Saturday, September 05, 2009

A Letter Unsent

Jalan raya Alternatif Cibubur selalu mampu mengalirkan perasaan ngeri setiap kali.
Entah kenapa jalannya yang mulus dengan lebar yang melegakan serta panjang yang tak berujung itu tak mampu menularkan rasa perkasanya pada saya.
Yang ada hanya kengerian.

Mobil-mobil melaju kencang berbekal klakson dan lampu besar.
Motor-motor dengan pengendaranya yang sepertinya tak kenal dengan kata 'mati', seakan tak mau kalah memacu motornya.
Bis-bis, baik yang besar maupun yang sedang, seperti sedang kesetanan tanpa peduli dengan penumpang yang dibawanya.
Truk-truk tanah berwarna hijau lalu lalang tanpa beban seakan ukuran mereka tak beda dengan mobil sedan di sebelahnya.
Motor, mobil, truk militer hilir mudik tanpa pernah lupa mengeluarkan suara menyuruh kendaraan lain menyingkir sejauh mungkin.

Dan di titik itu, jalan besar yang lebar dan panjang itu menikung.

Setiap hari, setiap kali saya melewati titik menikung itu, hati saya selalu berjanji.
Saya berjanji untuk mengirim surat kepada penguasa jalan untuk beramah hati.
Dalam surat yang saya hapal betul isinya itu, saya akan menulis...

Penguasa jalan yang terhormat,
Sudi lah kiranya anda membuatkan kami
sebuah jembatan penyeberangan
yang akan menghubungkan satu sisi tikungan
dengan satu sisi tikungan yang lain.
Kasihani anak-anak sekolah
yang harus terlambat masuk sekolah setiap harinya
karena tak mampu bersaing cepat
dengan mobil, motor, bis, truk, dan kendaraan lainnya
yang melewati titik tikungan ini.
Kasihani para ibu-ibu dengan anak-anak digendongan,
orang-orang tua yang lamban,
para tukang jualan bergerobak
yang selalu berlemah hati
saat harus menghadapi jalan lebar di hadapan mereka.
Para penguasa jalan yang berkuasa,
semoga Tuhan mengetukkan hati anda
dan menggerakkan kaki anda
untuk mencoba menyeberang
di tempat kami kehilangan keberanian kami.



Berhari-hari lewat.
Berminggu-minggu lewat.
Berbulan-bulan sudah.
Saya tidak menepati janji saya.
Janji untuk membuat surat itu
dan mengirimkannya.

Lalu hari ini, saat saya lewat di titik tikungan itu,
keramaian sedang terjadi.
Mobil, motor, bis, truk, dan para manusia berhenti bergerak.
Mereka berkerumun di satu tempat.
Tempat seorang kakek tewas berlumur darah
karena tersambar truk
yang lewat kencang
di titik tempat jalan mulus yang lebar dan panjang itu menikung.

5 comments:

  1. hopefully your unsent letter is responded unsently--the most impottant thing is that they fix it, right?

    ReplyDelete
  2. :(
    prihatn....

    paaaaling ngeri kalo mau nyebrang jalan. dari kost ke kantor bisa dua menit. tapi nyebrangnya bisa 15 menit sendiri. duh...

    dan pasti tempat saya nyebrang masih lebih sepi dibanding di tempat yg mba ceritain ini

    hati2...

    ReplyDelete
  3. sama dgn yg didepan skolah kita. minta zebra cross doang. tak terhitung murid yg kena celaka. :-(

    ReplyDelete
  4. iya,,,, bener banget ya mbak kasian banget yang anak sekolahan itu,,, apalagi bagi anak2 yang belom pintr nyebrang jalan,,, bisa bisa setengah jam sendiri disitu,,,,

    mbak lam kenal ya jangan lupa singgah ke blog saya :D

    ReplyDelete
  5. makanya de, u've gotta to be a mayor or something. supaya bisa perentah bikin jembatan

    ReplyDelete