Monday, November 19, 2007

Surat untuk Mama

Siang itu saya hampir kehabisan akal. Piring berisi nasi dan lauk pauk sudah sejam lebih tergeletak di atas meja. Belum habis juga isinya! Sementara itu, si pemilik piring sibuk berlarian kesana-kemari.

Setiap lima menit, selama sejam lebih, mulut saya sudah berbusa-busa meneriakkan perintah:
"Duduk diam!"
"Kunyah makanannya!"
"Makan yang benar!"
Satu jam berlalu, isi piring belum juga tandas.

Saking kesalnya, dan juga frustasi, plus bosan, ditambah gemas, saya tangkap Hikari yang sedang bergaya lincah menjadi SpongeBob. Saya pegang kedua bahunya, menurunkan mata saya se-level dengan matanya, lalu MELOTOT.

"Berhenti bermain! Duduk! Habiskan makanannya!"
Hikari cemberut.
"Dengar Mama?!"
Cemberutnya hilang. Dia tahu saya sedang murka.

Dengan patuh Hikari kembali ke meja makan dan menyantap makanannya dengan terpaksa. Satu jam kemudian baru selesai semua upacara menyebalkan ini.

Selesai makan, kami duduk menonton tivi. Hikari duduk di kursi terjauh dari saya. Ditangannya ada selembar kertas dan sebatang pensil. Semenit kemudian dia sibuk mengurek-urek kertasnya. Saya biarkan kesibukannya, dan sambil menenangkan esmosi saya mengalihkan konsentrasi ke film SpongeBob di tivi.

Sepuluh menit berlalu.
Saya menoleh ke Hikari yang sudah kembali berjalan mondar-mandir. Kami bertatapan sekilas. Dia lalu menghilang ke kamarnya. Tak lupa, ia menutup pintu kamarnya.

Lima menit kemudian.
Saya jadi merasa kehilangan si Kunyil satu itu. Saya bangkit dari kursi dan beranjak ke kamarnya. Saya ingin berdamai. Kaki ini pun melangkah ke kamarnya. Di depan pintu kamar, saya berhenti. Bukan karena pintu itu tertutup.

Ada sehelai surat di depan pintu.


Mau tahu isinya?


Mama TDA BL maras maras. KLO TDA BL maras maras, Mama BOLES MAASUK.
Terjemahan? Mama tidak boleh marah-marah. Kalau tidak (boleh) marah-marah, Mama boleh masuk.

Hari itu, saya habis ditertawakan Papap dan seisi rumah. Terutama Papap.

Siang bulan Oktober itu menjadi sungguh tidak terlupakan. Melihat surat Hikari itu, saya tidak menjadi marah. Mana mungkin saya bisa marah?! Saya malah terharu setengah mati.

Ini pertama kalinya Hikari menulis kalimat yang terangkai. Sebelumnya dia memang sudah sering menulis. Tapi hanya kata, seperti Dino, Dora, Hikari, Ari (yang kadang-kadang menjadi Air), Mama, Papa, dan lain sebagainya. Hari itu sungguh istimewa. Lebih istimewa lagi karena saya tidak pernah secara khusus mengajarinya menulis. Ternyata, kemampuannya menulis didasari dari kemampuannya membaca. Masih ingat metode membaca suku kata di badan ikan yang pernah saya tulis?

Sungguh saya tak menyangka metode itu akan memberikan dua hasil: kemampuan membaca dan menulis. Tapi nanti lah. Itu saya tulis di tempat yang lain saja. Sekarang ini, saya harus berkutat dengan surat-surat Hikari yang lain. Surat terakhirnya berbunyi begini, "Mama inget yaeh jangan marah marah. Klaw mama tida marah-marah, mama bolh mayn."

9 comments:

  1. gak jadi marah.. malah tambah terharu.. dasar anak-anak selalu saja bikin gemes hihihi

    ReplyDelete
  2. yang tulisan dia yang terakhir itu dia kasih pas lo chatting ama gue itu kan? :D :D

    protes tuh dia. mamanya "mayn" chatting mulu. :D :D

    ReplyDelete
  3. sudas sudahs....mamas JGN BL marasmaras lags...

    hyaaaa....hikarimu ituuu....ngakak gue

    *venus-susah-komen-nyaris-frustrasi*

    ReplyDelete
  4. hoho.. hikari kewl deh. kikikkikik...
    mama mayn nya sama ari saja ya..
    :))

    ReplyDelete
  5. huahahaha... Naila blom bisa nulis sih, jadi dia ngomong doang biasanya, "aduh Bunda, jangan marah2 dooong!"

    ReplyDelete
  6. wah dah lama ngga main kesini..pas main baca surat Hikari jadi terharu deh...

    wah harus mulai ngumpulin surat2 lainnya..

    Hikari Hebat ya...

    ReplyDelete
  7. Huahahahaha...lucu banget sih hikari..!! Cara tepat meredam kemarahan mama..

    ReplyDelete