Berbagi Rezeki

Satu dari beberapa rencana kami sebulan yang lalu adalah memasang telpon dari Perusahaan Telpon Milik Negara. Sebagai warga negara yang baik, patuh pada peraturan dan beriman, kami mendaftarkan diri kepada Customer Service Online perusahaan tersebut.
"Ini nomer pendaftarannya, Pak. Nanti rumah Bapak disurvei dulu."
"Kapan prosedur lapangannya selesai?"
"Seminggu kira-kira. Minggu depan Bapak telpon lagi."

Perasaan kami girang. Wah, sudah profesional nih. Ada rasa bangga dan kami pun bisa tidur nyenyak selama seminggu.

Minggu berikutnya, saya yang menelpon.
"Mbak, nomer pelanggan sekian sekian kapan bisa dipasang?"
"Line telponnya belum ada, Bu. Telpon kami seminggu lagi."
"Kok bisa belum ada, Mbak? Wong saya tahu ini jalur lewat di pekarangan depan rumah saya. Teknisi telponnya aja waktu itu bilang tinggal tarik kabel dari kotak besi di depan rumah saya?!" (Kebetulan sewaktu kami sedang membangun rumah, tetangga sebelah sedang memasang telpon dari perusahaan yang sama)
"Iya, Bu. Tapi disini memang sudah penuh."
Sudah lah. Saya malas ribut. Kami menunggu seminggu lagi.

Seminggu lewat lagi. Jawaban perusahaan itu masih sama.
Tiba-tiba saya dengar kabar-kabar.
"Kemane aje lu! Masang telpon perusahaan itu memang lama tau. Bisa beberapa tahun. Kecuali elu mau bayar calo!"
"Kita pasang pake calo, Mbak. Waktu kita dateng ke kantor cabang itu, kita dikasih tau kalau jalurnya penuh. Trus, pas keluar ada calo dan satpam yang nawarin untuk pasang. Cepet tuh. Gak sampe seminggu udah kepasang."
"Pake calo. Bayar sejuta setengah. Tiga hari kring, De'!"
"Disini, kita kumpulin orang satu RT. Trus, minta pasang sama calo. Kalau rame-rame begitu, jadi lebih murah."
"Iya, kalau lewat jalur resmi, bertahun-tahun gak bakal dapet. Tuh, kayak tante itu."
"Gak usah masuk kantornya, Mbak. Baru sampai halaman parkirnya aja udah ditawarin kok."

Saya masih tak percaya. "Masa' sih?! Itu kan artinya mereka memberi kesempatan pada calo dong!"

Kemarin, Papap di telpon seorang petugas Perusahaan Telpon Milik Negara. Entah darimana dia tahu nomer telpon hp si Papap.
"Pak, katanya mau pasang telpon ya?"
"Iya."
"Kalau nunggu dari kantor, bisa lama, Pak."
"Trus?"
"Saya bisa ngurusin. Bayarnya belakangan aja kalau sudah terpasang."
"Biayanya berapa? Harga resmi kan? Tigaratus sekian?"
"Wah, bukan, Pak. Itu yang jalur resmi. Kalau mau cepat, biayanya SATU SETENGAH JUTA."

Mendengar cerita saya, seorang kolega berkomentar berat, "Yah, itu caranya mereka berbagi rezeki."

Kalau bukan karena fasilitas internetnya, saya tidak akan terus berharap ada mukjizat!

7 comments:

    Ya Tuhan ... masih sama aja ya dgn jaman ortu gw dulu pasang tilpun pas thn 80-an. Nunggu 1.5 tahun baru dapet krn emak gw kekeuh ngga mau bayar calo hahahah.

    bukannya internetnya dia juga "slowly" mbak?

    saya dah hampir setahun nunggu yang resmi ga ada kabar, kalo telp ke 147 katanya blum ada jaringan atau apa gitu, ya dah biarin aja deh :D

    kalau perlu internetnya coba pake first media kalau domisili di jkt, untuk sambungan baru ya begitu itu prosesnya. ini kan negeri calo :D

    yah...kan lelet mbak inetnya? napa ga pake yang lain aja? lama pula nunggunya.

    mau pasang internet pake telpon rumah?

    hmmm,, kayaknya ada alternatif lain kan (ie: yang disediain ama perusahaan tv kabel-yang disebutin sama bang totok-)??

    selamat berjuang deh
    ps: salam kenal ya

    di desa tempat saya 'cuma' bayar 500an tuh. itu pun calonya sdh super hiperaktip nawarin sambungan.

Blogger Templates by Blog Forum