Pity yourself!

Ketika berada pada kondisi terjepit dimana seorang manusia di kantor saya harus membuat saya mau bekerjasama dengannya, dia berkata begini:
"You don't have to like me. But you still have to do the job!"
Saya spontan nyengir lebar tanpa bisa ditahan.
Respon saya langsung membuat dia layu dan balik kanan bubar jalan. Mungkin dia pikir saya meremehkan intimidasinya. Seandainya dia mendengar gumaman saya saat itu...

If you think working with you while not liking you is a punishment for me, imagine yourself! You have to work with your own self AND you have to like yourself! Ha! Who is more miserable now?


Sent from my E71 Nokia phone

Look Who's Talking

Hujan dari semalam di pagi ini belum juga reda. And I thought I could have a nice comfortable sleep from the sound of the rain.
Jam 6 pagi, hujan masih mengguyur tapi saya sudah harus bangun dan mandi. Kepala yang nyut-nyut karena migrain dan bayangan akan jalanan yang pasti macet berat membuat persiapan saya ke kantor tidak ikhlas. Tidak sepenuh hati. Tapi saya harus bangun karena kewajiban mengantar Hikari ke sekolah.

Jam 7 pagi, saya selesai bersiap dan Hikari selesai makan pagi. Mungkin karena dingin dan kurang tidur, Hikari juga terlihat lesu. Toh dia masih sempat menarik saya segera berangkat karena takut terlambat. Dia masuk jam 7:30. Diantara kelesuannya, dia masih terlihat ikhlas akan kewajiban masuk sekolah.

Keluar dari komplek, saya lihat antrian di jalan Alternatif Cibubur sudah mengular. Sekali lagi saya mengeluh. Saya sudah bisa membayangkan jalanan yang hanya 5 kilometer ke sekolah Hikari pasti juga macet. Apalagi, para polisi senang sekali menutup belokan ke kanan ke arah Cikeas sehingga saya harus menyetir dua kilometer lebih jauh hanya untuk U-turn.

Mendengar saya menghela napas berkali-kali, Hikari bertanya. "Mama kenapa?"
Jawaban saya singkat, "sakit kepala, Nak. Macet lagi."
Hikari diam lagi dan sibuk dengan coretan-coretan gambar dinosaurusnya.

Beberapa ratus meter mendekati belokan ke Cikeas yang ditutup palang, jalanan sudah tersendat. Padahal U-turn masih 4 kilometer lagi. Diseberang belokan, saya bisa melihat seorang polantas mengatur jalan. Tiga mobil di depan saya mendekati belokan Cikeas, polantas itu berjalan menyebrang ke arah palang jalan. Mata saya terpincing ke arahnya tidak bergerak. Hati saya berdebar keras.
Dua mobil di depan saya mendekati belokan Cikeas, polantas itu dalam gerakan lambat menarik palang-palang dari belokan. Saya spontan melambatkan mobil yang sudah lambat karena harus mengantri.
Satu mobil di depan saya, dalam satu sentakan, polantas itu membuka belokan dari palang-palang penghalang! Saya memberi sen kanan dan Pak Polantas yang melihat sen saya melambaikan tangan untuk menyuruh saya berbelok.
Alhamdulillah!
Alhamdulillah!
Alhamdulillah!

Mendengar saya terus-terusan berkata Alhamdulillah, Hikari menegakkan tubuhnya melihat ke depan mobil dan bertanya ke saya.
"Kenapa, Ma?"
"Kita bisa belok, Nak. Alhamdulillah."
"Kenapa? Pak Presiden mau lewat?"
(Ya, biasanya belokan dibuka bila Presiden akan pulang ke rumahnya)
"Enggak, Nak. Pak Polisi itu baik hati. Kita dibolehkan lewat."
"Kenapa boleh?"
Saya tersenyum dan tanpa sadar mengeluarkan ceramah khas emak-emak.
"Karena Hikari ikhlas mau sekolah. Kita dibantu Allah. Kalau kita ikhlas, Allah akan bantu."
Hikari menoleh ke arah saya lama.
"Kenapa, Nak?"
"Mama juga ke kantor harus ikhlas..."

Astagfirullah....

Honestly?

Dear you. Yes, you.

Do you honestly believe I would say, "no problem. Perfectly understood." when you were late to pick up your child at my house again for the 101 times?
Do you really think I'd be okay and understanding watching my son's tired face because he missed his nap whenever you failed to show up on time?
Do you honestly expect me to give you my sweet smiles after you fail your promises for the 101 times?
And, do you actually think I can be ignorant with the fact that your child was ruining my no-maid-available-place because your child was bored waiting for you?

Geee... Where do all manners go?
Darling, going shopping, watching a movie at the cinema, having a guest at home, cooking an early dinner at 2pm are not, let me repeat, are not good excuses.
So please believe me when I say I do mind your manners, I want you come right row right then, and I don't do lipservicing. If you think otherwise, you are in a deep denial.

Yours truly.


Sent from my E71 Nokia phone

Senyummu Mahal

Sebagai pelanggan jalan tol Jagorawi terus ke tol Wiyoto Wiyono sampai mentok, saya hapal betul kelakuan ruas-ruas tol itu. Jarang cakepnya. Sampai-sampai para host di radio yang rajin menginformasikan kondisi jalan tol (mudah-mudahan amalan mereka diterima Tuhan!) cuma punya kosakata terbatas mulai dari 'antri, padat, padat-banget-percaya-deh-sama-gue'.

Kondisi ruas tol seperti itu ya wajar bila dilihat dari latar belakangnya: jumlah mobil yang luar biasa dan ketiadaan jalan arteri. Karena itulah saya tidak mengharapkan petugas loket tol yang setiap jamnya mengurusi pengguna ruas tol yang ribuan jumlahnya bisa-mampu-mau tersenyum pasa saya. Forget customer service 101. Masih bagus mereka gak asma kena asap hitam dari ribuan mobil yang lewat.

Saya pun maklum dengan ketiadaan senyum dan wajah lurus petugas loket yang tidak merespon ucapan terima kasih saya. Sampai saya menemukan senyum terhangat di gerbang tol Cimanggis.

Kalau anda pernah lewat gerbang tol Cimanggis dari Jakarta atau ke Jakarta, anda akan menemukan petugas-petugas loket penuh senyum dan rajin berucap terima kasih. Malah sapaan Selamat Pagi/Siang/Sore/Malam tidak pernah lupa diberikan. Suatu kehangatan yang seringkali membuat hari saya cerah. Thank you, you guys. Your smile has probably helped a lot of people survive another day.

Smile, and the world smiles with you.

Sent from my E71 Nokia phone

Mohon Kebijaksanaannya

Hari ini, setelah bertahun-tahun hidup di negeri ini, saya menyadari bahwa orang-orang Indonesia lebih banyak yang bijak daripada yang tidak. Apa buktinya? Dalam jangka waktu dua minggu saja, saya bisa mendengar kata kebijaksanaan disebut berkali-kali...

"Nilai saya kan hanya kurang satu poin saja. Minta kebijaksanaannya lah. Jangan kaku begitu."
"Anak saya kan hanya lupa bawa persyaratannya saja. Minta kebijaksanaannya supaya bisa ikut ujian."
"Mohon kebijaksanaannya. Saya mau anak saya belajar disini aja. Jangan di cabang lain."
"Minta kebijaksanaannya, Bu. Masa' cuma gara-gara telat melakukan pembayaran, kursi anak saya hilang?"
"Kalau poin saya kurang dari segitu, saya gak naik pangkat. Tolong kebijaksanaannya dong."
"...kebijaksanaannya..."
"...kebijaksanaannya..."

Be careful with what you wish for. Saya hampir tidak tahan untuk tidak menjawab, "Pak, Bu, Dek, Mbak, Mas, karena saya bijaksana makanya saya harus menolak semua permintaan anda!"


Mbok ya kalau minta orang lain bijaksana itu, tengok diri sendiri dulu. Sudah bijaksana belum permintaannya?

trying to be a gadget girl

Use a mobile feature. Hope it will work. Or else.

Sent from my E71 Nokia phone

Mau Bikin Resolusi Apa Lo?

Siang hari bolong tanpa petir, teman saya menanyakan posting saya yang baru.
Saya jawab, "Posting baru? Belum ada yang baru kok."
Dia merespon, "Emang belom ada yang baru."
Saya nyureng, "Udah tau kok pake nanya?"
Dia bilang, "Disindir kok gak ngerti?!"
Lah?

Dia lalu bertanya lagi kenapa saya belum juga nulis soal resolusi tahun baru seperti banyak beberapa blogger yang dia kenal. Bukannya njawab, saya malah curiga.
"Ngapain lo pengen tau resolusi gue segala?!"
Gantian dia yang nyureng.

Sebenarnya dia gak salah sih bertanya soal resolusi saya. Yang salah sebenarnya timing pada saat dia tanya. Saya sedang... eh, gak jadi deh.
Menulis resolusi di blog menurut saya banyak bagusnya. Salah satunya adalah sebagai alat pembuat malu (malu tanpa awalan dan imbuhan!) sekaligus alat pecut seorang blogger. Kenapa? Karena kalau sudah go public punya resolusi satu sampai seratus lalu gak ada yang tercapai kan malu. Jadi resolusi di blog itu memecut seorang blogger untuk bekerja keras memeras keringat membanting tulang untuk mencapai semua resolusinya.
Tolong dicatat saya menulis begini tanpa pernah menepatinya.

Balik ke pertanyaan buat saya: apa resolusi saya di tahun 2010?
Jawabannya adalah: gak ada.
Tapi jangan salah. Walau saya gak bikin resolusi, saya punya resolusi yang dibebankan pada saya oleh khalayak ramai.
Si Mami bilang begini, "Kamu harus punya anak lagi di tahun 2010."
Teman nebeng saya bilang begini, "Lu kudu beli mobil baru." (karena di tahun 2009 ini record mobil mogok saya sudah mencapai 5 kali)
Lalu Papi saya bilang begini, "Harus mulai hidup sehat kamu itu!"
Si...mmm... seseorang bilang begini, "Mudah-mudahan tanah kavling kosong di sebelah rumah bisa dibeli ya."
Bos saya bilang begini, "Next year, you have to start creating bla bla bla bla..."
Ada juga si Anu yang bilang begini, "Tahun depan kamu harus punya reksadana begini begitu begono." (Yang saya timpali, 'bayarin ya.')
Tante saya bilang begini, "Kamu harus ngurusin badan mulai sekarang. Jaga makanan."
Lalu ada yang bilang begini, "Tahun depan novelnya keluar tiap bulan ya?"

Wajar dong kalau saya merasa saya tidak perlu membuat resolusi lagi? Everything has been taken care of. Terutama soal kesehatan. Sepertinya tahun depan resolusi kesehatan untuk saya sudah mendekati angka seratus. Dan pada saat orang keseratus satu menyumbangkan resolusi kesehatan untuk saya, saya sudah menyiapkan jawaban.
"Elo tau kan apa yang terjadi pada orang terakhir yang ngomong begitu sama gue?!"

Eniwei, diluar urusan apakah saya akan mengikuti resolusi yang dibikin orang lain untuk saya, saya berharap orang-orang baik hati tersebut mendapatkan balasan yang indah dari Tuhan karena telah membantu saya menunjukkan jalan di tahun 2010. Lurus atau tidak, urusan lain. Namun, saya juga berharap Tuhan akan selalu mengingatkan mereka untuk menepati resolusi mereka sebelum mereka memaksa saya menepati resolusi mereka.
Kan?

Broken-hearted

Have you ever felt broken hearted?

Today I've learnt
it doesn't need love
to break my heart.

A whisper at the end of the phone.
A message on the phone.
A picture on facebook.
They are enough to break my heart.

Don't pity me, please.
Because this pain I've been feeling
is nothing
compared to the pain
they are feeling.

To them, I whisper strength.
To them, I whisper hope.
To myself, I wish I could keep this broken heart for myself.
And by the end of the day, I'd rather choose I didn't have to tell them
about strength and hope.

Apa Arti Celana Dalam Anda?

Kirimkan lah celana dalam perempuan, syukur-syukur ditambah dengan bra sekalian, kepada sekelompok laki-laki. Apa yang akan terjadi?
Kemungkinan besar kelompok itu akan marah karena kumpulan perasaan yang timbul akibat kiriman tersebut: Rasa malu, rasa dihina, rasa dipermalukan, rasa dianggap banci, rasa dianggap penakut (atau malah pengecut?), rasa dianggap cengeng... apa lagi?

Lalu, buat eksperimen kedua.
Kirimkan lah celana dalam laki-laki, nggak perlu pakai kaos dalamnya, kepada sekelompok perempuan. Apa yang akan terjadi?
Karena saya merasa otak perempuan sangat kompleks, kemungkinan yang terjadi bisa ribuan: potret bareng dengan si celana dalam dan menaruh fotonya di fesbuk dan/atau di blog, mungkin menjual celana dalam itu, memberinya pada suami atau pacar, mem-pigura celana dalam itu untuk kenang-kenangan, bengong lebih dari satu menit dihadapan si pemberi sambil membatin apa maksudnya.

Apa maksudnya memberi celana dalam laki-laki kepada sekumpulan perempuan? Pasti bukan untuk menimbulkan rasa malu, rasa dipermalukan, rasa dianggap banci/cengeng/penakut/pengecut. Seperti juga rokok, stelan jas (yang dipakai perempuan), saya anggap celana dalam laki-laki dianggap sebagi simbol keberanian, ke-macho-an, kehebatan, kekuatan.
Dengan menggunakan analogi tersebut, saya anggap pemberian celana dalam laki-laki kepada sekelompok perempuan adalah simbol pujian. Perempuan-perempuan hebat yang kuat, mungkin begitu maksudnya. Jadi, sebaliknya memberi celana dalam perempuan kepada sekelompok laki-laki berarti simbol penghinaan. Bukan begitu?

Tidak logis? Mengada-ada? Mencari-cari korelasi? Dibuat-buat? Dihubung-hubungkan?
Terserah.
Toh saya punya contoh. Baca lah berita tentang sejumlah LSM yang memberikan bra dan G-string merah untuk pansus Century DPR. Apa maksud mereka? Apa persepsi anda terhadap benda-benda yang dijadikan simbol itu? Apakah pemberian bra dan G-string itu dimaksudkan sebagai penghargaan atas keberanian para pansus Century?

Membaca komentar ini, saya yakin bra dan G-string bukan sebuah simbol positif:
"Idrus Marham sebagai Ketua Pansus tidak boleh diintervensi. Kalau sampai diintervensi, pakai saja bra dan celana dalam ini," ujar aktivis Kapak, Hendri Tri. -Kompas.com

Bingung.
Apa hubungannya bra dan celana dalam dengan intervensi? Jangan-jangan para pemberi hadiah itu ingin meniru Soe Hok Gie yang memberi hadiah lipstik, cermin, dan beberapa barang kewanitaan lainnya untuk teman-temannya di DPR.

Pada 12 Desember 1969, Hok Gie bekerja sama dengan teman-temannya mengirim paket "Lebaran-Natal" kepada 13 perwakilan mahasiswa yang duduk di DPR-GR. Paket itu berisi lipstik, cermin, jarum, dan benang, disertai surat kumpulan tanda tangan dengan pesan, "Bersama surat ini kami kirimkan kepada anda hadiah kecil kosmetik dan sebuah cermin kecil sehingga anda, saudara kami yang terhormat, dapat membuat diri kalian lebih menarik di mata penguasa dan rekan-rekan sejawat anda di DPR-GR. Bekerjalah dengan baik, hidup Orde baru! Nikmatilah kursi anda—tidurlah nyenyak! Teman-teman mahasiswa anda di Jakarta dan exdemonstran '66" (halaman 364).


Well, saya pikir para pemberi celana dalam perempuan itu masih harus belajar banyak dari Soe Hok Gie. Bukan itu saja, saya pikir mereka juga harus belajar lagi tentang arti penghormatan dan penghargaan terhadap jender perempuan. Coba, mau enggak mereka mengirimkan jenis dan merk celana dalam dan bra yang sama dengan yang dipakai oleh ibu mereka ke anggota pansus? Apakah mereka akan berkomentar sama dengan yang mereka katakan kepada Pak Idrus Marham?
"Pakai saja bra dan celana dalam ibu saya ini, Pak."

-tulisan ini dibuat karena kesal setelah membaca status FM di fesbuk. I agree with you, Nek. Stupid is what a stupid does (Forrest Gump)-

Meet Me at Green Festival!

Mari ketemu di Green Festival yuk!

Green Festival adalah kegiatan yang bertujuan untuk mengajak seluruh masyarakat untuk peduli terhadap perubahan iklim yang sedang terjadi di dunia saat ini. Dengan memberikan pengetahuan dan cara – cara yang dapat mencegah dan memelihara dilingkungan tempat kita tinggal sehari – hari. -Facebook Green Festival-


Hari Minggu, 6 Desember 2009, saya akan datang ke Green Festival. Saya mau belajar bagaimana caranya menjaga bumi yang cuma satu-satunya ini. Acaranya dari jam 7 pagi sampai jam 10 malam. Saya sih datang sekitar jam 10an, berdua Papap. Hikari? Hikari sudah disana dari jam 7 pagi. Dia kan jadi polisi kebersihan bersama teman-teman dari sekolahnya. Apa sih polisi kebersihan itu? Lihat disini aja ya.

Okay, then. See you there, guys!

Blogger Templates by Blog Forum