Hujan dari Masa Lalu

Hujan deras di siang hari Sabtu itu mengaburkan kekinian saya.
Dari balik jendela mobil, saya memandangi tiga sosok anak kecil yang sedang tenggelam dalam keriaan curahan hujan.
Saya pernah merasakan keriaan mereka.
Dulu sekali.

Hujan selalu membawa keriaan buat saya. Lebih besar hujannya, lebih ria diri ini.
Berjingkat-jingkat saya keluar rumah untuk menghambur dan memeluk air hujan.
Begitu air dingin dari langit mengalir ke seluruh tubuh, saya tak perduli pada sosok perempuan bersanggul yang memperhatikan dari balik jendela rumah.

Eyang Uti.
Eyang Uti selalu membiarkan saya menikmati hujan.
Ketika hujan berhenti dan keriaan saya memudar, saya kembali ke rumah.
Saat itulah Eyang Uti akan menyambut saya dengan handuk tebal untuk kemudian menyeret saya ke kamar mandi.
Beliau akan membasuh badan dingin saya dengan air hangat dan menyuci rambut saya keras-keras. Setelah itu, saya akan dipeluknya erat-erat sampai beliau selesai mengeringkan kepala saya.

Bertahun-tahun kemudian ketika saya tak lagi menanti keriaan saat hujan turun, Eyang Uti mengganti sapuan handuk di kepala dan badan saya dengan pijatan di kaki setiap kali saya terbaring di rumah sakit. Setiap kali.
Wajahnya selalu berbicara banyak tentang nasihat yang tak selalu keluar dari mulutnya.
Dan seringkali saya tak mau menatap wajahnya karena saya tak ingin dia nasihati.

Seminggu lalu, ketika napas yang keluar dari dirinya terdengar samar, saya terisak mencium pipinya.
Beliau membuka mata dan memandang saya dalam-dalam sambil tersenyum.
Mama menyentuh saya pelan dan berbisik bahwa Eyang sudah tidak mengenali siapa-siapa lagi.
Saya tak perduli.
Saya mencium pipinya dan meminta ampun padanya.
Eyang hanya tersenyum, dan kemudian kembali tertidur.
Pasrah dan sedih saya mengelus tangannya yang kurus.
Tiba-tiba bibir Eyang bergerak dan mengucap lirih.
"8 Maret, ya?"

Kalimat terakhir sebelum beliau koma.
Dan kemarin Eyang Uti dimakamkan.
Ini ulang tahun pertama tanpa suara perempuan bersanggul yang mengucapkan selamat ulang tahun dari ujung sambungan telpon...

12 comments:

    ikut berduka cita yang sedalam-dalamnya dev...

    turut berduka mbak :(

    On 8:57 pm, March 04, 2008 Anonymous said...

    Turut berduka cita, Dev *hugs*

    On 8:27 am, March 05, 2008 Anonymous said...

    Dev, turut berduka cita ...

    gw ikut berduka cita ya dev.., Semoga almarhumah mendapat tempat yg paling baik disisi ALLAH SWT, Amiin..

    Gw turut berduka cita sedalam-dalamnya, Dep. Jadi inget nenek gw. Waktu hampir meninggal, dia juga udah gak ngenalin anak2nya. Tapi begitu gw muncul, dia langsung manggil dgn nama panggilannya yg khusus buat gw *hiks. Jadi sedih lagi.

    Mudah-mudahan diterima semua amal ibadah dan kebaikannya, ditempatkan di sisiNya.

    On 1:57 pm, March 07, 2008 Anonymous said...

    Dev, ikut berduka cita ya.....baru dengar hari ini dari si nenek FM....

    dan krn besok 8 Maret, kenyataannya ulang tahun tetep ada.......selamat ulang tahun, apapun yg terjadi.....

    On 6:53 pm, March 07, 2008 Anonymous said...

    turut berduka, mbak...maaf, telat

    * met ultah juga, semoga sehat selalu

    On 9:46 am, March 10, 2008 Anonymous said...

    turut duka, Dev....
    maaf telat...

    Turut berduka cita ya mba..
    sedih baca ceritanya.

    Selamat ulang tahun ya mba.

    turut berduka cita dev..maaf telat *hugs*

    i miss my nenek too...

Blogger Templates by Blog Forum