Saturday, December 08, 2007

No Non-Sense Discipline


Saya cinta sekali dengan acara ini. NANNY 911.

Mami saya berkomentar, "Ya jelas! Kamu kan salah satunya!"
I took that as a compliment.

Favorit saya terutama adalah Nanny Deb, dengan motonya: No Non-Sense Discipline.
It's so me.

Bisa jadi si Mami saya benar 100% sewaktu beliau bilang I fit in perfectly in those Nanny things. Beliau pasti teringat masa-masa kamp konsentrasi saya dipenuhi pelanggan...

Sebelum saya menikah -dan punya anak, setiap kali ada anak yang misbehave di keluarga besar si Mami, maka tante-tante atau om-om, bahkan para sepupu saya, akan memperingati anak-anaknya yang bandel dengan, "kalau kamu gak bisa dikasih tau mama/papa, kamu mama/papa kirim ke rumah mbak De!"
Ada juga yang masih gak percayaan dan dengan sukses dikirim ke rumah kami.

Setiap kali ada acara keluarga dan pada satu titik acara itu menjadi chaotic akibat jumlah anak-anak yang berlarian dan berteriak melebihi jumlah orang tua yang ada (satu pasang orang tua punya lebih dari 2 anak), saya akan didaulat untuk menghadirkan ketenangan kembali.
Caranya:
1. Tangkap anak yang menjadi ketua gang.
2. Suruh dia berdiri dalam posisi baris di hadapan kita.
3. Suruh yang lain berbaris mengikuti di belakang si ketua gang.
4. Sebutkan daftar Don'ts dan May, sekaligus sebutkan juga daftar konsekuensi What Ifs...

Kesuksesan saya menangani para anak-anak aktif itu mungkin karena rasa kasih sayang saya pada anak kecil sangat rendah kadarnya. I just didn't (still don't sometimes) like kids. Saya selalu memperlakukan anak-anak seperti orang dewasa: ada action, ada consequence. Mungkin karena itu saya bisa menjadi raja tega dalam mendisiplinkan anak-anak. Or maybe I was just born with it. Or nurtured with it...

Pelajaran yang bisa saya dapat dengan menjadi kepala kamp konsentrasi adalah:
1. Kids are actually adults in mini size. (so you can actually TALK to them)
2. If kids are taught to behave well, the world can actually be a better world.
Tapi ada satu pelajaran yang selalu saya ingat hingga akhirnya saya menjadi seorang orang tua; Pelajaran Nomor Tiga:
3. Kalau kita tidak bisa mengajari anak kita untuk well-behaving, jangan sakit hati (dan menyalahkan) kalau ada orang lain (satpam, orang tua lain, orang dewasa lain, anak kecil lain, guru, sampai polisi) yang akhirnya mengajari anak kita.

Pesan moral saya kali ini: baca nomer 3 di atas. Or you can call Nanny 911. At least it's a friendlier approach than having people call the police...

foto dari sini

10 comments:

  1. rule nomer 3 itu kena banget...

    ReplyDelete
  2. Gue banget ini.....dan musuh gue banyakan orgtua yg tersinggung....

    ReplyDelete
  3. lha pemahaman well-behaving tiap keluarga kan beda-beda, buk... apalagi beda generasi pasti beda cara mendidik anaknya... gmana dong?

    *masih pusing kalo bersilat lidah ama mas dan adek*

    ReplyDelete
  4. @Neng:
    Setuju, tante! Tiap keluarga berbeda value, itu pasti.
    Tapi, pasti ada hal-hal yang significant yg saya pikir sih pasti seragam di tiap tempat dan budaya. Misal: respek terhadap orang lain (yg artinya jg gak boleh mengolok2 orang/anak lain). Sampai buang sampah sembarangan (hehehe... di Indonesia apa valuenya yak?). Behavior yg menjadi norms di masyarakat lah. Gimana?

    ReplyDelete
  5. gue demennya bukan nanny 911 tapi super nanny. sama aja sih acaranya. beda host aja.

    gue suka gemes sendiri ngeliat anak yang bandel bin ndableg. dan kok ya banyakan kasus anak2 begini nih karena terlalu dimanja dan dibiarin maunya apa.

    ReplyDelete
  6. saya termasuk guru yg galak di sekolah, tp untunglah blum ada ortu yg komplain dgn cara saya menghadapi anak2 mereka :D

    ReplyDelete
  7. hehehehe... itu deh, makanya anak gw lebih suka sama Bibi, soalnya Bibi susah ngelarang. sementara emaknya galak =))

    ReplyDelete
  8. kalo liat parasmu yg 'cool' itu, mana percaya dirimu galak.. :P

    http://raravebles.multiply.com

    ReplyDelete
  9. eman si hikari kena kedisplinan ntu gak hehe..keknya dia lebih raja ngles walo emaknya galak hahaha....

    ReplyDelete
  10. saya juga suka tuh acara, dari acara itu baru tau kalo kebanyakan makan yang manis-manis (gula, permen) anak bisa jadi super-aktif :D

    ReplyDelete