal lain yang lebih mendasar dari sekedar sifat cerewet. Eh, cerewet sih bukan sekedar yak?

Ibu saya itu tentara wanita. Iya, benar. Tentara. Yang pake baju loreng, berhelm baja, bersepatu lars dan bersenjatakan senapan. Sewaktu saya kecil -sebagai anak pertama dan perempuan satu-satunya- mainan saya bukan boneka, tapi bola, sepeda, dan tongkat. Tongkat itu bisa untuk maen kasti, maen perang-perangan, ngerontokin buah mangga dan jambu air, atau maen pukul-pukulan dengan anak tetangga. Maksudnya, saya mukulin anak tetangga. Ibu saya juga lebih bangga dan meneteskan air mata melihat saya jadi komandan kompi tim gerak jalan SD saya, daripada jadi juara lomba kartini. Ehm, ini mungkin ada hubungannya dengan semangat tahu diri dari beliau karena beliau sadar saya tak akan pernah bisa jadi Miss Universe walau segimana hebohnya saya operasi plastik.

Lalu bagaimana bisa menjadi anak ibu saya itu susah?
Begini.
Semua orang yang tak kenal ibu saya, biasanya berkomentar kalau saya ini -sebagai perempuan- sungguh njelehi. Saya ini perempuan tapi kok berangasan, cewawakan, sok galak, gedubrakan, cablak, sering nantang orang kelahi... walah... panjang lah catatannya.
Beberapa orang yang berjenis kelamin laki-laki biasanya akan berkata, "Dev, kamu tuh jadi perempuan yang lembut sedikit."
Sadar akan nasehat itu, biasanya akan saya menjawab, "belum pernah digolok, kamu?" dengan nada yang sangat lembut.
Kalau perempuan-perempuan lain biasanya gak akan komentar. Mereka pergi aja jauh-jauh.

Sementara itu, orang-orang yang kenal ibu saya malah berkomentar kalau saya ini kurang tangguh! Jauh lebih cemen dibanding ibu saya. Terlalu lembut. Klemar-klemer.
Suatu kali, seorang laki-laki anak buah ibu saya pernah bertanya. "De, kamu kok gak seperti ibu kamu sih? Kuat, energetik, tangguh, gitu?"
Saya cuma tersenyum. Dalam hati: pulang lewat mana lu?!

Sampai setua ini pun saya masih merasa susahnya jadi anak ibu saya. Mungkin karena ibu saya sendiri seringkali menginginkan saya punya dua kepribadian: yang perempuan asli (dicirikan dengan bisa memasak, berdandan rapi, dan tersenyum manis pada anak umur 2 tahun yang menumpahkan buburnya di baju kantor kita) dan yang jagoan kampung (dicirikan dengan kemampuan mengganti bohlam lampu yang mati, membetulkan pompa air, dan bertolak pinggang di hadapan selusin tukang copet sambil berteriak 'SAPA TADI YANG NYOPET DOMPET GUE?!)
Alhasil, di buku kenangan alumni kampus dulu, saya ditulis besar-besar sebagai manusia dengan multiple personality disorders. Beware!
Walau begitu, saya merasa kepribadian ganda saya lebih banyak manfaatnya daripada mudaratnya. Saya merasa saya lebih well-equipped dan tidak mengandalkan kalimat ajaib seperti, "ya, saya kan perempuan...."

Tulisan ini dibuat setelah mendengar komentar tetangga yang berkata kalau Hikari terlalu lembut untuk ukuran anak laki-laki. Apa anak mereka harus ditabok dulu oleh Hikari hanya untuk membuktikan kalau Hikari itu anak laki-laki? Hekhekekek.....

5 comments:

  1. walah...ini baru kereeennn...ibunya tentara woooiii...wakakaka...

    eh, dev..si fm kemana sih?

    ReplyDelete
  2. Saya merasa saya lebih well-equipped dan tidak mengandalkan kalimat ajaib seperti, "ya, saya kan perempuan...."

    mungkin ke depannya jadi bisa diganti menjadi, "YA! Saya Perempuan!"... dengan nada tegas dan suara lantang...

    selamat hari Kartini :)

    ReplyDelete
  3. Orang hanya bisa berkomentar, yang tahu sejatinya anak ya yang melahirkan. Iya toh? (semoga aku gak sok bijak). Syukur deh mbak, kalau Hikari lembut, lha anakku yang berumur 2,4 thn, dikomentari tetangga terlalu keras, susah dilarang dll. Aku sih diam aja, karen emang anakku hiperaktif. Yang penting, kedepannya nanti dia pasti jadi nak baik. Bravo Hikari, pertahankan sifat kelembutanmu!!

    ReplyDelete
  4. halaaah...yg penting idup n bisa nyenengin diri n orang....(kalo udah melotot gimana org lain mo seneng sih,ndang? dodolluah!)

    ReplyDelete
  5. itu si orang yang ngatain hikari terlalu lembut, mungkin udah kemakan cara-cara ipdn kali mak. berarti emang minta ditabok. :p *kompor itu indah jendral*

    ReplyDelete