CINTA

3 Oktober 1991, pada suatu siang hari Kamis yang berdebu di pinggir jalan di bawah halte bis perempatan Salemba, Matraman, Pramuka, teman baikku satu sekolah yang masih berseragam putih abu-abu itu bilang kalo dia suka padaku... aahhhhhh... Lalu sejak itu berpacaranlah kita.
Setiap ada kesempatan, pacarku itu selalu memberikan aku kartu. Isinya? Rahasia dong! :) Ada kartu Valentine, ada kartu Selamat Ulang Tahun, ada kartu Selamat-Jalan-ke-Luar-Kota, ada kartu Pokoknya-Romantis-Walau-Tanpa-Event, ada kartu Selamat-Membaca-Taiko untuk buku yang dia beli buatku, dan banyak lagi. Kalau tidak kartu, pacarku itu suka memberi aku kaset-kaset yang lagunya dia pilih sendiri. Semua kartu dan kaset-kaset itu, tetap aku simpan sampai sekarang. Bukannya diriku sentimentil, tapi buat mengingat kalo pacarku ini pada suatu masa pernah sangat-sangat romantis... hehehehehe....
Selain itu, setiap tahun, pacarku selalu memberikan aku cincin perak. Sampai sahabatku yang waktu itu masih culun (beneran Lin, asli culun!), berkomentar kalo kami bisa pacaran sampai 10 tahun, aku akan tampil layaknya lady rocker dengan cincin perak memenuhi kesepuluh jari tanganku... huahahaha.... Ternyata, kita benar-benar pacaran sampai 10 tahun! Dari tahun 1991 sampai 2001 tanpa ada terucap kata putus yang menakutkan itu...

Lalu pada tahun 2001, 11 hari dari Anniversary jadian kita, tepatnya hari Minggu sore, tanggal 14 Oktober, kita pun menikah. Habis bingung mo ngapain lagi? kekekekeks... Dan hari ini, 14 Oktober 2005, sudah genap 4 tahun kita menikah. Alhamdulillah. Mantan pacar yang sekarang bernama Papap semalam berucap semoga ini untuk selamanya, Amien.
Berbeda dengan cerita-cerita dalam sinetron, tidak ada perayaan untuk ulang tahun perkawinan tahun ini karena Papap harus pergi ke Tokyo. Tadinya sih kupikir dan hampir kurencanakan, akan ada perayaan kecil-kecilan seperti buka puasa diluar atau jalan-jalan naik sepeda melihat-lihat pemandangan Honjo yang masih sama itu. Tapi... si Papap harus pergi ke luar kota (read: Tokyo itu luar kota!). Lalu, melamunlah aku berharap mungkin (dengan huruf besar) pulangnya suami tersayangku akan membawa sekotak coklat yang manis, serimbun bunga mawar merah, sekerjap cincin permata raksasa, atau semengkilap mobil mercedes ;b Untunglah, dia pulang membawa selamat!

Tapi... apa itu di kantung kresek yang dikeluarkannya? Oleh-oleh romantis kah?Ugh, ternyata si tercinta ini pulang membawa sambal dan dauh sereh, hasil beli dari toko Indonesia di Tokyo................... Hebatnya, aku tidak ngambek! Apalagi marah. Walaupun dalam hati berharap-harap romantisme Papap kambuh lagi. Tidak perlu kartu, kaset, cincin, mobil, kondominium. Kupikir segenggam mawar merah pun jadilah. Kenapa Pap? Tidak segenggam? Oke... sebatang? Ugh! I should have known better! Sejak jamannya pacarku masih romantis sampai suamiku menjadi realistis, dia -sepertinya- alergi memberi aku bunga. Dari bunga rumput sampai bunga mawar -yang dia tahu banget(!) adalah kesenanganku- tidak pernah diberikannya padaku! Padahal, oh padahal, aku sungguh-sungguh mencintai bunga mawar.... Tapi dari semua bunga mawar ataupun bunga-bunga yang lain, terkecuali bunga Bank, yang pernah aku terima, tidak ada satupun yang bersidik jari dirinya. Aku sudah mencoba meminta dari cara yang sangat simbolis sampai yang benar-benar ironis: "Pap, itu ada bunga mawar di situ, beliin aku deh!" Semua cara tak mempan. Paling-paling dia menyuruhku membelinya sendiri. Papap, oh, Papap!? Demane romantesnya beli bunga mawar buat dere sendereeee????!!! Untunglah, untuk melipur lara, Papap kemudian mengajak nonton film bersama. Romantis?

Nggak lagee! Dia ngajak nonton film hantu the Grudge yang walaopun isinya tentang hantu penasaran yang mati menderita karena cinta, film itu benar-benar-benar TIDAK ROMANTIS! Seperti mengamini ucapan favorit Papap: yang penting kan dalam hatinya!

Jadi, sudah dululah bahasan tentang cinta pada hari ini. Aku akan merenungi dengan penuh syukur dulu hari indah ini. Aku juga akan mensyukuri bawaan Papap hari ini, karena aku memang butuh daun sereh untuk masakan hari ini. Dan sambalnya? Ah, mana sedap makanan kita tanpa sambal. Ehmm... ternyata Papap yang sudah realistis itu masih sangat romantis: dauh sereh untuk makan, sambal sebagai bumbunya dan senyum manis Papap?! Apa ada hal yang lebih romantis dari itu? Tentu tidak!

Nah, sampai posting berikutnya yang masih dalam rangka anniversary. Aku sudah merencanakan menulisnya, sebenarnya. Tapi karena kejutan indah hari ini, semangatku menjadi menurun dan kata-kata yang tadinya telah terukir di jari tangan menjadi menguap. Aku obati dulu semangatku, dan... saya akan kembali!

Papap: "Aku titik titik padamu loh."

Mami: "Iya, iya, tapi tuuuuuut nya mana sihhh?"

Papap: "Nih, ada di hati."

0 comments:

Blogger Templates by Blog Forum