Plan B

Dalam satu wawancara, perempuan manis salah satu anggota AB Three ini pernah bilang kalau dia tidak pernah bisa keluar rumah tanpa membawa pinsil alis. Kalau sampai si pinsil alis ini ketinggalan, mood-nya bisa kacau seharian. Suatu obsesi yang aneh atas pensil alis, menurut saya. Tapi toh saya tidak bisa menghinanya karena saya sendiri punya obsesi yang aneh pada sisir.

Saya cuma punya satu sisir. Warnanya oranye. Sisir itu sisir plastik bergigi. Bukan jenis brush atau sikat. Dan sama sekali tidak kinclong mengilap mahal. Tapi kalau menyisir rambut saya... Wuiiiih, hebat sekali. Saya langsung merasa cakep! Tidak ada satu sisir lain pun yang bisa menandingi kehebatan sisir oranye itu!
Saya mencuri sisir itu dari si Kumendan, bapak saya, sewaktu saya masih SMP. Si Kumendan yang punya obsessive compulsive berlebihan terhadap barang-barang miliknya, jelas (waktu itu) terlihat ingin ngamuk. Tapi demi melihat mata saya yang berbinar dan kerelaan saya mencuci dan menyimpan sisir itu, si Kumendan mengalah. Dari SMP sampai sekarang si sisir masih saya simpan dan pakai. Waktu kami pindah ke Jepang pun saya bawa-bawa itu sisir. Sewaktu minggu lalu si Mami melihat saya mengeluarkan sisir dari tas saya, si Mami serta merta menjerit syok.
"Ya Alllllllaaaaaaaaaaa, itu sisir butut jelek masih disimpan-simpan aja! Buang!"
Jelas, saya tidak menuruti kata-kata beliau. What else is new, right?

Sisir itu memang sudah butut. Walau warnanya masih oranye, giginya sudah hilang 5. Bayangkan! Bayangkan apa yang dipikirkan orang kalau saya nekat menyisir rambut di tempat umum (toilet umum, bis, kereta, pesawat...) dengan sisir oranye itu! Gile nih cewek, tasnya sih kulit buaya, gayanya sih kosmopolitan, ngomongnya sih cas cis cus bahasa Inggris, tapi liat dong sisirnyaaa...

Sisir itu sudah berkali-kali hilang. Tapi selalu ketemu lagi. Emang jodoh kayaknya. Pengalaman sisir oranye itu hilang yang paling dramatis adalah sewaktu kami masih tinggal di rumah tua di Halim. Sisir yang saya jelas-jelas letakkan di meja rias tiba-tiba raib. Habis lah saya puas menuduh semua orang yang ada di rumah, termasuk Hikari yang masih berumur bulanan. Tidak ada yang mengaku. Malah semua orang menyukuri hilangnya sisir oranye butut itu. It was about time I healed myself, kata mereka. Si Mami malah jelas-jelas tersenyum puas. Saya meradang. Lalu saya ingat. Penghuni rumah itu bukan cuma kami sekeluarga. Ada penghuni lain yang tak terlihat yang sering menyembunyikan barang-barang di rumah kami. Dan dia itu bukan tikus! So, you want to know what I did?
Di kamar, di dekat meja rias itu, saya berteriak mengancam!
"Woooiiiii, jin sialan! Kembaliin sisir gueeeee! Gue butuh sisir itu sekarang! Kalo sampe besok pagi sisir gue gak balik, awas lu!"
Ajaib sisir saya balik sebelum 24 jam!
Mau mencoba?

Nah, sekarang kita ke pokok masalah sebenarnya.
Kalau si penyanyi tadi tidak bisa meninggalkan rumah tanpa pinsil alis, saya tidak bisa meninggalkan rumah tanpa sisir satu itu. Kemana-mana, sisir itu saya bawa. Terutama jelas, kalau saya mau ke kantor. Alasannya bukan karena emotional attachment saya pada si sisir. Ini lebih kepada bencana yang bakal terjadi kalau saya sampai ketinggalan sisir. Alasannya adalah kebiasaan buruk saya.
Setiap hari, setiap mandi pagi, saya selalu keramas. Naaaaaaah, saya punya kebiasaan tidak pernah menyisir rambut basah saya. Saya selalu membiarkan rambut saya kering sendiri. Jadi, bayangkan apa yang terjadi seandainya sisir itu ketinggalan namun saya sudah meloncat ke dalam mobil, memacu mobil kencang-kencang ke kantor, dan sesampainya di kantor, sesaat sebelum membuka pintu mobil dan sesaat setelah melirik spion, saya baru menyadari kalau saya belum sisiran?!
Kejadian begitu terjadi bukan cuma sekali.

Pesan moral saya hari ini adalah harus selalu punya Plan B dalam hidup ini. Segimana pun pahitnya Plan B itu (karena untuk orang perfectionist dan penderita obsessive compulsive, saat mendapatkan Plan A tidak berjalan sempurna seketika itu juga hati ini jadi hancur berkeping-keping dan depresi melanda). Ketika saya lupa membawa sisir sementara rambut saya bertebaran ke seluruh penjuru mata angin, saya harus punya Plan B! Plan B saya adalah masuk ke gedung kantor lewat pintu belakang dan menghilang dari gegap gempita kantor hari itu dengan alasan sibuk. Coba kalau saya tak punya Plan B, anda pasti sudah enek membaca posting saya yang lagi-lagi soal rambut...

2 comments:

    Hihihi....andita emang gitu, mbak.... *ditabok*

    Hehehe... kali musti sedia jepit rambut buat plan C. :) (pengalaman pribadi)

Blogger Templates by Blog Forum