Showing posts with label Words of Wisdom. Show all posts
Showing posts with label Words of Wisdom. Show all posts

And then we get inspired...

Kali ini saya ingin bicara soal jenis-jenis manusia yang bisa menginspirasi orang lain. Biasanya orang baik dan hebat (baca: pintar, pemberani, saint-like heart) memang dapat dengan mudah membuat orang lain terinspirasi: Mother Theresa, Pak Budiono, Barrack Obama, sampai para hollywood superhero di tivi. Lalu ada orang-orang hebat lainnya seperti Bung Karno, bahkan Pak Harto, lalu Hitler, sampai Einstein.
Sayangnya, kebanyakan dari kita dilahirkan jadi manusia biasa yang masuk kategori lagu 'rocker juga manusia'. We get angry, we curse, we swear, we fight, we kick the dustbin... Lalu kapankah giliran kita untuk menjadi inspirasi orang lain?

"Yeah, right, De'. Menginspirasi orang lain? Menginspirasi diri sendiri aja susah!"
Pernah nonton Sue Sylvester di Glee?

There's not much of a difference between a stadium full of cheering fans and an angry crowd screaming abuse at you. They're both just making a lot of noise. How you take it is up to you. Convince yourself they're cheering for you. You do that, and some day they will. And that's how Sue C's it. (Sue Sylvester)


Saya sedang keranjingan nonton Glee. Bukan untuk mendengarkan lagu-lagu lawas yang dinyanyikan lagi di seri itu, tapi untuk menonton seorang Sue Sylvester, pelatih klub cheerleaders yang sangar, kasar, dan menyebalkan. Menonton karakter Sue, saya melihat betapa seorang yang menyebalkan dan jelas bukan saint-like bisa sangat menginspirasi.

Menginspirasi?
Kok bisa seorang manusia menyebalkan seperti dia menginspirasi orang lain saya?
Buat saya, sosok Sue disitu melambangkan kebenaran yang seringkali pahit. Life sucks, reality bites, but that's a fact. What you are going to do about it is what matters.
Sue juga melambangkan keteguhan hati dan kekuatan mental. Saat dia bilang, "Never let anything distract you from winning. Ever." Sue sedang mengajarkan bahwa being a winner requires an attitude. Winning is an attitude, itself.

Menurut saya, seseorang yang mampu untuk menginspirasi orang lain adalah seseorang yang mampu berpikir, bertindak, mempunyai visi, lebih besar dari dirinya sendiri. Buat Sue, winning is everything. Walaupun motifnya untuk menang bisa jadi menyebalkan dan self-centered, kemenangan itu toh kemenangan seluruh sekolah. Menjadi orang yang menyebalkan itu gampang. Menjadi orang yang menyebalkan tapi bisa membuat satu sekolah menang, itu menginspirasi.
Setelah itu, seseorang yang mampu untuk menginspirasi orang lain adalah seseorang yang, seperti kata Simon Cowell, berbeda. Visinya berbeda, caranya bertindak berbeda, caranya berpikir berbeda. Seorang penyanyi bisa saja punya suara bagus tampang cantik, tapi ada ribuan orang lain dengan suara bagus dan tampang cantik. Distinguished, different, unique, one of a kind, kata Simon Cowell.

Jadi, kesimpulan sementara saya, karena saya bukan Bung Karno dan bukan Mother Theresa apalagi Einstein, apabila saya ingin jadi orang yang bisa menginspirasi orang lain, saya harus punya visi yang lebih besar dari diri saya sendiri. Selain itu, saya juga harus unik, beda, gak biasa. Karena kalau tidak unik dan hanya biasa saja, semua orang juga bisa. Bukan begitu?

catatan: tentu saja tulisan ini hanya teori. Prakteknya saya malah belum pernah menginspirasi orang lain... *tersenyum kecut*

Bosan juga Manusiawi

Si Mami bilang saya pembosan.
Jelas saya protes!
Saya bilang pada Mami kalau saya ini pembosan nggak mungkin lah saya pacaran dengan Papap sampai 10 tahun dan masih tahan menikah dengannya sampai 7 tahun kemudian. Eh, ternyata kata Mami, dia tidak sedang membicarakan saya dan Papap, melainkan beragam merek pelembab muka yang berjejer nganggur di meja rias saya...

Di luar soal pelembab muka yang memang berjejer nganggur di rumah, saya bisa pastikan saya ini bukan jenis manusia pembosan. Ambil contoh soal pacar. Saya nggak bosan punya pacar Papap sampai 10 tahun. Urusan dia ternyata bosan sama saya, ya, masalah dia toh? Lalu, bagaimana mungkin saya ini pembosan kalau saya masih memakai baju yang saya beli 7 tahun lalu? Ya, kan? Atau sepatu? Saya jarang ganti sepatu selain karena sepatu saya rusak. Karena saya selalu memakai sepatu jenis boots, ya, biasanya lebih dulu sepatu itu berubah warna daripada rusak beneran. Alasan lain, sampai sekarang saya masih bekerja di perusahaan yang sama sejak 11 tahun lalu. Yah, walaupun soal yang terakhir ini mengandung unsur kebodohan sekaligus sentimentil dari pihak saya, fakta terakhir ini jelas mengukuhkan karakter saya yang bukan pembosan.

Bicara soal bosan, si Mami pernah hampir batal puasanya tahun lalu gara-gara pembantu rumah tangganya. Ceritanya si pembantu minta ijin pulang kampung jauh-jauh hari sebelum Lebaran dan bilang ke Mami kalau dia tidak akan balik lagi. Pertanyaan Mami kenapa mau pulang cepat dan nggak balik lagi dijawab singkat oleh si Embak.
"Bosen, Bu."
Kejadian setelah itu lebih baik tidak saya ceritakan demi terciptanya perdamaian dunia. World Peace.

Sekarang, saya mau pindahkan setting si embak tadi ke kantor kita (Iya, kita! Elu juga!). Salah satu alasan kenapa kita berniat pindah kerja adalah karena kebosanan itu. Bosan dengan pekerjaan yang itu-itu aja. Bosan dengan kolega yang itu-itu aja. Bosan dengan model berantem yang itu-itu aja seperti pada pengalaman pribadi saya. Bosan dengan bos yang itu-itu aja (Bos itu pasti gak pernah dipromosiin). Bosan dengan gaji yang segitu-gitu aja. Bosan dengan lokasi kantor yang enggak pernah pindah ke Bali. Bosan dengan makanan kantin yang dari Senin sampai Jumat nggak pernah berubah menunya. Pokoknya bosan! Pengen ada tantangan! Well, if boredom is human, so is challenge.

Sekarang saya mau menanyakan pertanyaan 1 juta dollar (karena biaya saya berobat setelah dikeroyok anda rame-rame mungkin bisa mencapai sejumlah itu).
Pertanyaannya: Apakah kebosanan itu sendiri etis dijadikan alasan untuk pindah kerja?
Memang ente tahu di kantor baru ente nggak bakal kena penyakit bosan juga?
Memang ente yakin tantangan di kantor baru akan membuat ente jauh lebih berasa hidup?
Atau jangan-jangan kebosanan itu sendiri sebenarnya adalah wujud ketidak mampuan kita untuk mencari tantangan di pekerjaan kita yang sekarang?
Apakah kita bisa mencari tantangan di pekerjaan yang baru?

Jawabannya jelas balik lagi ke motivasi kita masing-masing saat memutuskan untuk pindah kerja. Bosan nggak bosan, tantangan ada atau enggak, yang penting gaji lebih gede. Misalnya. Bosan nggak bosan, kantor sekarang lebih dekat rumah. Bosan nggak bosan, yang penting gue nggak ketemu muka lu lagi! Dan seterusnya. Semuanya alasan yang manusiawi seaneh apapun motivasinya. Hanya saja, call me old-fashioned, but I value someone based on his/her motive shown by his/her reasoning. Seperti juga si Mami yang langsung me-black list pembantunya itu (yang 2 bulan kemudian minta balik lagi ke si Mami) yang menilai karakter si embak dari alasan yang diucapkannya. Karakter kita pasti akan dinilai orang saat alasan-alasan keluar dari mulut kita.

Balik lagi ke soal bosan. Terkadang kata bosan keluar hanya untuk mencari jalan tersingkat untuk menyediakan alasan. Sementara alasan bahkan masalah yang sebenarnya malah tidak terselesaikan. Bukan begitu?

Is it too difficult to appreciate others?

If you guys read my previous post, you probably remember that just recently I was busy with a project. Actually right now, I am in the state of enjoying the end of that project's frenzy. I am vacationing my thinking and emotional organs and in the middle of considering taking a week off. Now, let's go back to Saturday.

Saturday morning, the same like you guys, I also watched the news about our police trying to capture the number 1 terrorist in Indonesia. I knew about the whole drama quite later than perhaps most of you. Although I was quite confused on why it took 18 hours to get 1 guy, I was glad they got him anyway. It's like... it's about time!

Then, the second news shocked me more when I learned that the police seized a hundred something kilos of bomb from Jatiasih. Jatiasih? It's like our front yard!
You see, Jatiasih is really near to my house. My parents also live in one part of Jatiasih. And the fact that those people were planning to do Mr. President's house is very terrifying to me. My son goes to the school which is in the same compound as Mr. President's house! I don't care how many soldiers they have put at my son's school. I won't be able to sleep well until the police catch them all! So it won't be difficult to guess my reaction when I learned that the police were able to kill two suspects and capture one.

Saturday evening. The news evolved. Now, the media told us the police caught the wrong guy in Temanggung. He is not the famous Mr. N. He is just Mr. N's accomplice. Soon enough the cheering became sneering. Suddenly, the police's success of uncovering some bomb plots went sour. Nobody cares about the other people captured. And it just doesn't make sense to me. Are they not terrorist enough?! It's like Mr. N or not Mr. N. Even Mr. N's accomplice is not enough for appreciation. What?! An accomplice captured doesn't need a tap on the shoulder and a well-done note?

Just a couple of days before Saturday I also experienced the same thing. Remember the project at my office I was talking about? Remember the hardwork I told you my friends and I had done for the project? Nevertheless, the result was not satisfying due to reasons we didn't quite comprehend yet. The evening before the D day, the most important person in the whole organization told us in the face that WE simply hadn't done our best for the project. Suddenly all of our hardwork was unimportant.

So, guys, how do you usually appreciate other people's work?
Do you appreciate the work only if the result satisfies you? Or do you appreciate the work done well regardless of the result?
Are you one of those people who fancy saying, "I know you have done your best, but your best is not good enough?"
Let me ask you, what is best? Whose standard do you use to define the word best?
I would love to hear that the guy captured Temanggung is really Mr. N as much as you would. However, I appreciate all the hardwork done by the authorities, Mr. N or not Mr. N as long as he is indeed a terrorist. Who are we to judge the police haven't done their best? Unless we have tried to do their job before...

Paula Abdul, Saya, and Simon Cowell: Being a mentor.


Paula Abdul and Simon Cowell.
People say they both are poles apart. Like heaven and hell.
One always praises, the other always critizes.
If you were one of those American idol participants, which judge would you choose to have?
You'd probably prefer to hear Paula's sweet praises, but everybody knows that Simon's praise worths 100x more than Paula's, Kara's, and Randy's all togehter. So, as a mentor, who worths more? Paula? Or Simon?

One of my job responsibilities at the office is to be a mentor for candidate teachers. Paula Abdul's figure reminds me of one of those points in "Mentoring for Dummies" guidebook.
According to that guidebook, a good mentor should be able to find 3 strengths of his/her trainee for 1 of that trainee's weakness. So, if I am to follow the procedure, everytime I want to critize my trainee, I have to mention his/her 3 strenghts first. Yeah, right. Easier said than done.

To be honest with you, being a Simon-Cowell-like mentor is by far more effective and efficient. Those trainees won't misunderstand, won't misinterprete the mentor's message. There is no non-sense. And most importantly, it saves a hell-lot of time.

But of course, everyone chooses to hear Paula-Abdul-kind of criticism, no matter how fake it might sound. The theory says people tend to have high anxiety and effective filter once they hear negative feedback. The result is obvious; they won't be able to learn from the feedback no matter how true it is if the feedback is in the form of Simon Cowell. Agree? Me, not quite.

I can be honest (and if all of my mentor friends want to be honest) with you, we would loooooooooovveee to be Simon once in awhile. Especially when we meet those stubborn trainees who see themselves too highly. On the other side, when we meet really aggreable trainees -no matter how weak they are- we don't need to unleash the Simon-type of personality in us.

So, here, I just want to give some tips to all candidate teachers who will face their mentoring sessions. You can print these tips and memorize them, especially if you will become my trainee.

1. Lesson no# 1 when you become a candidate teacher is MIND YOUR MANNER. Acting like you are (or convinced you will be) the greatest teacher in the world won't do you any good since you're talking to a teacher with more experiences in terms of years and techniques. So, feet on earth!

2. Almost the same as no# 1, MIND YOUR ATTITUDE. You might have different opinions from your mentor just as the AI participants have theirs from the judges. Respect the comments, though. They are valuable inputs anyway. And people too often look into the mirror instead of looking out ouf the window. Telling your mentor that his/her judgement is wrong will only put a big green on his/her face. My face, anyway. Other mentors won't be so forgiving. They might just fail you and that's the end of your teaching career. It might be a blessing in disguise, though.

3. When you are training to be a teacher, ACT LIKE A TEACHER. And of course, think like one too. Imagine yourself singing in American Idol with body language showing that you are there for trial session. You really think the audience (never mind the judges) will be so forgiving? They won't, of course, neither the students you are teaching. Standing in front of the students with some attitude demonstrating that you are there only to practice will only mean the end of your dignified life. The students will have a great time humiliating you. And, the mentor will be there never to save you.

4. When things go wrong in and outside the classroom and you are too stressfully edgy to think of something else, FORGET the urge to BE A DRAMA QUEEN. The class is not even your real class, the students are not your students! They are somebody else's. They will forget you soon. So, crying, screaming, fainting, darting out of the classrom (not necessarily in that order) just won't work. It won't work with most mentors. It won't work especially with me.

5. KEEP YOUR DISTANCE is probably my most controversial tip. Most mentors are friendly. I know I am. But thinking, suggesting, demonstrating that you are your mentor's best friend after one mentoring session can be very dangerous. We, mentors, like to keep our distance from our trainees so we can keep being objective. We don't like to have feelings. Feelings complicate things. So, at this point, be civil to each other is enough. Later when you have become a fully certified teacher, you are welcome to address your mentor by his/her nickname. I know I do. I'm not sure about most mentors, though.

Okay, then. Five tips for now.
As you can see being a mentor is not an easy job, with or without the camera. Being Paula Abdul is not easy either. Under her motherly look and loving smile, she probably is clenching her fist. Next to her, Simon is probably having the time of his life. Being him is so relieving, so... free. You might want to try it sometimes. The bonus is you could be more than a mentor to your trainee. You could be his/her guru kehidupan, too.

(If you jumble the word mentors, and rearrange it, you'll get a monster. LOL)

Catch me, or else...

Did your office ever hold an outbound program for its employees?

Mine did, a couple of years ago. All of us were gathered from all of the branches all over Indonesia.
There was this game in that program that I remember vividly until now. It's called "Catch Me, Don't Let Me Fall. (Or I'll surely kill you!)". Playing it is actually simple. All you've got to do is to stand on a higher platform with your back facing your friends (or your team members).
After that, you have to let yourself fall backward so your friends can catch you.

The key of this game is to LET yourself fall without having doubts. When you have to fall backward, you have to TRUST your friends that they will CATCH you. The moral lessons of this game are 1) it's a bravery test, 2) it's a trust test. Personally, I think, without Trust, you won't feel Brave. At all.

At that time, some of my team members were hysterical or very cautious, which is understandable because which fool wanted to trust his/her life in the hands of a bunch of people that s/he just met yesterday?
When it was my turn to fall, I did it mindlessly. I wasn't worried a bit that those guys wouldn't catch me. To tell you the truth, though, my lack of worries was not because I knew they cared about me so much that they wouldn't let me fall to the ground. It was simply because (I knew) nobody was stupid enough to willingly take the position of a murderer in front of so many eye witnesses. It's just a basic human psychology. It has nothing to do with Caring.

That knowledge leaves me with a feeling of relief. For me, it shows that even strangers will watch your back although their motive is probably only to keep them off trouble.

Now, put that story in another context. Your office. And your colleagues are your team members. If I may borrow Simon Cowell's voice, my question would be...
"Do you honestly believe that those guys you share the office room with are willing to catch you when you fall?!"

When the answer is no, my suggestion is you start googling for a vacancy.

Oh, eh, you can look at the bright side of the story: when you cannot trust your colleagues, may be you can trust a bunch of strangers.

To Let Go

Ikhlas.
Let go.

Those are what my friends have been telling me.
Even when my eyes were staring at them (or at the phone) blankly, I was tempted to say, "easier said than done, mate!"
But, instead of informing them that it just couldn't be done, I nodded my head and let myself embrace the idea of letting go. Besides, I heard God once instructed the same thing. Who am I to say no to God?

A week passed.
Damn! It was not easy!
So, I said to God.
"Dear God comma
letting go question mark
OK fullstop
One request though question mark
give me time fullstop
like three fullstops
a year question mark"

So, I'm in the process of letting go.
However, I read some guy wrote something.
He wrote 'To forgive an enemy is easier than to forgive a friend'.
I agree.
So, friend, at this point, it's like... you have taken me to the point of no return.
But, hey, I'm letting go.
Go. You know? Forward. Not return.
Go.

Oh, and God...
Give me a year?
Thanks!

Persepsi!

Kami berdiri berdampingan di depan stan penerbit & penyalur buku-buku dan ensiklopedia import. Sambil ngeces.
Sang teman membolak-balik lembaran ensiklopedia impor yang mengilat.
Saya mendengarkan si penjual mempromosikan kecanggihan barang jualannya.
"Ini berguna sekali, bu. Kalau Ibu pesan sekarang, saya kasih diskon 20%."
Sang teman melirik saya.
"6 juta 5 ratus. Murah, bu, dengan diskon."
Teman saya keselek.
Saya mengangguk-angguk.
"Bisa dicicil juga, bu. Cicilannya... bla bla bla.."
"Bisa pakai credit card juga, bu."
Saya mengangguk-angguk.
Teman saya batuk-batuk.
"Gimana, bu? Pesan sekarang?"
Saya berdehem. "Saya minta kartu nama mbaknya deh. Minta brosurnya juga."
Wajah si penjual langsung berseri-seri.
Kami meninggalkan stan begitu kartu nama dan brosurnya ada di tangan saya.
2 meter dari stan, teman saya menyikut.
"Gila lu, mau beli?"
Saya meliriknya.
"Siapa yang bilang mau beli?"
"Lah elu tadi minta brosur?"
"Emang gak boleh?"
"6.5 juta mahal, tau!"
"Yang bilang murah sapa?"
"Lah elu tadi kalem banget waktu disebutin harganya! Gue aja hampir copot jantung."
Saya menghadapkan diri ke muka teman saya.
"Coy! Miskin boleh aja. Itu realitas. Tapi kan kita gak perlu nunjukin ke orang laen kalo kita miskin..."

Been There Done That

Having been dealing with hospital(s) for too many times surely has made me an expert. Thinking about it again, I might be able to write a book about it. How does "Surviving Patient" sound to you? Or "Being Hospitalized and Actually Love It"?


Having been hospitalized for so many times (and trying to be proud about it), I know the hospital drill so well that I start to think about applying for the job at the hospital.
Here are some tips to survive the hospital drill:
1. Speak up, if your infus injection feels more hurt than the bite of a black ant. Trust me, if the nurse injects it right, you wouldn't suffer. If you don't speak up, you'll risk your hand! If it hurts like hell, then it means they have messed up with your hand.


2. If you are not lucky enough to reside in VIP room, make sure you ask for the bed next to the window. You may have to share the room with other patients, but you can have the view all for yourself.
If it is possible, ask for the room in which the patients are all the same age as yours. Why? The reason is not only about the Generation Gap. Research (mine) shows that older patients (like above 50) receive more visitors than the doctor prescribes. You wouldn't feel happy to be alone in the hospital while your neighbors have a bunch of visitors every 5 minutes. You wouldn't be able to sleep either.


3. Related to no#3, if possible bring a big sign written DO NOT DISTURB and attach it to your bed. Hopefully you can get rid of unwanted eyes coming from your neighbor's visitors. Only God knows why they are so curious about other people in other beds.

4. If you are not into 'sharing', put a label on your bath equipment (soap, toothpaste, toothbrush, etc.). That way other tenant would understand that those items are not provided by the hospital and so are not for public use. My last experience cost me a bottle of soap.

5. Hospital food is never made to satisfy individual's taste. If you don't like it, keep quiet. There will be no use of prostesting the taste of the food. My neighbor did it. The next day she had to have her breakfast at 11 AM.

6. If you have to allow the nurse to bath you in bed, always tell the nurse that you take a bath sometime after 7 o'clock. Having a bath at 5:30 in the morning while being sick is against Human Rights!

7. Take a note on the drugs given to you and the frequency the drugs have to be given to you. Yes, the nurses are supposedly professionals, but they are also human. Papap had to endure his headache longer than necessary because the nurses forgot and skipped one serving.

8. Turn your cellphone to Silent Mode. I had nightmares because my neighbor's phone always rang at 1 AM. The ring tone was the sound of a laughing baby. There is nothing cute about the laugh of a baby if you hear it in the middle of the night.

9. Bring earplug. It always comes in handy. Especially during Visitors Time, and you have no one visiting you.

10. If in any case, you need to undergo a surgery, remember this:
a. Long before the surgery, ask the doctor about your surgery clothing. Do you need to take the whole clothes off? Or not. If you have to have your tooth removed, you don't need to undress. Believe me. And do not assume. If you assume, they'll take all your clothes off.
b. IF there's no way to keep your clothes on (even part of them), tell the nurses you don't want them to leave you cold naked on a cold surgery bed more than 30 seconds. Tell them to remove your clothes, or blanket, or whatever, only seconds before the surgeon says "Let's roll on".
c. If possible, ask for nurses with the same gender as yours. It doesn't hurt to ask. It hurts if you don't.
d. Do not look at the nurses' face, either female, or -especially- male. Do Not try to memorize their faces. You don't want to bump into them again one day and be reminded that they have seen you without clothes.
e. If you don't feel like chitchatting during the surgery, ask them to make you sleep for the whole process. But, if you feel perky about being operated, then you can stay awake and enjoy the ride.

All and all, I must say I wish you never have to apply any of those above.

Oh, one more thing: if you are told to use a catheter, vote against it! Trust me on this!

2008

New Year's Day-

everything is in blossom!

I feel about average.


Haiku

by

Kobayashi Issa (1763-1828)



Happy New Year, all!

Jangan Salahkan Dunia!

Neng,
kebahagiaan itu bukan hadiah,
bukan sesuatu yang mesti ada.

Neng,
kebahagiaan itu harus diusahakan,
tidak pake syarat macam-macam.

Kebahagiaan tidak pake kata asal.
-asal kaya, baru bisa bahagia
-asal cakep, baru bisa bahagia
-asal ada teman, baru bisa bahagia
-asal ada anak, baru bisa bahagia
Itu kebahagiaan asal namanya.

Kebahagiaan juga tidak pake kata kalau.
-kalau di Indonesia, baru bisa bahagia
-kalau di luar negeri, baru bisa bahagia
-kalau Indonesia tertib, baru bisa bahagia
-kalau luar negeri halal semua, baru bisa bahagia
Itu namanya kalau bisa bahagia.
Kalau enggak bisa?
Mau apa lu?

Neng,
kebahagiaan itu bukan hanya ada di hati,
karena gak semua hal itu melulu pake perasaan.
Kebahagiaan juga ada di otak yang logis berpikir.
Di mata yang jernih melihat.
Di bibir yang rela tersenyum.

Neng,
kebahagiaan itu, walau harus diusahakan, tersebar dimana-mana.
Dia ada, di setiap tempat kamu pergi.
Dia ada, di setiap langkah yang kamu bawa.
Tapi, soal kamu bisa melihatnya berceceran di setiap tapakmu, itu yang jadi masalah.
Kebahagiaan tidak mengenal negara.
Apalagi warna passport, Neng!

Ayo lah, Neng,
jangan lah manyun kerap kali.
Berkeluh kesah seakan hanya dirimu yang sengsara.
Berpikiran buruk terhadap dunia.
Berasa semua orang menyakitimu.
You may be important. But not that important.

Neng,
Merasa bete itu normal.
Merasa kesal itu wajar.
Merasa kehilangan semangat itu biasa.
Tapi, Neng,
hidup gak perlu melulu tentang bete, kesal, dan kehilangan semangat.
Hidup bisa melulu tentang bahagia, bete sebentar, bahagia lagi, bahagia terus, bahagiaaaaaa...

Jadi, Neng,
Cari kebahagiaan mu.
Berceceran itu dimana-mana!

Berhenti manyun lah!
Dunia tak punya salah!

Bernapas

Bernapas lagi.
Setelah seminggu lebih terkekang,
tanpa laptop dan internet.

Ah, Papap sudah pulang.
"Senangnyaaa, Papap pulang..."
"Maksudnya, senangnya sudah ada laptop lagi?"
Papap memang sangat pengertian.

Try this!

Boss, you keep complaining how difficult it is to teach recent-generation students.

I have a suggestion. What if we put this in every classroom?

source: from email

The Zen of Bad Mood

No matter how bad a state of mind you may get into,
if you keep strong and hold out,
eventually the floating clouds must vanish,
and the withering winds must cease. Dogen


I'll be right back.
After I master these particular Zen words...

Dengan Damai

Saya terpekur membaca tulisan teman tersayang saya yang nun jauh disana. Kalau para hadirin sering berkunjung ke blog nenek-cantik-berwajah-remaja itu (yang tak perlu lah saya tunjukkan jalannya karena saking ngetopnya), anda pasti telah membaca tulisannya tentang 'Kapan seseorang siap menjadi ibu?'

Nek, saya tak punya jawaban atas pertanyaan dirimu. Saya hanya pernah berada di sisi yang berbeda. So, please spare me a minute. I'll tell you a story...

Di kehidupan saya yang dulu, saya tak pernah suka anak kecil. Saya menghargai mereka sebagai individu, tapi tak pernah bisa melihat dimana lucunya seorang anak kecil. Sama seperti saya tak bisa melihat dimana lucunya seekor puppy. Jadi, jangan suruh saya untuk menggembala keponakan-keponakan kecil, karena I'd just turn their day into a hell without realizing it. Bila seorang kolega membawa anaknya ke kantor dan teman-teman yang lain sibuk memuji kelucuan si anak, saya tak pernah ikut-ikutan. Saya bahkan pernah yakin seyakin-yakinnya kalau kelakuan seorang anak itu 95% akibat didikan orang tuanya. Akibatnya, ketika seorang anak kecil bertingkah 'bandel', saya tak bisa melihat kelucuan dari tingkahnya.

Let me tell you one of my darkest moment:
Suatu hari, di food court sebuah mall, saya dan teman-teman sedang duduk menikmati makanan. Seorang anak berusia 6 tahun mondar-mandir di dekat meja kami sambil membuat keributan: lari-lari, menyenggol meja kami, teriak-teriak, batuk dan menarik ingus di dekat kami, berdiri di samping kami yang sedang berdiskusi, dan lain-lain. Ibunya tak terlihat gerah walau saya rasanya sudah berasap. Ketika rasa sabar saya habis, saya memesan sebuah ice cream cone bertingkat dua yang terlihat sangat-sangat menggiurkan. Saya melihat bagaimana kedua bola mata anak itu hampir loncat keluar melihat es krim saya. Dan tahukah apa yang saya lakukan? Dengan sengaja saya menjilati es krim itu di depan pandangan matanya. Saya tahu dia sebelumnya dilarang minum es krim oleh ibunya...
Segitu teganya saya pada anak kecil.

Papap pun setali tiga uang. Ia -yang anak bungsu- juga tak punya empati rasa lucu pada seorang anak kecil. Maka, ketika kami akan menikah, kami berencana untuk menunda punya anak.

Rencana tinggal rencana. Saya langsung hamil setelah menikah. Kejadian ini membuat tante bungsu saya -yang usianya hanya lebih tua dua tahun dari saya- frustasi berat. Sebagai tante bungsu yang terkenal penyayang keponakan-keponakannya dan pengasuh bayi nomer wahid di keluarga kami, dia belum juga hamil setelah menikah dua tahun. Dia pun terisak 'Why me?'. Yang dia tak tahu, saya juga sedang terhenyak dan bertanya 'Why me?' untuk alasan yang berseberangan dari dirinya.

Teman-teman saya menjadi saksi betapa saya sering mengelak pertanyaan mereka tentang kehamilan saya. Saya tak mau berterus terang. Antara malu, tak percaya, tak siap, tak sanggup, dan berbagai macam alasan gila lainnya. Mother-and-child bond? Hell, saya tak merasakannya. Mana itu perasaan penyayang yang dikatakan ibu-ibu hamil lainnya? Karena rasa tak percaya dan tak mau itu lah saya berlaku secuek saat saya tak hamil: jalan tergesa-gesa, lari naik turun tangga, mengejar bis, mengangkat beban berat, makan minum seenaknya... sampai beberapa teman laki-laki saya yang malah menjerit-jerit histeris. Dua bulan setelah saya hamil, saya mengalami pendarahan. Tell me crazy, tapi saya tak bisa merasa sedih atau menyesal. Tuhan Maha Besar, janin saya selamat. Yang kemudian membuat saya berkewajiban untuk merawatnya adalah karena saya sadar ada Tuhan yang mengawasi saya. Saya bingung karena saya tak bisa merasakan rasa sayang, tapi saya berusaha tak membuat Tuhan marah.

Lalu hidup saya berubah ketika bayi itu lahir. Sejak saya melahirkan Hikari hingga detik ini, setiap kali saya melihat wajahnya, atau teringat tingkah polahnya, rasa bersalah selalu menyerang saya. Ya Tuhan, apa yang mungkin terjadi pada diri saya bila saya tak memiliki Hikari seperti sekarang? Bagaimana mungkin saya bisa mengacuhkan dia dulu, kalau saya tahu betapa saya bisa sangat menyayanginya sekarang? Mungkin karena rasa bersalah ini pula yang membuat saya setiap kali menggigil paranoid berlebihan setiap kali Hikari -yang memang rentan sakit- jatuh sakit. What if? Begitu setiap kali saya berderai air mata. Saya takut Tuhan menghukum saya...

Nek, tante saya pernah bertanya pada Tuhan 'why her and not me?'. Saya tak tahu jawabannya. Saya malah sempat bertanya 'why me and not her?' karena rasanya tak adil buat dirinya. Tapi, Nek, untungnya saya yang kurang ajar begini -entah kenapa- selalu ingat pada kata-kataNya yang ini:

"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. "

Saya lalu belajar ikhlas, walau untuk seorang saya, ikhlas itu susahnya minta ampun. Saya belajar bila kita ikhlas pada apapun ketentuanNya, kita bisa merasakan hidup ini lebih damai. I'm still learning...

With lots of love for you, Nek!

Anak si Mami

Menjadi anak ibu saya itu susah. Dan itu bukan karena salah satu sifat keibuannya yang senantiasa muncul: cerewet. Ada hal lain yang lebih mendasar dari sekedar sifat cerewet. Eh, cerewet sih bukan sekedar yak?

Ibu saya itu tentara wanita. Iya, benar. Tentara. Yang pake baju loreng, berhelm baja, bersepatu lars dan bersenjatakan senapan. Sewaktu saya kecil -sebagai anak pertama dan perempuan satu-satunya- mainan saya bukan boneka, tapi bola, sepeda, dan tongkat. Tongkat itu bisa untuk maen kasti, maen perang-perangan, ngerontokin buah mangga dan jambu air, atau maen pukul-pukulan dengan anak tetangga. Maksudnya, saya mukulin anak tetangga. Ibu saya juga lebih bangga dan meneteskan air mata melihat saya jadi komandan kompi tim gerak jalan SD saya, daripada jadi juara lomba kartini. Ehm, ini mungkin ada hubungannya dengan semangat tahu diri dari beliau karena beliau sadar saya tak akan pernah bisa jadi Miss Universe walau segimana hebohnya saya operasi plastik.

Lalu bagaimana bisa menjadi anak ibu saya itu susah?
Begini.
Semua orang yang tak kenal ibu saya, biasanya berkomentar kalau saya ini -sebagai perempuan- sungguh njelehi. Saya ini perempuan tapi kok berangasan, cewawakan, sok galak, gedubrakan, cablak, sering nantang orang kelahi... walah... panjang lah catatannya.
Beberapa orang yang berjenis kelamin laki-laki biasanya akan berkata, "Dev, kamu tuh jadi perempuan yang lembut sedikit."
Sadar akan nasehat itu, biasanya akan saya menjawab, "belum pernah digolok, kamu?" dengan nada yang sangat lembut.
Kalau perempuan-perempuan lain biasanya gak akan komentar. Mereka pergi aja jauh-jauh.

Sementara itu, orang-orang yang kenal ibu saya malah berkomentar kalau saya ini kurang tangguh! Jauh lebih cemen dibanding ibu saya. Terlalu lembut. Klemar-klemer.
Suatu kali, seorang laki-laki anak buah ibu saya pernah bertanya. "De, kamu kok gak seperti ibu kamu sih? Kuat, energetik, tangguh, gitu?"
Saya cuma tersenyum. Dalam hati: pulang lewat mana lu?!

Sampai setua ini pun saya masih merasa susahnya jadi anak ibu saya. Mungkin karena ibu saya sendiri seringkali menginginkan saya punya dua kepribadian: yang perempuan asli (dicirikan dengan bisa memasak, berdandan rapi, dan tersenyum manis pada anak umur 2 tahun yang menumpahkan buburnya di baju kantor kita) dan yang jagoan kampung (dicirikan dengan kemampuan mengganti bohlam lampu yang mati, membetulkan pompa air, dan bertolak pinggang di hadapan selusin tukang copet sambil berteriak 'SAPA TADI YANG NYOPET DOMPET GUE?!)
Alhasil, di buku kenangan alumni kampus dulu, saya ditulis besar-besar sebagai manusia dengan multiple personality disorders. Beware!
Walau begitu, saya merasa kepribadian ganda saya lebih banyak manfaatnya daripada mudaratnya. Saya merasa saya lebih well-equipped dan tidak mengandalkan kalimat ajaib seperti, "ya, saya kan perempuan...."

Tulisan ini dibuat setelah mendengar komentar tetangga yang berkata kalau Hikari terlalu lembut untuk ukuran anak laki-laki. Apa anak mereka harus ditabok dulu oleh Hikari hanya untuk membuktikan kalau Hikari itu anak laki-laki? Hekhekekek.....

Perempuan Bergolok

Sudah tiga bulan Hikari belajar di sekolah yang baru. Setiap hari, saya mengantar dan menjemputnya. 15 menit sekali jalan, 7 kilometer yang berkelok dan berundak. Maklum, jalan kampung selebar dua mobil tanpa trotoar kecuali jalan setapak berumput ilalang.
Sudah tiga bulan juga saya melihat dia. Perempuan berkerudung dengan wajah datar, berpakaian rapi, dengan tangan kanan menggandeng anak laki-laki berusia 3 tahun berpakaian rapi yang sepertinya habis mandi (karena wajahnya selalu berlumuran bedak) dan tangan kirinya memegang sebuah golok besar berkilat. Mengacung-acungkan golok besar berkilat, lebih tepatnya. Setiap pagi pukul 8:13an, saya (di dalam mobil) berpapasan dengannya di jalan yang sama, hampir di titik yang sama, dengan gaya yang sama: dia mengacungkan goloknya, dan saya memutar kemudi jauh ke kanan menghindari ayunan goloknya. Ternyata bukan saya saja yang berpikiran melencengkan mobil jauh ke kanan; pengemudi mobil lain juga melakukan hal yang sama.


Pertama saya berpapasan dan melihat dia, saya hanya menyumpah, 'duh, itu pegang golok hati-hati kenapa!'

Lama-lama saya jadi penasaran. 'Nih orang siapa sih? Mau kemana? Mau ngapain?'

Kemudian saya mengira-ira. 'Gak mungkin mau bercocok tanam, wong bajunya rapi jali begitu!'

Kadang berpikir, 'gak mungkin juga dia seorang tukang jagal kebo. Dandanannya gak matching, bo!'

Sekali dua kali saya berpikir terlalu jauh. 'Jangan-jangan dia agak sinting. Jangan-jangan dia...'

Tak hanya saya. Ketika Eyang Kung-nya Hikari sesekali ikut mengantar, bliow juga berkomentar, 'mau ngegolok siapa dia?'

Dan kami pun bertukar imajinasi.

Kalau anda, seperti apa imajinasinya?


Sabtu kemarin, teman baik saya bercerita bagaimana satu aksi-nya disalah mengerti orang satu gereja. Teman itu punya kebiasaan mencatat khutbah pendeta dengan PDA-nya. Bukannya diberi piagam penghargaan sebagai pendengar khutbah terbaik, dia malah dipelototi jemaat yang lain karena disangka main sms...

Setelah tertawa ngakak mendengar ceritanya, saya tersentak. Saya ingat bagaimana saya berimajinasi tentang si Perempuan Bergolok. Sama saja, antara saya dan jemaat-jemaat itu.

Sama salah kaprahnya.

Kesadaran saya itu tentu saja membuat saya syok berat. Bukannya apa-apa. Resolusi saya tahun jebot dulu adalah 'Menghilangkan Suudzon alias berprasangka buruk terhadap orang lain'.
Ealaaahh... baru ketemu Perempuan Bergolok aja, resolusi saya udah jebol. Gimana kalau saya bertemu bapak tua setengah botak menggandeng cewek cantik seumur adik saya? Gimana kalau bertemu Pak A yang suaminya Bu B, di hotel C, bersama Bu D yang istrinya Pak E? Gimana kalau saya bertAmu ke rumah mewah si X yang satu nasib gajinya sama saya? Gimana kalau saya berpapasan dengan seorang manusia yang bermuka rugi lagi? Gimana kalau saya bertemu dengan cowok ganteng yang tersenyum legit pada saya? Gimana kalau ada sms di hp Papap yang terbaca 'Mas, kapan ke rumah lagi?'

Apa saya sanggup menahan diri supaya tak suudzon?

ps: 'Gimana' yang terakhir gak ada urusannya dengan suudzon ato gak, pasti langsung dibawa ke mahkamah internasional.

Muka Rugi

Anak perempuan berbaju putih abu-abu itu duduk tak perduli di tengah-tengah barisan depan dari dua baris kursi di kelas itu. Sebenarnya, dia cukup manis. Tapi sejak pertemuan pertama -dan saat itu sudah pertemuan keempat- dia selalu memasang wajah bosan dan tentu saja tak perduli. Cemberut tidak, senyum juga tidak pernah. Sebagai seorang guru yang notabene merupakan bintang panggung di kelas, saya mulai bertanya-tanya.
"What is it that I do that doesn't suit her? Doesn't she like me? But why?"
Kelas itu kelas baru di semester baru dengan saya sebagai guru mereka yang baru.

Sudah hampir sebulan saya mengajar kelas itu, saya hampir melupakan tingkah si anak perempuan. Kecuali dia, kelas itu sungguh menyenangkan. Dan setelah saya meyakinkan diri bahwa Saya bukanlah si Faktor X pembuat dirinya masam, saya menjadi tak begitu perduli dengan kemasaman-nya. Lagipula, kecuali wajahnya yang masam, dia juga tak pernah membuat onar di kelas, so case closed. For a while.

Suatu kali, ketika sedang berbincang-bincang (baca: ngegosip) dengan mister owl-si-bijak yang rupanya adalah guru kelas anak perempuan itu di level sebelumnya, saya menanyakan perihal si anak.
"Do you still remember this girl?"
"Yeah, sure. Why?"
"Well, I am not sure. But she is kind of bitter whenever she comes to class. Was she like that too before?"
Mister owl-si-bijak tertawa.
"Dia memang begitu. It's not you. It's her."

Selanjutnya mister owl-si-bijak memberikan teorinya.
"Orang seperti itu punya Muka Rugi," katanya.
"Hm?"
"Ya." Si mister melanjutkan, "kemana-mana dia pergi tanpa sadar dia memasang wajah asem seakan-akan orang satu dunia berbuat salah padanya. Padahal kalau kita tanya sama dia, she doesn't have problems with us. It's all in the mind and heart."

Saya tak mendebat si mister. Susah mendebat filsuf satu itu. Tapi dipikir-pikir dia ada benarnya juga. Jujur saja, saya mungkin pernah menjadi si Muka Rugi karena beberapa teman saya pernah berkomentar, "elu tuh kalo moody-nya kumat, muka lo pasti pahit banget. You look like you're about to punch every one you see."
Padahal kalau saat saya sedang bermuka pahit atau asem atau rugi atau apalah, saat itu yang saya rasakan hanya kebosanan dan tak perdulian. Tapi yang keluar kok jadi muka yang ngajak berantem orang? Mister owl-si-bijak benar. Walau buat saya, it's all in the heart. Kalau hati sudah asem, wajah pun merefleksikannya. Tak perduli what's in my mind.

Sejak itu, saya mencoba untuk lebih sering tersenyum. Kalau gagal untuk tersenyum (saya lebih sering menggeram karena), saya belajar untuk membuat wajah saya lebih tawar. Tawar masih lebih baik daripada asem, bukan?

Cerita ternyata tak habis disini.
Saya memang tak bertemu anak perempuan itu lagi selepasnya dia dari level yang saya ajar. Tapi saya bertemu si Muka Rugi yang lain.

Manusia satu ini sebenarnya baik hati. Dia juga -anehnya- penolong nomer wahid di kalangan teman-teman. Tapi, wajah manusia ini tak pernah terlihat tersenyum, atau tawar sekalipun. Walau dengan saya, dia masih sering tertawa ngakak. Sialnya buat dia, dia punya jabatan lebih tinggi dibanding teman-temannya dan terkenal galak luar biasa. Siapapun juga tahu kalau boss sering dimusuhi anak buah, apalagi boss yang galak???

Saya kasihan pada dirinya karena sebenarnya dia itu pintar, baik, penolong, dan adil. Ketika orang bilang dia galak, dia sebenarnya sedang menjadi outspoken. Buat saya yang sama-sama sering nyablak, dia bukan galak. Dia jujur, walau terkesan sadis. Ketika orang bilang dia tak punya empati, dia sebenarnya sedang berusaha menjadi adil dan lurus. Tapi sayang, mukanya yang selalu masam menghilangkan nilai positif dirinya. Bila orang-orang berbicara tentang dirinya, mereka akan berkata, "kenapa si dia? Kok gue dicemberutin dia? Emang gue salah apa?"
Persis seperti saya dan si anak perempuan berseragam putih abu-abu.
Jawabannya pun persis sama: It's not you. It's her.

Ternyata benar-benar bikin rugi punya muka seperti itu.

EVERY DAY ZEN:
People see others in terms of themselves. If you are ambitious, that is the way you see others. If you are greedy, you see others in terms of desire. Bunan

Blogger Templates by Blog Forum