Monday, October 31, 2005

Lebaran Ini


Lebaran ini,


Maaf Lahir dan Batin




Terima kasih ya Allah,
Lebaran ini, kami tetap bisa bersama,
Papap, Mami, dan Hikari tersayang.

Terima kasih ya Allah,
Lebaran ini, kami tetap bisa berbahagia,
Walau tanpa sanak saudara,
Teman-teman disini menjadi penggantinya.

Terima kasih ya Allah,
Lebaran ini, kami tetap bisa bersyukur,
Walau tanpa ketupat dan opor ayam,
Sayur labu siam dan tempe mendoan tetap terasa nikmat.

Terima kasih ya Allah,
Lebaran ini, kami tetap bisa merasakan diri Mu,
Walau tanpa takbir yang bersahutan.

Terima kasih ya Allah,
Lebaran ini, kami tetap Engkau cintai.

Untuk teman-teman dan handai taulan, keluarga Hardian (Reza-Devina-Hikari) mengucapkan Selamat Idul Fitri. Maaf Lahir Batin.

picture: google image

Friday, October 28, 2005

EUREKA!

Rasanya seperti menemukan sepengki dunia baru sewaktu Papap menelpon dari supermarket.
"Mam, ada labu siam nih. Mo dibeliin gak?"
Sudah hampir setahun saya disini, oh, tapi saya baru ketemu wajah labu siam alias hayato sekarang. Eureka! Begitu lah perasaan ini berkata. Apa lagi udah deket Lebaran yang mana biasanya sayur godog beserta lontongnya selalu tersedia dirumah Mama-Eja. Alhamdulillah. Waktunya itu pas bukan main! Apalagi si Ully yang udah 2 tahun disini, gak pernah ketemu sama labu siam tersebut!
Sebenernya, hidup di Jepang sini sering berasa seperti menjadi cave man aja. Apa-apa, hal-hal yang kecil-remeh-temeh-tak-begitu-penting bila ditemukan, bisa menimbulkan euphoria EUREKA! Waktu Papap lagi ngidam bikin acar, ngidamnya harus ditunda karena gak punya cuka. Keliling-liling supermarket sana sini sampai beberapa kali hanya untuk menemukan 'the one'. Sampai kemudian, pada suatu hari, kita berhasil 'membaca' kanji cuka. Hari itu Papap pulang dengan senyum lebar.... Begitulah perjuangan kami si cave men. Kalo barangnya yang tidak ada, ya kanji or bahasanya yang tak terbaca. Sejauh ini daftar makanan eureka kita adalah labu siam, kangkung, kopi (iya, kopi yang rasanya pas di lidah gw), mie halal, bayam (yang namanya horenso), dan... ntar kalo inget ditambahin :) Yang menambah perasaan euphoria itu menjadi bertambah hebat adalah kalau semua barang diatas ditemukan di Honjo, di supermarket lokal, dan bukannya harus pergi ke toko Indonesia or Thailand di Tokyo. Begitu looh...
Bukan cuma makanan (apalagi yang terdapat di resep Indonesia) yang bisa bikin saya berteriak Eureka! tapi juga barang-barang lain seperti: plastik penyimpan pakaian yang kalo disedot dengan vacuum akan mengecil. Yang kemaren sudah menyelamatkan baju-baju kita waktu pindahan. Cocok untuk bepergian yang artinya koper bisa muat banyak karena baju-baju yang biasanya 'mumbul' bisa kempes. Benar Eureka!
Trus ada juga penyelamat jiwa saya yang bikin saya bisa bepergian kemana-mana (di Jepang maksudnya), dengan nyaman, tenang, tanpa lecet dan tetep modis (gak penting yak?! hehehe...), yaitu stocking cuma sebatas kaki bawah yang tumit stockingnya tebal sehingga anti lecet, seperti pada gambar di kanan ini. Sekarang saya bisa pake sepatu pantopel (begimana sih tulisan sebenernya?) tanpa harus pake kaos kaki dan... tentu saja tanpa lecet! Barang ini akan saya beli banyak buat persediaan di kampung nanti hehehe...
Lalu ada juga kantong berjaring yang disini terjual bebas, yang gunanya adalah agar untuk supaya baju-baju yang biasanya melar kalo dimasukkan ke mesin cuci menjadi alhasil waladalah tidak melar. Kaos bahan wool, kaos kaki, pakaian dalam yang biasanya kudu dicuci tangan karena tidak bersahabat dengan mesin cuci, berkat kantong jaring ini bisa menjadi teman setia mesin cuci. Sebagai info nih ibu-ibu, kantong jaring ini gak ada di Jakarta. Percaya deh sama saya! Jadi ceritanya begini: waktu mami saya membeli mesin cuci baru awal tahun ini karena mesin cuci setia kami selama puluhan tahun sudah ogah kerja lagi, di manual booknya yang berbahasa Inggris ada tulisan bahwa baju-baju yang bukan sahabat mesin cuci harus dicuci menggunakan jaring. Ada gambarnya segala loh. Masalahnya, menurut mas penjual mesin cuci di 'pasar modern' paling besar di Jakarta ini, jaring itu tidak ada dan tidak pernah ada di pasar tersebut. Pun setelah kita menyusuri pasar-pasar besar yang lain, tidak ada yang menjual jaring ini. Apakah karena si mesin pun bukan buatan kampung saya? Gak ngarti lah. Jadi, begitu saya menemukan kantong jaring ini disini, saya langsung menelpon mami di kampung.
"Mam, ada kantong begini gini gitu disini situ sini sana begitu begini loh."
Mami saya di kampung langsung pesan 20 biji dalam berbagai ukuran! Serius!
Masih tentang urusan mencuci, satu barang lagi yang juga membuat mata saya yang besar ini berbinar-binar adalah tentang gantungan baju. Wahai orang-orang kampung saya, disono ada gak sih gantungan model begini? Yang satu gantungan terdapat banyak jepitan sehingga menghemat tempat?! Saya sih dulu belom pernah nemu. Cita-cita saya, membawa barang berharga ini pulang kampung...
Image hosted by Photobucket.com Image hosted by Photobucket.com
Sebenernya ada banyak lagi barang remeh temeh begini yang pernah membuat saya berbinar-binar berdegup-degup berteriak-teriak EUREKA! Apalagi penemuan-penemuan yang canggih nan berguna seperti alat anti ketinggalan barang yang kalo kita beranjak pergi tapi kelupaan bawa handphone misalnya, si alat akan berteriak "No Cellphone". Disini banyak bertebaran saya temukan. Tapi karena saya takut agak ngeri dianggap pesan sponsor, saya kira cukup la yaw contoh kasus Eureka nya.
Moral ceritanya: Kenapa saya tak pernah menemukan barang-barang seperti tersebut di atas di kampung ya?

catatan: ketemu gambar labu siam dari google images. Gambar yang lain sih motret ndiri dong. Maapin juga bahasa saya. Sengaja, euy! :)

Tuesday, October 25, 2005

Trying to Fit In

I think it's just my luck that I can hardly go unnotice wherever I go. I'm talking about being brown-skinned with almond-shaped eyes in Japan. I always get stare from people whenever I walk. The stare ranges from the most polite ones to the obvious ones. I call it obvious when somebody turns his/her head 180 degrees just to be able to see me. Of course Papap and Hikari don't get this attentive attention as much as I do, for obvious reason: both are white-skinned with slanted eyes. They will only receive attention when they speak other languages than Japanese, or when they are seen together with me. Am I complaining? N-O. In fact, I feel awesome. I feel unique, indeed. It's like I'm walking on a catwalk and everybody is admiring.
Whoa!
Wake up, dude?! Get back to earth! :)

Anyway, now, I understand how those bules must feel when they walk around in Jakarta, being white and all. No matter how civilized a race is supposed to be, different is different. Period. Now, the problem comes when somehow I realize that no matter how understanding I am about this mental being, no matter how confident I am about my being, I still feel the urge to fit in. Yes, to fit in among the Japanese, so that I can feel nearly at home. Moreover, people say, when you are in Rome, do like the Romans do! Mission impossible?
Well, actually, I've got some things on my side. First, my size -height and weight- is exactly the same with the majority of women here. It is so heavenly easy to find clothing or shoes that fit me. I don't have to cut the length of my jeans, for example. Surprisingly, this doesn't happen in my home country. Back home, the clothes are either a little bit too big or too small. The pants are either a little bit too loose or too long. The shoes? What a nightmare! I seldom find my size easily. But here? It seems like every woman is my size. I am not too big or too small in Japan! I am just the average Japanese woman... (so, shopping is my middle name now)
Next, I fortunately can speak, write, and read a little bit of Japanese. Just a little bit, but enough to survive. This skill helps me a lot. The people here seem to draw closer when they know I speak their language. Another thing which is the same in Indonesia too, I think. I still can't figure out why, though?!
Then comes my hair. My hair is so helpless that no hair stylist can do something good about it. I am talking about having a nice hairstyle which the hair actually follow the line of the brush. My hair is so stubborn -like me- that it never shapes like I want it to. Every time there will be a lock that goes inside or outside. It always looks like I just get up from bed! It is always messy. It is always irregular. One of my colleagues used to say I needed to use strong gel to make my hair stay wherever I wanted it to. She said that just to make sure I got the message: do something with your hair! It looked so messy! But, that's in Indonesia. The sweet thing about hairstyling in Japan is the messier the style the better. And one more thing: black pitch hair is not considered fashionable here, so my not-so-black hair is okay. The people here mostly dyed their naturally black hair, anyway.
So, why is it still difficult for me to fit in? Is it because of my obviously brown skin? Is it because my hair is not dyed, but sunburnt instead? Is it because, although I definitely love tempura and soba, I can't stand eating sushi? (Yes, I can't stand sushi. Is it a crime?) Or is it because my Japanese proficiency is so low that it cannot be considered a proficiency?
Na-ah. I think I've figured this out wrongly. I am not in Rome, so it's no use to do like the Romans do.
Finally, I want to make the moral of the story like this: I cannot force myself to fit in anywhere in the world, even in my own country. My too-long-jeans story shows you that. So, I just make myself stand out, then.

Friday, October 21, 2005

Penggaris Beduk

Buka jam 5 sore lewat dikit, gw pasang tulisan "Buka Puasa! Alhamdulillah!" di YM. Eh, Pak Le' satu ini ngetok pintu.
"Kok udah buka?" katanya.
Dengan sumringah gw menjawab, "udaaaah duooonnnggg."
:b Moga-moga masih dapet rahmat-Nya, secara gw ria banget karena udah buka, gituuu...
Enaknya puasa di Jepang saat ini, myungkin karena:
1) Lagi musim gugur, bo! Dingin aja gitu! Gak berasa hausnya. Apalagi gw paling gak tahan haus. Dikit-dikit kebayang enaknya minum teh botol S dingin ditengah teriknya matahari Jakarta... Oohhh... surga!
2) Karena si Papap udah disetel dari kecil kalo buka biasanya makan snack kecil gitu, tiap hari dia ngebikinin kita bakwan, ubi goreng, dll dsb yang eeennnaakkk duong! Kenapa bukan gw yang bikin? Kan gw gak pernah disetel buat buka begitu... ;b
3) Jam 5 sore udah buka, n jam 4:30 baru beduk Shubuh. Itung-itungannya sih, gw puasa banyakan di jam tidur, gitu. Hehehe... Abis Shubuh tidur, bangun jam 7 buat nyiapin Hikari sekolah. Hikari brangkat jam 9, gw bablas lagi tidur sampe........ puas!!! :) Begitu melek, eh, udah mo buka, sayang. Ehm, sedapnya... :))

Nah, yang bikin gw sedikit meneteskan air mata dan banyak meneteskan air liur adalah:
1) Kangen sama suara beduk. Beduk imsak, beduk Shubuh, beduk buka (jelas!). Beduk Shubuh disini sih ada. Lewat internet gitu. Tapi suara orang berdoa lewat TOA pas masuk waktu imsak, jelas gak ada. Akhirnya, seringnya nih, si Papap ngejitak, "Woy, udah imsak! Masih nenggak aer aja!"
2) Kudu masak pagi buta seh! Biarpun masak cuman buat berdua (sisanya baru buat Hikari hehehe... gak ding!), biarpun masakannya juga seadanya semikirnya sebangunya, biarpun si Papap kalo makan bisa segala dimakan (iyalah, udah tau mami kayak begini, kalo gak gitu bisa kurus mengering), tetep aja kudu masak gitu.
3) Selain kudu masak pagi buta, ya, gw kudu masak gitu loh! Gak bisa langsung duduk di meja makan n langsung nyomot seperti pada masa keemasan dulu.
4) Terbayang betapa banyak persinggahan tempat gw bisa beli segala macam rupa makanan buat buka di kampung halaman. Pengen pulaaannggg.... cuma buat beli makanan aje!
5) Udah kebayang kalo Lebaran gak pake makan sambel goreng ati, sayur labu siem sepupu gw; rendang, ketupat sayur, sambel kering kentang, soto betawi Mama-Eja; ketupat, opor ayam dan kue-kue Mama; kerang, cumi, dan segala macam seafood yang dibeli Papa khusus di Muara Karang. Ada yang mo ngirimin kesini? Kita jadi sodara deh!
6) Acara buka puasa bareng yang bisa sampe belerot daftarnya. Disini, disana, disitu. Apalagi sambil dengerin ceramahnya Aa Gym. Sip dah!
7) Sholat tarawih rame-rame. Biasanya kalo tarawih di mesjid, jadi ketemu temen-temen yang walopun rumahnya sekomplek or sejalan, tapi gak pernah bisa ketemu muka.
8) Sholat Ied yang tinggal jalan kaki dari rumah, sekarang tinggal kenangan. Sholat Ied kita disini kudu keluar kota dulu, karena.
9) Ngerasain sepinya Jakarta? Gak deh. Disini juga sepi kok!

Loh kok lebih banyak menitikkan air mata dan meneteskan air liurnya? Yah, pokoke jam 5 sore udah buka puasa lah! Walopun Pak Le' berkomentar yang katanya, "Jamnya aja yang beda, penggarisnya sih tetep sama..." Kekekeks... good point, Rix!

Seperti biasa, gambar-gambar nyomot dari Corbis, tapi gambar piring kosong, nyomot dari Google image.

Love Conquers All

"The heart has reasons that reason does not understand."
Blaise Pascal


"I seem to have loved you in numberless forms, numberless times, in life after life, in age after age forever."
Rabindranath Tagore

the wait

It seemed
like years
before
I picked
a bouquet
of kisses
off her mouth
and put them
into a dawn-colored vase
in
my
heart.
But
the wait
was worth it.
Because
I
was
in love.
Richard Brautigan



THROUGH LOVE all that is bitter will sweet

Through Love all that is copper will be gold.
Through Love all dregs will turn to purest wine
Through Love all pain will turn to medicine.
Through Love the dead will all become alive.
Through Love the king will turn into a slave!
Jalaluddin Rumi



"If I know what love is, it is because of you."
Herman Hesse
"Love conquers all."
Virgil
October 3, 1991
October 14, 2001

Thursday, October 13, 2005

CINTA

3 Oktober 1991, pada suatu siang hari Kamis yang berdebu di pinggir jalan di bawah halte bis perempatan Salemba, Matraman, Pramuka, teman baikku satu sekolah yang masih berseragam putih abu-abu itu bilang kalo dia suka padaku... aahhhhhh... Lalu sejak itu berpacaranlah kita.
Setiap ada kesempatan, pacarku itu selalu memberikan aku kartu. Isinya? Rahasia dong! :) Ada kartu Valentine, ada kartu Selamat Ulang Tahun, ada kartu Selamat-Jalan-ke-Luar-Kota, ada kartu Pokoknya-Romantis-Walau-Tanpa-Event, ada kartu Selamat-Membaca-Taiko untuk buku yang dia beli buatku, dan banyak lagi. Kalau tidak kartu, pacarku itu suka memberi aku kaset-kaset yang lagunya dia pilih sendiri. Semua kartu dan kaset-kaset itu, tetap aku simpan sampai sekarang. Bukannya diriku sentimentil, tapi buat mengingat kalo pacarku ini pada suatu masa pernah sangat-sangat romantis... hehehehehe....
Selain itu, setiap tahun, pacarku selalu memberikan aku cincin perak. Sampai sahabatku yang waktu itu masih culun (beneran Lin, asli culun!), berkomentar kalo kami bisa pacaran sampai 10 tahun, aku akan tampil layaknya lady rocker dengan cincin perak memenuhi kesepuluh jari tanganku... huahahaha.... Ternyata, kita benar-benar pacaran sampai 10 tahun! Dari tahun 1991 sampai 2001 tanpa ada terucap kata putus yang menakutkan itu...

Lalu pada tahun 2001, 11 hari dari Anniversary jadian kita, tepatnya hari Minggu sore, tanggal 14 Oktober, kita pun menikah. Habis bingung mo ngapain lagi? kekekekeks... Dan hari ini, 14 Oktober 2005, sudah genap 4 tahun kita menikah. Alhamdulillah. Mantan pacar yang sekarang bernama Papap semalam berucap semoga ini untuk selamanya, Amien.
Berbeda dengan cerita-cerita dalam sinetron, tidak ada perayaan untuk ulang tahun perkawinan tahun ini karena Papap harus pergi ke Tokyo. Tadinya sih kupikir dan hampir kurencanakan, akan ada perayaan kecil-kecilan seperti buka puasa diluar atau jalan-jalan naik sepeda melihat-lihat pemandangan Honjo yang masih sama itu. Tapi... si Papap harus pergi ke luar kota (read: Tokyo itu luar kota!). Lalu, melamunlah aku berharap mungkin (dengan huruf besar) pulangnya suami tersayangku akan membawa sekotak coklat yang manis, serimbun bunga mawar merah, sekerjap cincin permata raksasa, atau semengkilap mobil mercedes ;b Untunglah, dia pulang membawa selamat!

Tapi... apa itu di kantung kresek yang dikeluarkannya? Oleh-oleh romantis kah?Ugh, ternyata si tercinta ini pulang membawa sambal dan dauh sereh, hasil beli dari toko Indonesia di Tokyo................... Hebatnya, aku tidak ngambek! Apalagi marah. Walaupun dalam hati berharap-harap romantisme Papap kambuh lagi. Tidak perlu kartu, kaset, cincin, mobil, kondominium. Kupikir segenggam mawar merah pun jadilah. Kenapa Pap? Tidak segenggam? Oke... sebatang? Ugh! I should have known better! Sejak jamannya pacarku masih romantis sampai suamiku menjadi realistis, dia -sepertinya- alergi memberi aku bunga. Dari bunga rumput sampai bunga mawar -yang dia tahu banget(!) adalah kesenanganku- tidak pernah diberikannya padaku! Padahal, oh padahal, aku sungguh-sungguh mencintai bunga mawar.... Tapi dari semua bunga mawar ataupun bunga-bunga yang lain, terkecuali bunga Bank, yang pernah aku terima, tidak ada satupun yang bersidik jari dirinya. Aku sudah mencoba meminta dari cara yang sangat simbolis sampai yang benar-benar ironis: "Pap, itu ada bunga mawar di situ, beliin aku deh!" Semua cara tak mempan. Paling-paling dia menyuruhku membelinya sendiri. Papap, oh, Papap!? Demane romantesnya beli bunga mawar buat dere sendereeee????!!! Untunglah, untuk melipur lara, Papap kemudian mengajak nonton film bersama. Romantis?

Nggak lagee! Dia ngajak nonton film hantu the Grudge yang walaopun isinya tentang hantu penasaran yang mati menderita karena cinta, film itu benar-benar-benar TIDAK ROMANTIS! Seperti mengamini ucapan favorit Papap: yang penting kan dalam hatinya!

Jadi, sudah dululah bahasan tentang cinta pada hari ini. Aku akan merenungi dengan penuh syukur dulu hari indah ini. Aku juga akan mensyukuri bawaan Papap hari ini, karena aku memang butuh daun sereh untuk masakan hari ini. Dan sambalnya? Ah, mana sedap makanan kita tanpa sambal. Ehmm... ternyata Papap yang sudah realistis itu masih sangat romantis: dauh sereh untuk makan, sambal sebagai bumbunya dan senyum manis Papap?! Apa ada hal yang lebih romantis dari itu? Tentu tidak!

Nah, sampai posting berikutnya yang masih dalam rangka anniversary. Aku sudah merencanakan menulisnya, sebenarnya. Tapi karena kejutan indah hari ini, semangatku menjadi menurun dan kata-kata yang tadinya telah terukir di jari tangan menjadi menguap. Aku obati dulu semangatku, dan... saya akan kembali!

Papap: "Aku titik titik padamu loh."

Mami: "Iya, iya, tapi tuuuuuut nya mana sihhh?"

Papap: "Nih, ada di hati."

I Don't Do Numbers!

Di kampus, Papap dapet jatah koran The Asian Wall Street Journal gratis. Bukannya seneng, dia dan beberapa temennya malah bingung. Secara mereka kan mahasiswa komputer gitu loohh... Ini namanya rejeki buat Mami. Bisa baca koran bahasa Inggris -bukan Jepang- gratis pula, tiap hari pula. Gak pa-pa lah itu koran, koran ekonomi. Sedikit banyak ada berita di luar ekonominya.
Iya, gw emang agak-agak menjauh dari hal-hal yang berbau ekonomi. The reason is simply because I don't do numbers! Entah kenapa, gw bisa begitu bego-nya bila berhadapan dengan angka! Makanya, gw gak pernah bisa inget how much A costs in place 1 and how much A costs in place 2. Kalo mo beli, hayo, beli aja. Gak usah pake mikir disana disitu harganya lebih murah berapa. Toh ongkos tenaga kesana n ongkos waktunya bisa lebih dari beda harganya. Kira-kira begitulah. Gw juga susah ngapalin nomer-nomer seperti nomer telpon sampe gw gak inget no hp gw. Kalo Papap, abis liat-liat barang di toko A, trus di toko B ketemu lagi, dia suka nanya, "Tadi disana brapa?" Jawaban gw tetep sama berpuluh-puluh kali, "Gak tau. Gak inget!" Herannya, tiap kali, Papap tetep aja nanya gitu ke gw. Udah setelannya gitu kali.
Waktu sekolah dulu juga paling bego di Matematik dan sodara-sodaranya, sebangsa Akuntansi gitu. Pernah dapet big NOL buat Akuntansi di SMA, tapi gw gak berasa sedih tuh ;b Biasa aja. Gak ngerti kenapa lajur kanan harus sama dengan lajur kiri. Kenapa gak bisa bikin satu lajur aja? Pernah juga dapet 100 buat Matematik di SMP, sampai nangis serasa gak percaya. Temen-temen gw aja ikut gak percaya, sampe ada yang cross-check sama gurunya, apa bener gw dapet 100?! Pernah juga dapet 10 buat Stastitik di kuliah, tapi yang laen dapet 100... hehehe... Itu juga gw kuliah salah masuk jurusan. Gw pikir dengan milih Manajemen, gw gak berurusan sama Math, ternyata semester pertama gw berhadapan dengan Math dasar dan Statistik!! Ahhh, aje gile! Matematika dasar, herannya bisa lulus. Statistik? Hehehe, butuh perjuangan di semester berikutnya. N waktu jaman masih kerja, ada 2 bos yang dulu pernah komen karena putus asa kalo harusnya kmaren itu tes psikotes gw kudu dipakein tes matematik... Maap Pak, Bu. Udah bawaan... Jadi inget bos TH pernah pasrah negor, "Ya, gw ngerti elu don't do numbers. Tapi 1 + 1 kan tetep 2, dong, Dev." hihihihihiiii....
Terakhir, gw ngikut English Proficiency Test, gw kesedak di nomer sekian yang bukannya ngetes grammar, ato vocab, malah nanya: kalo si C maen basket 3 kali seminggu, berapa kali dia maen basket dalam sebulan......... Aaaarrrggghhh! Apa-apaan neh?! Soal itu udah sukses bikin konsentrasi gw ilang, n bikin temen gw yang-suka-bilang-eniwei ketawa ngakak di tengah-tengah ujian. Sukses dia geli inget gw yang gak bisa ngitung?!

Balik lagi ke koran tadi, di koran hari selasa tanggal 11 Oktober 2005 di halaman pertama ada berita "American, Israeli Win Economics Nobel". Trus beritanya: Schelling, Aumann Garner Award for Contributions To Field of 'Game Theory'. Bukan berita Nobelnya yang bikin gw berenti ngebalik halaman penuh berita ekonomi ini. Cuplikan GAME THEORY nya yang bikin gw terkenang-kenang masa kuliah dulu. Masa kuliah yang tahun-tahun awalnya bikin gw berdarah-darah karena harus berhadapan dengan angka! Ya, di kuliah dulu, Game Theory ini jadi kosakata harian. Tiap kali ada aja dosen yang nyebut. Game Theory itu kata the AWSJ adalah the study of strategy and how people make decisions when interacting with each other. Selengkapnya bisa liat disini. Nah, waktu kuliah ini dulu, gw sering senyum-senyum sendiri ngartiin Game Theory. Jadi jaman itu, temen-temen gw sering manggil gw 'batu', karena gw ya kayak batu aja. Gak peduli orang mo jungkir balik, gw ya begitu aja. Suatu kali, gw -critanya- jualan lipstik impor, hasil titipan tante yang jadi pramugari. Namanya gw tuh idiot besar kalo jualan, gw tanya para kawan kanan kiri, ada yang mo beli/gak. Gile, sepi bo! Hampir gw tawarin cowok-cowok kampus. Trus, temen baek gw, yang aselinya dari daerah yang terkenal dengan kepiawaiannya menjual, gemes liat cara gw jualan. Kata dia, "Sini gw jualin, tapi gw minta satu yak!" (hehehe... temen satu itu memang paling-paling lah). Tiba-tiba, begitu dosen selesai bilang "oke, hari ini sampai situ dulu, selamat sore!", temen gw ini udah berdiri di tengah-tengah kelas, n teriak, "Eiy, cewek-cewek, ada yang mo beli lipstik gak? Luar negeri punya nih! Bagus-bagus warnanya. Murah lagi! Ayo sini!" Trus dia absen satu-persatu cewek di kelas (padahal ceweknya juga cuman dikit). Ajaibnya, semua langsung dateng, n langsung beli! Termasuk para cowok yang ngebeliin pacarnya! Huaaahhhh!? Sementara gw udah brapa hari gitu jualan gak laku-laku... nginyem abis! Singkat crita, gw kasih selamat si teman.
Gw: "Hebat lu! Jualan modal teriak begitu langsung ludes!"
Temen: "Elu lagi, jualan pake malu-malu! Mana laku!"
Itu teori dia. Gw jualan malu-malu. Katanya dia lagi, kalo mo jualan liat pasar dong. Tipe n kelakukan pasar kayak apa. Nah trusnya, si penjual yang kudu me-metamorfosis diri semaksimal mungkin supaya bisa mengadopsi kelakuan pasar. Hebat emang dia! Semua teori di kelas udah dipraktekin tanpa basa-basi. Mangkanya bisa lulus dengan IPK 3 koma. Gw? Bisa lulus. Terima kasih Tuhan! Game Theory!

Wednesday, October 12, 2005

Apa Yang Berbeda?

Yang tersisa dari pindahan kemarin, adalah perasaan geli. Iya, geli. Sepertinya ini bukan pindahan. Bukan permanent. Cuma holiday. Liburan sedikit, away from home. Aneh ya?! Tapi kayaknya si Hikari berpendapat atopun berperasaan sama. Pada hari H pindahan, dia naik bis sekolah dari tempat yang lama, tapi pulang ke tempat yang baru, lalu menangislah dia dengan kencang. Sampai semingguan dia masih merajuk minta pulang 'ke rumah Ari yang tinggi, Ma'. Apalagi kalo kita belanja, secara semua tempat belanja itu disekitaran apato yang lama, Hikari akan menangis lagi kalo kita 'ternyata' tidak pulang ke apato itu, walopun sebenernya jarak antara apato dengan dorm paling-paling cuma 1 kiloan. 15 menit naik sepeda santai. Udah begini, paling yang dongkol cuma Papap. Untungnya Papap kalo dongkol diem aja. Jarang ekspresif. Jadi biar ajalah dia dongkol... hehehe.... Peace, Pap!
Mungkin perbedaan yang ada di dua tempat tersebut (atau ini?) yang bikin perasaan belom berkompromi. Beda pertama, apato yang lama lebih tinggi. Satu lantai saja. Di lantai 3. Kalau urusan naik tangganya, jelas di dorm ini lebih enak: kamar di lantai 2! Di tempat yang lama, kita menyebutnya apartment or apato, karena walopun bentuknya sama-sama gedung seperti dorm ini, setiap 'house' terpisah dengan tetangganya. Begitu keluar dari rumah, langsung 'pekarangan'. Well, karena di lantai 3, yah pekarangannya ya koridor. Di dorm ini, ketika keluar 'room', tidak langsung pekarangan karena masih di dalam gedung. Bayangin satu gedung besar yang dalamnya dibagi-bagi menjadi berpuluh-puluh kamar (lihat foto gedung dibawah). Ada kamar yang besar -seperti punya kami, ada yang single room. Untuk keluar ke pekarangan dorm, ya harus melalui pintu public lain lagi, liat aja foto Papap sedang pose di pintu keluar dorm di bawah ini. Privacy? Individuality? Jelas lebih tinggi di apato. Tapi, hidup di apato seperti tak bertetangga. Jarang sekali ada interaksi dengan tenant lain (walopun mungkin Barb bakal berkomen: kayak elu mau interaksi aja! kekeks). Bahkan tetangga sebelah rumah pun gak pernah terlihat seperti apa bentuk rupanya. Kira-kira begini gak ya rasanya tinggal di Perumahan Elit Pondok Indah, Sept, Romo? Tentu aja kalo di dorm ini lebih banyak kawan. Secara kawan semua emang tinggal disini hehehe...
Kemudian, kalau Hikari biasanya bisa berlari-lari dari kamar yang satu ke kamar yang lain di apato, di dorm ini, sejauh-jauhnya dia berlari, ya mentok dari dinding yang satu ke dinding yang lain. It's a room. With big A. Not roomS. Iya, di tempat tinggal yang sekarang ini kalo lagi bete, ya harus keluar ruangan. Pergilah ke common room. Tidak bisa tinggal di dalam kamar, kecuali mau berbete ria di kamar mandi -satu2nya ruangan 'lain' yang berbatas pintu. Mungkin itu juga yang bikin Hikari kehilangan 'taman bermainnya'. Sebenernya kasihan dia. Dalam waktu kurang dari setahun ini, dia harus bisa beradaptasi dengan 3 tempat tinggal: dari rumah berkamar banyak dengan kebun di kiri-kanan-depan-belakang, ke apato berkamar 2 tanpa kebun, lalu pindah lagi malah ke kamar yang masih tanpa kebun! Jadilah, kalo Hikari mau bermain, kita bawa ke lounge yang bisa dipake buat ngerumpi, maen bola, maen pimpong, nonton tivi, sampe pesta-pesta, atau sekalian keluar dorm, maen di pelataran parkirnya. Namun senangnya, yang pasti, di dorm ini, udara lebih segar! Sangat segar! We're on top of a hill surrounded by trees, forest, and rice fields. Spoilernya adalah walopun, seperti juga Roma, ada banyak jalan ke dorm, tapi gak ada jalan yang mendatar! Jadi kita kudu menggenjot sepeda kuat-kuat tiap pulang ke dorm... ato kalo gak kuat, yah ditenteng lah sepeda itu! Abis bis -apalagi angkot- gak lewat depan dorm. Ada juga bis kampus yang jadwalnya gak temenan banget, either too early or too late. So, this dormitory is a perfect place for getting a healthy body, mind, and soul... (guys, I'm being cynical here!). Ngomong-ngomong soal healthy body, urusan mencuci dan menjemur pun bisa bikin badan sehat, karena 1) public laundry ada di lantai 1, 2) kamar kita di lantai 2, 3) tempat jemuran umum ada di lantai 3. Kebayang kan? Trus, soal masak-memasak disini juga agak lebih lama. Kompor cuman satu, euy! Kayak pengaruh amat gitu ke gw yak?! hihihihi... Tapi iya nih, kompor cuma satu n kompor listrik. Seblomnya kan kompor gas dengan 2 'lobang' :) Udah gitu beberapa perkakas masak juga harus dipensiunkan karena gak bisa dipake di kompor listrik. Terpaksalah harus mengurangi memasak... huahaha...
Anyway, kemaren beberapa teman di kampung bertanya, kenapa juga kita harus pindah? Jawabannya, talking about having a nice-fully-furnished place with very cheap rent and free internet, phone, water, gas, and electricity, this place is just the purrrrrrfect place. Apalagi kampus Papap n sekolah Hikari cuman selemparan batu dari dorm. Cuman kegiatan shopping mami aja yang harus dikorbankan, kecuali kalo mami rela ngabisin napas nanjak bukit sambil ngegeret sepeda tiap pulang shopping. Diluar masalah luas (or malah sempit) nya ruangan, jalanan yang menanjak, dan rasa betah pada apato lama, I have nothing to complain about. Although I realize, being me, I'm not finished till my whining is... hehehe...

Satu pelajaran yang gw dapet dari tinggal di rumah-rumah Jepang yang kecil tapi comfy ini, adalah persepsi gw yang berubah tentang rumah 4L di Indonesia. Rumah 4L, tau kan? Lu Lagi Lu Lagi yang bahasa resminya Rumah dengan banyak S: Sesungguhnya-Sungguh-Sangat-Sangat-Sederhana-Sekali. Kenapa harus disebut sederhana? Karena kecilnya, kah? Talking about small house, you have no idea what small means! Buat gw sekarang, size doesn't matter 'that' much anymore. Look at us! 3 persons living in a 29-meter-square-size room. And we live!

Sunday, October 02, 2005

Papap Ulang Tahun

Hari ini Papap ulang tahun! Umurnya udah tua, lah. 31 kalo di catatan aslinya. 32 kalo di catatan tidak aslinya ;b
Mami bingung mo kasih kado apa buat Papap, soalnya Papap selalu bilang gak perlu ngebeliin kado. Walopun kalo dikasih juga gak nolak deh. Tapi tahun ini, berhubung lagi pusing-pusingnya dengan pindahan plus cost-nya, Mami jadi beneran gak ngasih kado (alasaaannn aje... hehehe).
Pada tanggal 2 Oktober 2005 jam 24:00 waktu Honjo, Mami menyanyi-nyanyi kecil saja. Kecil saja. Takut ngebangunin tetangga sebelah, karena. Mami nyanyi-nyanyi lagu wajib untuk ulang tahun. Hikari, yang tumbenan belum tidur, jadi ikut ketawa-tawa dan nyanyi-nyanyi. Eh, Papap juga ikut nyanyi. Akhirnya kita bertiga jejingkrakan sambil pegangan tangan menyanyi lagu wajib ulang tahun. Hmmm... boleh juga dicoba lain kali. Hemat dan menyenangkan!
Nyanyi-nyanyi itu acara pertama di ulang tahun Papap. Kemudian, paginya, mami kursus dulu di Honjo Cultural Center. Siang-siang, Papap dan Hikari menjemput seperti biasa. Lalu kita makan siang di restoran kare yang ueeenaaakkkk! Habis itu belanja kesana-sini. Iya, musti belanja kesana-sini untuk urusan kamar baru ini. Selesai belanja, kita makan es krim dulu di supa. Es krim nya juga ueeeeenaakkk, apalagi di luar puanassss buanget!
Gak berasa, udah sore aja pas kita pulang. Sempet foto-foto dulu untuk mengabadikan tampang Papap yang ke-31 dan 32.

Image hosted by Photobucket.com Image hosted by Photobucket.com

Image hosted by Photobucket.com Image hosted by Photobucket.com

Image hosted by Photobucket.com Image hosted by Photobucket.com

Honjo sedang musim gugur. Sawah-sawah di kaki bukit tempat dormitory berada pun sudah menguning. Cantik sekali. Buat foto. Apalagi kalo ditambah Mami pose. Tapi hari ini hari Papap pose. Plus Hikari, tentu saja, yang tiba-tiba jadi seneng pose.
Sebelum menanjak ke dorm, kita foto sekali lagi di 'tugu' Waseda Honjo. Baru lah kita ngumpulin tenaga buat nanjak. Sampai di kamar, ternyata Papap menjamu kita dengan masakannya: bakwan goreng! Huah, enak Pap! Sering-sering aja! Hehehe...

Image hosted by Photobucket.com Image hosted by Photobucket.com

Image hosted by Photobucket.com Image hosted by Photobucket.com

Happy birthday Papap sayang. Semoga sukses selalu dan ..... cepet lulus! :)