Showing posts with label Nightmare. Show all posts
Showing posts with label Nightmare. Show all posts

Orang-orang Yang Teraniaya (Panjang nih!)

Ceramah ustadz saya yang paling berkesan buat saya adalah soal doanya orang-orang teraniaya. Kata Pak Ustadz, "doanya orang-orang yang teraniaya itu makbul. Dikabulkan Tuhan."
Sampai gede, becandaan saya dengan teman-teman adalah, "Coy, aniaya gue dong. Gue lagi butuh rejeki berlimpah nih."
Atau kalau hidup serius lagi susah dan saya benar-benar sedang dianiaya orang (atau orang-orang), kalimat penyemangat saya nomor wahid jelas adalah, "Gue ikhlas kok teraniaya begini. Mudah-mudahan doa gue mau keliling dunia terkabul."

Belakangan ini, kalau teman-teman saya bikin saya emosi sedikit, saya bilang ke mereka. "Eh, elo-elo pada udah menganiaya gue tau! Moga-moga doa gue terkabul."
"Doa apa elu?" tanya teman-teman saya.
"Doa mau beli mobil baru."
Herannya, setelah itu mereka langsung baik sama saya. Enggak mau menganiaya saya lagi.

Tapi benar. Saya memang butuh doa beli mobil baru itu terkabul. Ini rekor mobil mogok saya sudah melebihi batas kenormalan sebuah mobil doyan mogok sekalipun. Hmmm... sebenarnya, mogok bukan kata yang tepat. Meleduk! Itu baru kata yang tepat.

Mobil sedan hijau jijay jreng metalik buatan Korea tahun 2006 itu sebenarnya masih kinclong dan mulus lus lus lus. Catnya pun baru. Tapi, penyakitnya adalah gampang panas. Radiator pun jadi mendidih dan... Bleduk! Atau kalau tidak langsung bleduk, biasanya ada suara seperti orang kentut panjang dan kencang lalu dari balik kap mobil keluar asap putih tebal... ppppsssssshhhhhh....

Pertama kali radiator saya meleduk itu tahun 2004 akhir. Rumah saya masih di Halim dan saat itu jam pulang kantor saya lewat di Kebon Nanas. Jalanan macet total. Saya masuk ke jalur lambat yang cuma cukup satu mobil. Tiba-tiba di depan kantor kementrian hidup, ada suara PPPSSSSSSSHHHHHHHHH kencang. Lalu BLEDUK! Kap saya terangkat ke atas. Untung... masih untung kap itu terkait jadi gak langsung njeplak.
Kontan mesin mati. Dan selama hampir semenit kemudian, saya yang tidak pernah mengalami mogok mobil cuma bisa bengong bego. Tidak lama, supir taksi Blue Bird di belakang saya keluar dari taksinya dan tanpa diminta mendorong mobil saya ke dalam halaman kantor Departemen PU dan meninggalkan saya disitu. Teman saya yang diceritain langsung memuji si supir.
"Duh, untung dia baik ya. Gak pamrih gitu."
"Ya, iyalah. Kalo dia gak ngedorong, dia juga gak bisa lewat kali!" kata saya sewot.
Moral of the story: satu kebaikan seringkali ada motif pribadinya juga.

Setelah itu, saya meninggalkan si ijo kinclong itu di Jakarta selama 2 tahun. Pulang dari Jepang, si ijo yang sudah tidak kinclong di cat baru dan didandani rapi lagi. Tapi, penyakit dia belum mau hilang juga.
Pada suatu malam, si ijo panas lagi di antara kemacetan parah di depan Plangi. Papap buru-buru mematikan mobil dan dalam sekejap kami jadi bahan caci maki orang se-Jakarta. Hikari segera terkena panick attack. Dia langsung rewel dan menangis. Si Papap yang sudah gerah diomelin orang, makin naik pitam mendengar tangisan Hikari. Saya lalu memeluk Hikari dan bilang, "Hikari berdoa dulu ya. Supaya di dengar Allah. Dan mobilnya bisa jalan lagi."
Bukannya sok agamis. Saat itu saya juga sedang men-sugesti diri sendiri. Kali aja...
Hikari lalu berdoa kencang-kencang. Dia yang cuma hapal 3 ayat pendek mengulang-ulang doanya. Serasa ada pengajian di mobil mogok kami. Eeeeehhh, ajaib! Tidak lama kemudian, suhu radiator turun dan Papap bisa melipir ke kiri masuk ke dalam pompa bensin! Bahkan kami bisa pulang sampai di rumah dengan selamat tanpa di derek!

Sejak itu, saya kenyang dengan radiator yang demam terus. Bolak-balik bengkel, bolak-balik mogok juga. Rute dari Rawamangun sampai Cibubur sudah pernah saya mogok-i. Terakhir, seminggu lalu, radiator saya demam lagi pas sedang macet-macetnya menjelang gerbang tol TMII pas saya punya janji dengan klien! Saya melipir ke kiri tol, mematikan mesin, dan menyalakan lampu sen kembar itu. Mobil di belakang saya spontan mengklakson galak yang saya balas klakson lagi. Kalo cuma modal klakson, gue juga bisa! Saya segera telpon si Papap di kantor yang langsung memberi instruksi.
"Buka kap mobil."
Saya buka.
"Kamu keluar dulu."
"Aku keluar?"
"Ya iyalah. Ngeliat rusaknya gimana kalau gak keluar?"
Saya keluar dengan enggan. Benar saja. Dari balik kaca-kaca mobil yang lewat, saya bisa merasakan tatapan mata orang-orang. Gue pake kemeja ungu mengilat harus ngebuka kap mobil warna ijo ngejreng gitu loh! Seorang laki-laki penumpang di mobil Terios membuka kacanya setengah dan memperhatikan saya. Spontan saya melotot.
"Apa liat-liat, Pak?!"
Dia langsung menaikkan kaca mobilnya. Tapi saya lupa. Kan jalanan lagi macet. Jadi mobil itu gak bisa kemana-mana juga selain manteng di sebelah saya....

Begitu kap mobil dibuka, Papap langsung bertanya lewat hp.
"Ada yang kebakar?"
"Gak."
"Kipasnya nyala?"
"Gak."
"Mesin nyala gak?"
"Gak."
"Iya makanya kipasnya gak nyala."
"Lah?!"
"Coba cabut sekringnya yang itu."
Saya cabut.
"Liat kaki-kakinya. Meleleh?"
"Iya. Sedikit." Padahal sumpah! Saya gak tau yang namanya sekring meleleh tuh harus kayak gimana.
"Ganti aja. Ambil di bla bla bla..."
Saya ganti sekringnya.
"Nyalain mesin deh."
Saya nyalain mesin.
"Nyala kipasnya?"
"Gak."
"Coba tekan-tekan si sekring."
Saya tekan-tekan. "Gak nyala."
"Tekan yang keras."
Saya tekan keras-keras. "Gak nyala."
"Pukul-pukul."
"Gak nyala."
"Kamu udah pukul-pukul belum?"
"Udah."
"Pukul lagi."
"UDAH! Mau sapa lagi yang aku pukul sini?!"
Singkat cerita, mobil saya harus didorong dua petugas tol sampai ke luar tol TMII. Begitu mereka selesai mendorong, saya kasih mereka uang 70ribu perak. Pas saya cerita ke Papap, dia menjerit.
"70 RIBUUUU?! BANYAAAAKKK bangeeeet!!! Kasih 20 aja buat berdua!"
"Orangnya udah jalan, Babe! Masa mau aku panggil lagi trus suruh ngasih kembalian?!"
Untuk balas dendam, cerita saya ngasih petugas tol 70 ribu diulang-ulang Papap di depan khalayak ramai yang semuanya kontan berteriak, "begoooooo banget sih loooo!"

Kalau anda pikir cerita mogok yang itu sudah klimaks, saya kasih cerita mogok sebelumnya.
Pulang kantor jam 5an sore juga, saya berdua teman kantor, perempuan, lagi sibuk ngegosip sewaktu sudut mata saya melihat jarum penanda suhu radiator bergerak naik. Saat itu macet memang dan saya sedang ada di jalur kanan di lampu merah Penas-Halim. Seorang Polantas sedang sibuk mengatur mobil di lampu merah supaya tidak saling serobot. Saya jelas langsung menyerobot ke kiri.
Baru saja sampai di kiri setelah belokan arah Kalimalang ke Cawang, asap keluar dari bawah kap mobil. Mesin saya matikan, sen kembar dinyalakan, dan saya duduk bengong berdua teman saya. Segera saja perempatan yang sudah macet, jadi tambah macet. Mungkin anda salah satu dari orang-orang yang sore itu kena efek macet akibat mobil mogok saya...

Belum 5 menit duduk di dalam mobil dengan kaca ditutup seluruhnya. Seorang preman mendatangi saya. Dari luar sisi teman saya, dia berteriak-teriak.
"Mogok ya? Mogok ya?"
Teman saya bergidik ketakutan. Saya belum sempat bereaksi begitu dia tiba-tiba berseru, "ada polisi!" Lalu kabur.
Mendengar kata polisi, saya dan teman saya jelas gembira. Tapi kok 5 menit lewat, si polisi gak datang-datang....

Agak lama kemudian, seorang polantas datang dari arah depan. Saya senaaaaang luar biasa. Begitu berada di dekat mobil, saya melongokkan kepala, polantas itu menggerak-gerakkan tanganya menyuruh saya maju. Heh?
"Maju, Bu!"
Maju? Wah, dodol juga nih!
"Mogok, Pak!"
"Mogok?"
"Iya."
"Oh." Lalu si bapak pergi begitu aja.
Sialaaaaaaaaaaannnnnnnnnnnn....!!!

Kami menunggu lagi. Agak lama.
Tiba-tiba jendela teman saya diketuk. Polantas yang berbeda melongok disitu. Saya sudah hilang girangnya.
"Bu, jangan parkir disini. Ini kan pas belokan."
Saya menarik napas panjang. Panjaaaaaaang.
"Paaaaak, kalau mobil saya enggak mogok, SAYA KAN GAK BAKAL PARKIR DISINI!"
"Tapi ini macet."
"Pak, saya juga tahu ini macet! Mobil ini mogok! Radiator saya kepanasan."
"Tapi mohon pengertiannya, Bu. Yang dimarahin orang-orang bukan Ibu. Tapi saya."
"ASTAGA SI BAPAK! Saya juga minta pengertian Bapak dong! Memangnya saya mau mogok? Siapa sih yang mau mogok?"
Setelah beberapa kalimat naik darah berikutnya....
"Kalau memang mogok, saya panggilkan derek."
Hah? Jadi dari tadi si bapak gak percaya kalau saya mogok?!
"Saya lagi nunggu bengkel saya datang. Tapi kalau Bapak mau panggil derek, silahkan."
Dia manyun. Lalu berjalan ke arah lapo-lapo di pinggir jalan arah terowongan Cawang. Dia memanggil beberapa pemuda tanggung.
"Tolong dorong itu!"
Ya ampuuuuuuuun, kenapa gak dari tadi sih?!

Mobil saya pun di dorong ke pinggir. Ada tempat kecil yang cukup untuk parkir di depan tumpukan sampah. Di kiri saya ada warung minuman kecil, di kanan saya ada warung lapo. Saya langsung mengirim sms ke Papap dan kedua adik saya mengenai lokasi parkir saya yang baru. Sms itu ditambahi embel-embel: Buruan! Banyak preman disini!
Baru sedetik disitu, seorang preman besar, item, dengan kaos merah buntung dan celana pendek, dan udel yang kemana-mana mendekati kaca saya.
"Woi! Parkir jangan disini! Ini tempat angkot. Parkir tempat lain!"
Kali ini darah saya benar-benar mendidih. Jendela saya buka...
"MOBIL GUE MOGOK! BUKAN PARKIR! KALO MAU PROTES GUE BERHENTI DISINI, PROTES TUH SAMA POLISI YANG ITU!"
"TAPI INI BUKAN TEMPAT PARKIR!" balas dia.
"KALO GITU, SITU DORONG INI MOBIL SAMPAI KE POM BENSIN ANGKATAN DARAT DI DEPAN! SEKALIAN PANGGILIN PROVOSTNYA! ATAU SEKALIAN DORONG KE HALIM BIAR GUE LANGSUNG PULANG!"
Teman saya memegangi tangan saya kencang-kencang.
Si preman memelototi saya. Saya pelototi lagi. Sambil ngomel pakai bahasa daerah, dia pergi. Teman saya merepet panjang pendek. Dia menunjuk-nunjuk sekumpulan pemuda tanggung di dekat situ yang sedang memperhatikan saya ngamuk-ngamuk. Saya sudah keburu panas. Saya keluar dari mobil, membuka kap mobil, sambil pasang tampang melotot ke orang-orang disitu.

Kap mobil terbuka dan saya yang jelas-jelas gak ngerti soal mobil berniat membuka tutup radiator. Belum sempat tangan saya membuka tutup radiator, seorang laki-laki tua melarang saya.
"Jangan, Mbak! Jangan! Nanti muncrat!" katanya dengan logat Jawa medok.
"Sini Mbak saya bukain." Dia langsung menyuruh preman-preman tanggung yang dari tadi memperhatikan saya untuk mengambil lap dan air mineral dari warung.
"Nanti muncrat, Mbak."
Dengan baik hati, dia membuka tutup radiator, mengisi tempat coolant dengan air, dan panjang pendek menasihati saya akan bahayanya radiator yang panas. Tanpa aba-aba, pemuda-pemuda tanggung yang tadi bergerombol di depan warung, ikut memeriksa mobil. Kelihatan sekali, Pak Tua itu adalah komandan mereka.
"Maaf, Pak," kata saya. "Saya jadi parkir disini."
"Ah, ndak apa-apa, mbak. Wong mogok'e."
"Ya saya kan enggak enak. Tadi orang sebelah udah marah-marah begitu."
"Dia?!" kata Pak Tua menunjuk si Preman buluk tadi.
"Saya ini Arema, Mbak! Dia ndak berani macem-macem, Mbak! Mbaknya ndak usah takut! Mbaknya asal mana?"
Saya sebutkan daerah Ibu saya yang sudah ratusan tahun tidak pernah saya singgahi.
"OOOhhh, kita saudara, Mbak!"
Darimana saudaranya juga saya enggak paham. Jaraknya aja bisa beda halaman peta sendiri. Tanpa ragu, Pak Tua itu langsung nyerocos dalam bahasa Jawa kepada saya.
Mati gue! Saya cuma cengar-cengir.
"Nama saya Mangunlaksono, Mbak. Kalau ada apa-apa disini, sebut nama saya saja."
Saya menangguk-angguk.

Tiba-tiba saya mendengar suara motor di rem. Sesosok laki-laki berhelm, jangkung, menghentikan motornya tepat di dekat mobil dan bergegas melompat dari motornya.
"HEI, MINGGIR SEMUA! GAK USAH DEKAT-DEKAT MOBIL. MINGGIR SEMUA. MINGGGGIIIRR!"

Saya bengong sedetik. Laki-laki itu membuka helmnya.
"PERGI SEMUA! MACEM-MACEM LO YA!"
Saya berkacak pinggang di hadapan dia.
"DODOOOOOLLLLL!" kata saya ke adik saya. "Premannya bukan yang iniiiiiiiiii!"

A Letter Unsent

Jalan raya Alternatif Cibubur selalu mampu mengalirkan perasaan ngeri setiap kali.
Entah kenapa jalannya yang mulus dengan lebar yang melegakan serta panjang yang tak berujung itu tak mampu menularkan rasa perkasanya pada saya.
Yang ada hanya kengerian.

Mobil-mobil melaju kencang berbekal klakson dan lampu besar.
Motor-motor dengan pengendaranya yang sepertinya tak kenal dengan kata 'mati', seakan tak mau kalah memacu motornya.
Bis-bis, baik yang besar maupun yang sedang, seperti sedang kesetanan tanpa peduli dengan penumpang yang dibawanya.
Truk-truk tanah berwarna hijau lalu lalang tanpa beban seakan ukuran mereka tak beda dengan mobil sedan di sebelahnya.
Motor, mobil, truk militer hilir mudik tanpa pernah lupa mengeluarkan suara menyuruh kendaraan lain menyingkir sejauh mungkin.

Dan di titik itu, jalan besar yang lebar dan panjang itu menikung.

Setiap hari, setiap kali saya melewati titik menikung itu, hati saya selalu berjanji.
Saya berjanji untuk mengirim surat kepada penguasa jalan untuk beramah hati.
Dalam surat yang saya hapal betul isinya itu, saya akan menulis...

Penguasa jalan yang terhormat,
Sudi lah kiranya anda membuatkan kami
sebuah jembatan penyeberangan
yang akan menghubungkan satu sisi tikungan
dengan satu sisi tikungan yang lain.
Kasihani anak-anak sekolah
yang harus terlambat masuk sekolah setiap harinya
karena tak mampu bersaing cepat
dengan mobil, motor, bis, truk, dan kendaraan lainnya
yang melewati titik tikungan ini.
Kasihani para ibu-ibu dengan anak-anak digendongan,
orang-orang tua yang lamban,
para tukang jualan bergerobak
yang selalu berlemah hati
saat harus menghadapi jalan lebar di hadapan mereka.
Para penguasa jalan yang berkuasa,
semoga Tuhan mengetukkan hati anda
dan menggerakkan kaki anda
untuk mencoba menyeberang
di tempat kami kehilangan keberanian kami.



Berhari-hari lewat.
Berminggu-minggu lewat.
Berbulan-bulan sudah.
Saya tidak menepati janji saya.
Janji untuk membuat surat itu
dan mengirimkannya.

Lalu hari ini, saat saya lewat di titik tikungan itu,
keramaian sedang terjadi.
Mobil, motor, bis, truk, dan para manusia berhenti bergerak.
Mereka berkerumun di satu tempat.
Tempat seorang kakek tewas berlumur darah
karena tersambar truk
yang lewat kencang
di titik tempat jalan mulus yang lebar dan panjang itu menikung.

Lalu lagi...

Mereka harus gugur lagi?!

PMS

PREMENSTRUAL SYNDROME

Boys, aren't you glad you don't have to experience it?!


Rasa sakit melilit di perut itu belum seberapa, karena PMS sendiri adalah gabungan dari gangguan pada emosi, fisik, psikologis, dan mood. Banyak perempuan merasakan gangguan di keempat hal tadi. Saya, entah harus bersyukur atau menyumpah, selalu mengalami penderitaan melulu di fisik.

Sejak pertama kali mendapat haid dan kesananya mengalami sakit haid, saya sudah mengantongi jam terbang pingsan di tempat-tempat publik: di bis, di angkot, di pintu gerbang sekolah, di kelas, di koridor sekolah, di mobil Eyang Kung, di halte bis, di taksi, dll. Yang paling sering tentu di rumah.
Setelah punya anak, sakit haid saya bertambah selain sakit perut juga migren. Untuk migren ini, jam terbang pingsan saya bertambah: di kantor dan di UGD RS Carolus.

Tiap perempuan punya PMS yang berbeda-beda. Teman saya ada yang bertambah nafsu makannya. Dari segentong jadi tiga gentong. Teman yang lain, ada yang malah jadi memilih puasa, karena setiap mencium aroma masakan langsung muntah. Ada yang bawaannya sensitif melulu. Disenggol dikit nangis, gak disenggol kejer. Ada yang bawaannya ngajak berantem melulu. Ada yang bawaannya mencetin jerawat. Ini karena tiap PMS jerawat segede jengkol muncul di seluruh permukaan wajah. Udah jelek, jerawatan pula. Untung ada ojek. Ada juga yang kerjanya marah-marah dan bawaannya pengen beres-beres rumah. Nah, kalo yang ini PMS-nya Mami saya. Pokoknya, kalau sudah PMS, dunia salah aja dah!

Mungkin, mungkin nih, karena itu pula Tuhan mengijinkan perempuan yang sedang haid untuk cuti sholat. Bayangin aja. Tanpa PMS pun, kita seringkali nangis kejer saat sujud di kaki Tuhan. Apalagi pas tingkat sensitif tinggi saat kita PMS???
"Hiks, ooooh, Tuhaaan, suamikuuu ituu..."
"Huaaaa... Tuhaaan... si Mami tuuuhh..."
"Ihiks ihiks... Tuhaaan... Waaaa...."
Segala apa diaduin.
Mungkin Tuhan gak sampai hati untuk bilang, "Bo, elu tuh cuma PMS doang!"

Balik lagi ke sakit perut saya pas PMS bulan ini, seperti ayam nunggu jadwal dipotong saya ngejogrok di pantry kantor. Sapaan pun bertebaran dari manusia-manusia penunggu kantor lainnya. Ketika rahasia terbongkar...
"Ohhh, lagi PMS ya?!"
"Iya. Tapi gak perlu pake teriak-teriak kali ya?"
"Sakit perut yaaa?!"
"Iya. Tapi gak perlu teriak-teriak."
"Wah, gue sih lebih milih sakit perut aja deh kalo pas PMS! Kalo gue pas PMS, bawaannya pengen marah-marah ngamuk-ngamuk sensi-sensi melulu! Orang yang gak tau kan disangkanya gue ini emang pemarah! Bener deh! Gue mendingan sakit perut aja!"

Kenapa ya manusia selalu berlomba untuk lebih menderita dari yang lain???

Berbagi Rezeki

Satu dari beberapa rencana kami sebulan yang lalu adalah memasang telpon dari Perusahaan Telpon Milik Negara. Sebagai warga negara yang baik, patuh pada peraturan dan beriman, kami mendaftarkan diri kepada Customer Service Online perusahaan tersebut.
"Ini nomer pendaftarannya, Pak. Nanti rumah Bapak disurvei dulu."
"Kapan prosedur lapangannya selesai?"
"Seminggu kira-kira. Minggu depan Bapak telpon lagi."

Perasaan kami girang. Wah, sudah profesional nih. Ada rasa bangga dan kami pun bisa tidur nyenyak selama seminggu.

Minggu berikutnya, saya yang menelpon.
"Mbak, nomer pelanggan sekian sekian kapan bisa dipasang?"
"Line telponnya belum ada, Bu. Telpon kami seminggu lagi."
"Kok bisa belum ada, Mbak? Wong saya tahu ini jalur lewat di pekarangan depan rumah saya. Teknisi telponnya aja waktu itu bilang tinggal tarik kabel dari kotak besi di depan rumah saya?!" (Kebetulan sewaktu kami sedang membangun rumah, tetangga sebelah sedang memasang telpon dari perusahaan yang sama)
"Iya, Bu. Tapi disini memang sudah penuh."
Sudah lah. Saya malas ribut. Kami menunggu seminggu lagi.

Seminggu lewat lagi. Jawaban perusahaan itu masih sama.
Tiba-tiba saya dengar kabar-kabar.
"Kemane aje lu! Masang telpon perusahaan itu memang lama tau. Bisa beberapa tahun. Kecuali elu mau bayar calo!"
"Kita pasang pake calo, Mbak. Waktu kita dateng ke kantor cabang itu, kita dikasih tau kalau jalurnya penuh. Trus, pas keluar ada calo dan satpam yang nawarin untuk pasang. Cepet tuh. Gak sampe seminggu udah kepasang."
"Pake calo. Bayar sejuta setengah. Tiga hari kring, De'!"
"Disini, kita kumpulin orang satu RT. Trus, minta pasang sama calo. Kalau rame-rame begitu, jadi lebih murah."
"Iya, kalau lewat jalur resmi, bertahun-tahun gak bakal dapet. Tuh, kayak tante itu."
"Gak usah masuk kantornya, Mbak. Baru sampai halaman parkirnya aja udah ditawarin kok."

Saya masih tak percaya. "Masa' sih?! Itu kan artinya mereka memberi kesempatan pada calo dong!"

Kemarin, Papap di telpon seorang petugas Perusahaan Telpon Milik Negara. Entah darimana dia tahu nomer telpon hp si Papap.
"Pak, katanya mau pasang telpon ya?"
"Iya."
"Kalau nunggu dari kantor, bisa lama, Pak."
"Trus?"
"Saya bisa ngurusin. Bayarnya belakangan aja kalau sudah terpasang."
"Biayanya berapa? Harga resmi kan? Tigaratus sekian?"
"Wah, bukan, Pak. Itu yang jalur resmi. Kalau mau cepat, biayanya SATU SETENGAH JUTA."

Mendengar cerita saya, seorang kolega berkomentar berat, "Yah, itu caranya mereka berbagi rezeki."

Kalau bukan karena fasilitas internetnya, saya tidak akan terus berharap ada mukjizat!

Bukan Karena

Bukan karena sebentar lagi mau Lebaran,
Bukan karena saya cinta bunga mawar bambu,
Bukan karena saya bosen dengan layout yang lama,
Bukan karena saya kebanyakan bengong di rumah,
Bukan karena saya hobi ngotak-ngatik html,

lalu saya ganti layout.

Ini gara-gara layout kesayangan saya yang lama yang berwarna biru berlatar laut menenangkan itu......... rusak.

Mbuh kenapanya. Tau-tau, pas saya buka blog, semua buyar menjadi putih. Tanpa diotak-atik, tanpa dipinteri...

Siapa tahu ada yang:
1. Berbaik hati mau membereskan layout kesayangan saya itu,
2. atau, membuatkan saya template baru,
pasti akan saya puja-puji di blog saya nanti....

Silahkan loh...

Jatuh Ketimpa

Saya kepingin nabok orang yang berani-beraninya bilang, "gak apa-apa sakit rame-rame. Repotnya sekalian kan?"

Sungguh tidak lucu.
Bagian mana yang lucu dari adegan seorang saya yang sedang sakit perut berat dan saban sedetik harus balik ke toilet, sementara anak saya yang sedang demam tinggi meraung-raung di luar pintu toilet karena tidak mau digendong orang lain selain emaknya?!
Meminta pengertian pada anak umur 5 tahun diluar toilet adalah suatu tindakan yang sia-sia.
"Mamaaaa, aku mau sama mamaaa!"
"Tunggu, ya, Nak. Mama lagi sakit perut."
"Aku juga sakit perut. Aku sakit kepala juga!"
"Tapi mama gak bisa keluar. Mama lagi sakit perut sekali."
"Mamaaa, Ari sayang mamaaaa..."
Walau gak ada hubungannya, saya toh menangis juga. Antara kebelet, dan terharu.

Empat hari saya kena diare berat. (Jangan bilang-bilang Papap itu karena saya nekat jajan soto mie di pinggir jalan) Segitunya pun saya masih bisa ketawa-tiwi di YM sama Pak Dhe ini. Si Papap yang menyuruh saya ke UGD, saya cuekin. Nanti kejadian kayak kemaren saya harus berantem sama suster peng-infus hanya gara-gara diare.

Hari kelima, saya gak tahan lagi. Begitu ke dokter, saya habis diomeli. Dari diare merembet ke gejala tipus. Kata Pak Dokter yang biasanya murah senyum itu, "kemarin belum puas ya nginep di RS-nya?"

Pulang dari dokter, saya niat mau bedrest. Kapan lagi bisa nelpon kantor sambil sok penting bilang, "gak bisa masuk! Saya harus bedrest, tau!"
Eh, niat tinggal niat.
Senin siang, sepulangnya Hikari dari sekolah, badannya demam tinggi. Di sekujur tubuhnya muncul bintik-bintik seperti cacar. Oalaaaahhh Gusti! Saya bawa diri dan perut sendiri aja susah, hari itu saya harus bawa Hikari ke dokter!

"Kena virus, Bu!" kata Pak Dokter yang sabar terhadap saya ini.
"Virus apa? Cacar?"
"Virus entero, seperti cacar. Tapi ini gak ada isinya. Saya pikir ini penyakit HFM (hand-foot-mouth disease)."
"Bukan tipus?"
"Kalo tipus gak pake bentol-bentol begini, dong, Bu!"
"Kok batuk juga?"
"Ya, ini tenggorokkannya meradang."
"Yakin bukan tipus, Dok?"
Dokternya melotot.

Pulangnya saya mencari kambing hitam. Papap harus jadi kambing hitam hari itu. Dia yang bawa Hikari berenang dua hari sebelumnya...

Setelah itu...
Saya tewas terkapar. Bangun hanya untuk ke toilet.
Hikari yang menangis dan mengigau hanya bisa dipeluk sebisanya.
Papap terpaksa harus menjaga dua orang sakit. Terpaksa bolos ke kantor.
Besoknya, Papap sakit juga.
Halah!
Gue juga yang musti turun tangan!

ps: masih sedikit diare. Nulis blognya disambi ke toilet yah!

A Quake

Just now there was a quake.
It had to be quite big because it could wake everyone up at my house and around the neighborhood.
It could wake up Papap, and let me tell you that it is extremely difficult to wake up a sleepy head like him.
Thank God, it wasn't destructive.
How about you? Are you all okay?

I just hope that whatever happened around here was not destructive at other places, either.

Gilmore Girls

Pernah nonton film seri tv Gilmore Girls kan?
Masih ingat konflik yang terjadi di film itu kan?
Bagaimana si Lorelai Gilmore selalu berantem dengan maminya -Emily- yang super duper pengatur itu?

Bagaimana urusan sekolah Rory dan urusan golf Rory-Grandpa menjadi ajang tarik-tarikan Lorelai dan maminya?

Ingat dong...

Nah, walau tak separah mereka, saya sedang mengalami episode Lorelai-Emily.
Ceritanya, saat ini kami -saya, Papap, dan Hikari- sedang mempunyai suatu proyek maha besar, maha penting, dan maha berpengaruh pada setidaknya 5 tahun kedepan kehidupan kami. Maaf, proyeknya terpaksa dirahasiakan karena kata orang pamali kalo ribut-ribut duluan. Dan bukan, ini bukan proyek bikin adik buat Hikari.

Saking pentingnya proyek ini, kami mempekerjakan seorang ahli handal. Sekali lagi, ini bukan ahli kandungan. Ahli handal ini kami peroleh atas referensi si Mami yang direferensikan oleh bosnya si Mami yang direferensikan lagi oleh temennya bosnya si Mami.

Masalah dimulai ketika kami -ibarat syuting film- mau meneriakkan kata, 'action!'. Tiba-tiba, si Mami mulai ribut tentang detil A, B, C, D sampai Z. Si Papi rupanya gak mau ketinggalan. Emansipasi Eyang Kakung. Papi ribut tentang detil A1, B1, C1, D1 sampai Z1. Eeeehh, bosnya si Mami gak mau tertinggal pulak. Beliau juga ribut tentang... A sampe Z jilid 2. Lalu semua orang mulai ribut yang mengakibatkan kami berdua (Hikari merasa solider dan ikut ribut minta buku gambar) hanya bisa menganga lebar... Lalu saya berubah menjadi Lorelai Gilmore... Lalu, seperti pada film GG dimana Emily selalu menang, si Mami pun kali ini menang lagi.

Malam itu, saya, Hikari dan Papap, tergeletak di atas tempat tidur sambil menatap langit-langit. Langit-langit kamar, maksudnya. Kami terlalu capek untuk bersuara setelah perdebatan panjang sebelumnya.

Tiba-tiba, Hikari bersuara, "Pap, di Indonesianya kok lama sekali. Kapan Ari pulang ke Jepang."
"Iya, Pap. Kapan?" Sigh
Tidak ada jawaban.
Kami menengok.
Papap sudah ngorok.

Teatrikal, or whatever that means!

Guru-guru SD saya dulu itu sungguh kreatif. Kalau ada peringatan hari Pahlawan, kami -para murid- akan mempersembahkan drama kepahlawanan. Ceritanya? Yaaaa, standar lah. Indonesia kaya. Belanda datang. Indonesia dijajah. Indonesia bete. Indonesia perang. Belanda kalah. Tidak lupa para tokoh kemerdekaan pun dihadirkan kembali ke atas panggung. Ada yang jadi Pangeran Diponegoro, ada Cut Nyak Dien, ada Jendral Sudirman, dan tentu saja selebriti pentingnya: Soekarno dan Hatta. Entah kenapa, saya selalu kebagian jadi Jendral Sudirman. Kata teman saya, si Opik, itu pasti karena hanya saya yang cocok pake peci.

Satu-satunya hari peringatan nasional yang tidak pernah kami drama-kan adalah Hari Kesaktian Pancasila. Mungkin karena susah berakting jadi orang sakti. Hari-hari lainnya -termasuk hari raya keagamaan- pernah kami drama-kan. Kalau drama di hari raya keagamaan, saya gak jadi Jendral Sudirman lagi. Biasanya saya hanya jadi seksi sibuk alias pesuruh yang cape deh disuruh bantu-bantu. Si Opik bilang (lagi) ini karena muka saya kurang alim buat main di drama Maulid-an.

Beberapa hari yang lalu, beberapa stasiun tv menayangkan aksi teatrikal oleh sebuah SD di Bogor. Sayangnya nama SD itu gak pernah disebut. Tapi pastinya, SD itu ada di Bogor. Aksi teatrikal itu dilakukan dalam rangka aksi keprihatinan dan dalam rangka hari pendidikan nasional. Kata Aksi Teatrikal dan Aksi Keprihatinan itu berasal dari bahasa guru SD tersebut tentunya. Entah apakah para murid SD itu tahu apa artinya.

Ada apa di Aksi Teatrikal itu? Di layar tv ditampilkan adegan murid-murid SD berseragam rapi merah putih sedang berpura-pura menjadi praja IPDN. Mereka pura-pura menendang temannya, memukul, menonjok, menyiksa, dan akhirnya si pura-pura korban akan pura-pura terjatuh dan kesakitan. Sementara itu murid-murid yang lain bersorak-sorak ramai menyaksikan tayangan pura-pura itu.

Gggggrrrrrhhhhhhhhhhh!!! SAYA MURKA!

Satu. Apa anak SD -pemain dan penonton- mengerti apa artinya aksi teatrikal?
Dua. Apa mereka paham tujuan kegiatan mereka?
Tiga. Apa ada hasil positif yang bisa di dapat dengan BERPURA-PURA jadi praja IPDN yang memukuli juniornya?
Empat. Apa the-so-called aksi teatrikal semacam itu PANTAS untuk dimainkan dan disuguhkan untuk anak SD?
Lima. APA GAK ADA CARA LAEN GITU LOOH???

Seorang wartawan bertanya kepada beberapa murid SD itu apakah tujuan kegiatan mereka. Jawaban mereka? Standar hafalan skenario. Begitu sang wartawan bertanya di luar hafalan mereka, jawaban mereka standar: tersenyum simpul.

Sewaktu saya memerankan Jendral Sudirman dulu, saya mendapat pemahaman tentang sejarah perang negara saya. Dan memang itu tujuan drama-drama di sekolah saya itu. Daripada murid menghafal sejarah, guru-guru saya mengajak kami membuat naskah dari buku sejarah dan memerankannya. Sumpah, kami sendiri yang membuat naskahnya! Maka kadang-kadang kami bertengkar hanya gara-gara kami tak sepakat siapa yang menjahit bendera Pusaka, atau siapa yang menculik Soekarno-Hatta, atau jam berapa Soekarno-Hatta dibawa ke Rengasdengklok.

Sekarang, bila tujuan pementasan drama SD saya dianalogikan dengan aksi teatrikal ala IPDN tadi, pemahaman apa yang akan ditelan oleh murid-murid SD itu?
Oooh, kalo masuk sekolah itu kita bisa maen tendang-tendangan loooh.
Oooh, kalo sudah besar kita bisa pukuli adek kelas kita loooh.
Oooh, sebelum memukul, kita harus menendang dulu loooh.

Goblok!

Mudah-mudahan surat protes saya ke satu surat kabar bisa dipasang di surat pembaca!

Careful Wish


Be Careful With What You Wish For!

And that is so true.
For the last couple of weeks, I had wished to go out and then have a week-or-two rest.
Really. I was thinking Bermuda.
Or Bali, or Jogja, or somewhere near like Pattaya, may be?
Well, God didn't sleep.
He heard my wish.
He sent me out of the house and he told me to have a week rest.

Not in Bermuda, or Bali, or Jogja, or Pattaya.
It was in a big green building which smelled drugs and, er, others.
Yes, I was hospitalized for a week. And I just got released today.
And, No.
Unlike those hospitals in our sinetrons, this one didn't have either handsome doctors or pretty sexy nurses. (sorry for being so gender-ish)

Dear God, not that I am not thankful, but,
I think You've made the wrong interpretation this time...

What the?

What's wrong with my blog?
Why can't I see that blue layout?

HEELLLPP!!!

Lebih gampang cari pacar?

Seminggu mantengin Hikari sakit plus dapat tugas tambahan: ngurus rumah beserta isinya (2 mbah, 3 laki-laki bangkotan, 1 anak kecil sakit, 3 kura-kura, dan sejibun ikan hias) karena PRT pulang kampung (red: baca TATI) membuat saya tepar di akhir minggu. Alhamdulillah, walau di akhir minggu pertama saya sempat meriang merem melek, Hikari sudah mulai membaik. Dengan catatan, kalau dia gak banyak pecicilan.

Minggu ini PRT saya yang satu rencananya balik ke rumah kami. Tati tentu saja tak ikut balik. Sebagai gantinya, si bibi membawa kerabatnya yang lain. Fakta ini -yang tadinya membuat saya berduka sekali- sekarang membuat saya deg-degan. Ganti PRT berarti harus training ulang, kan? Padahal saya itu bener-bener terrible PRT trainer. Stress lagi deh.

Kalau ingat si Tati, saya makin sedih. Walau masih kecil dan belum pengalaman ngasuh anak (ikut dengan saya sejak Hikari umur 1.5), anak itu pintar. Dan yang pasti, dia ngerti adat saya yang nyebelin dan moody. Dia gak pernah saya ajarin harus gini gitu karena saya paling mati gaya kalau harus ngajarin kerja PRT.

"Gini loh caranya masak. Ini kompor. Ini lada. Ini sabun cuci..."
"Emangnya mbak bisa masak ya?"
"Nggak sih. Ini juga sok tau aja."
See what I mean?

Dengan si Tati, saya hanya ngerjain apa yang harus dikerjain. Learning by doing. Lalu, dengan cerdasnya, dia memperhatikan diam-diam. Karena kalau dia kebanyakan nanya, jawaban standar saya adalah 'tanya Ibu aja deh'. Dia memperhatikan jam berapa saya ngebangunin Hikari. Apa yang saya lakukan setelah itu. Bagaimana cara saya memandikan, memakaikan baju, memberi makan, sampai menidurkan Hikari. Lama kelamaan, dia melakukannya persis sama dengan saya. Tanpa perlu instruksi verbal. Hanya kadang-kadang saya kasih komen atau instruksi, sisanya benar-benar hasil belajar dirinya sendiri. Selain itu dia ikut menerapkan nilai-nilai (values) yang saya berikan ke Hikari. Misalnya, dia tahu kalau saya ingin Hikari makan sambil duduk manis (dan tidak berlarian kesana-kemari), maka dia akan mengikuti prosedur saya. Atau dia tahu kalau sepulang sekolah Hikari harus melakukan A-B-C, ya dia ikuti tanpa harus saya awasi. Kalau Hikari sedang main, si Tati juga ikut ngajarin alfabet, misalnya, karena dia melihat saya melakukan hal yang sama. Nah, model PRT seperti Tati ini rasanya tidak diproduksi lagi. Pengasuh Hikari yang pertama -walaupun jagoan ngasuh anak- seringkali memangkas prosedur dan nilai-nilai terapan saya. Akhirnya dia malah menerapkan nilai-nilai yang dia anut....

Maka, ketika kali ini Hikari akan mendapat pengasuh baru, saya mulai bertanya-tanya 'What if?'.
"Yang penting dia bersih," kata si Papap.
"Ya, itu harus. Tapi dia juga harus sayang anak. Perhatian," jawab saya.
"Kamu ajarin dia untuk ngurus Hikari," kata Papap lagi.
"Yang penting jujur," kata si Mami.
"Jangan yang bodo banget. Nanti bisa dikerjain si Ari," kata si Babe, yang sering jadi bulan-bulanan Hikari.
Dia harus begini.
Dia harus begitu.
Dia harus seperti ini.
Dia harus seperti itu.

Sigh.
"Pap?"
"Oi?"
"Kayaknya lebih gampang cari pacar daripada cari pembantu."
"Hihihi..."

Apa yang salah?

Hikari sakit.
Gejala typus.
Sewaktu hakim berjubah putih bersenjatakan stetoskop dan bersuara Tantowi Yahya itu mengeluarkan vonis atas selembar kertas, saya kontan duduk membeku.

"Gak mungkiiiinnn, dok!"
Mulut saya pun mengeluarkan serentetan suara penuh alasan dengan kecepatan tinggi.
Typus, dok?
Gejala.
Whatever.
Ya, hal seperti ini bisa terjadi.
WHAT?!
Dia gak pernah jajan, Dok. Kebersihannya selalu saya perhatikan. Selalu cuci tangan, kaki, dan muka hampir 1000x sehari (yang langsung diamini oleh Papap). Ganti baju sehari lebih dari 5 kali (Papap mengamini lagi). Mandi bisa 4 kali minimal (Papap ngangguk lagi). Kamarnya selalu dibersihkan pagi dan sore dengan antiseptik (Papap ngangguk-ngangguk). Dia gak pernah main sembarangan, apalagi yang kotor-kotor. Bla, bla, bla, bla...
Di rumah ada yang sakit?
Gak ada.
Dia sudah sekolah?
Sudah. TK kecil.
Bu, di sekolah kan macam-macam ada loh...
WHAT??!!
Apa itu berarti saya harus mengeluarkan dia dari sekolah?

Melihat wajah berpikir saya, Papap langsung memotong. He knows how far I would go. AND he doesn't want to go down that road.

Sudah 4 hari dan saya masih berkutat dengan pertanyaan 'apa yang salah?'.
Saya merasa gagal jadi ibu.
Saya merasa gagal melindungi.
Saya meleleh mendengar Hikari mengigau dan menceracau dalam demam tingginya.
Apa yang salah?
Typus, gitu loh.
Yang katanya seseorang bisa terkena karena tidak higenis. TIDAK HIGENIS?!
Please...
Kurang paranoid apa lagi SAYA ini?

Dan anda tau apa yang jadi ironi?
Diantara kita bertiga, Papa yang paling bocor ke-higenis-annya.
Dan dia tak pernah kena penyakit ketidak higenisan....
Tell me, how fair life can be?

Blogger Templates by Blog Forum