Mobil dan Warna

Apa hubungannya mobil dan warna baju?
Gak ada?
Jawabnya: banyak! Dan fatal!

Waktu kami baru saja pulang dari Jepang, adik saya yang bungsu membujuk untuk mengecat ulang mobil kami yang sudah berumur. Aslinya, mobil itu berwarna hijau gelap metalik. Warna cat yang khas untuk mobil merk itu. Setelah beberapa tahun, warnanya berubah jadi gelap tanpa metalik. Hijau pun tidak. Tadinya saya agak ragu. Selain biayanya yang mahal, saya terlanjur cinta mobil itu apa adanya. Diluar dugaan, Papap sebagai penyandang dana malah setuju. Ya sudah. Saya akhirnya setuju mengirim Papap dan si adik ke bengkel cat mobil.

Sebulan kemudian, terbukti tindakan saya mengirim Papap dan adik ke bengkel dengan berdua saja tanpa pendamping ternyata adalah suatu kesalahan besar! Selera mereka berdua ternyata tidak bisa dipercaya!
Mobil itu berubah warna menjadi hijau MUDA metalik!
Bagus sih... tapi... HIJAU MUDA METALIK?!

Ibarat barang produksi pabrik, mobil itu langsung jadi barang reject satu keluarga. Kecuali adik saya dan Papap tentu saja. Tapi, setelah saya dan Papap pindah ke rumah sendiri, mau gak mau saya harus pakai mobil itu kemana-mana karena gak ada lagi mobil Mami yang bisa saya bajak.
Mengendarai mobil bercat ngejreng bagi orang berumur seperti saya ternyata berakibat fatal. Makanya, sekarang saya mau menasihati para hadirin sekalian supaya tidak menyontoh tindakan tersebut diatas, karena...

1. Cat mobil yang ngejreng membatasi kreatifitas kita dalam memilih warna baju. Suatu kali saya pernah ke sebuah pertemuan kantor yang sangat penting dengan memakai blus marun yang agak mengilat. Begitu saya keluar dari mobil hijau metalik dalam balutan blus marun mengilat, seluruh peserta pertemuan langsung melotot. Hancur lebur imej kalem-lembut-dewasa yang sudah susah payah saya ciptakan selama 10 tahun!

2. Cat mobil yang ngejreng berbahaya untuk keselamatan berkendara. Saking gampangnya mobil itu diciriin, mobil saya jadi semacam 'target of achievement' bagi pengendara lain. Mereka berlomba-lomba mematok target untuk melampaui kecepatan mobil saya.

3. Cat mobil yang ngejreng berbahaya untuk upaya menghilang-dari-kantor. Murid, kolega, teman, sampai bos menjadikan mobil saya sebagai patokan apakah saya sudah sampai kantor/belum.

4. Cat mobil yang ngejreng menjadi petanda keberadaan (asumsinya) saya. Suatu kali saya tidak dapat datang ke undangan seorang teman karena sakit sementara mobil saya dipakai adik main ke mall. Tak dinyana, ada teman yang melihat keberadaan mobil hijau metalik itu di mall. Kisah selanjutnya bisa ditebak!
Lalu, sewaktu Hikari sedang dirawat di rumah sakit, bos beserta teman-teman saya berniat menjenguk. Dari seberang jalan, mereka melihat mobil saya parkir di pelataran rumah sakit. Dengan pedenya mereka percaya saya ada di dalam rumah sakit, tanpa berusaha menelpon. Padahal saya sengaja menaruh mobil di situ dan pulang naik taksi saking kecapeannya.

5. Cat mobil yang ngejreng membuat orang mengira pribadi saya juga secerah ceria warna mobilnya.

6. Cat mobil yang ngejreng membuat orang mengira umur saya juga semuda warna mobilnya.

7. Cat mobil yang ngejreng membuat orang-orang itu mengira mereka tahu tempat-tempat nongkrong saya. Asumsi ini berbahaya mengingat mobil saya sering dipinjam adik saya yang doyan maen ke mall tiap wiken.

Tau Bapak Gue?

Kami terpaksa harus menutupi tawa cekikikan kami dari pandangan seorang laki-laki perlente berusia 25-30an tahun. Laki-laki itu sedang bersitegang dengan seorang petugas parkir di sebuah mall ngetop. Rupanya, si laki-laki itu tidak terima dengan pemberitahuan petugas parkir yang melarangnya parkir di spot tertentu yang bisa membahayakan pengemudi lain.

Yang membuat tawa kami meledak bukan karena melihat kenyataan kemunculan orang-orang gendeng yang rasanya semakin banyak akhir-akhir ini. Tawa kami meledak karena kalimat pamungkas laki-laki dewasa berpenampilan perlente seperti dia adalah:
"Kamu tahu Bapak saya siapa?!"

Laki-laki itu pun jadi bahan celaan kami selama beberapa menit kemudian.
"Lu inget gak kalo kita berantem jaman SD dulu?"
"Kenapa?"
"Kalo pas kalah, kita mewek sambil ngancem: Kita bilangin Bapak kita looh! Hu hu hu hu hu."
"Huehehehe... iya bener. Berantemnya bawa-bawa emak babe."
"Tapi itu kan wajar. Masih SD, bo! Lah, yang tadi? Segede gitu berantem masih bawa-bawa bapaknya?!"
"Eeeehh, jangan salah loh," teman saya yang tadinya diam menyambung. "Hari gini ada juga orang yang katanya mau jadi presiden tapi tiap kampanye bawa-bawa bapaknya..."
Yang lain diam. Mikir.
"Ooooh. Maksud lu, George Bush?"

Tua dan Dewasa

Ada hal yang berbeda dari diri saya sejak beberapa bulan yang lalu.
Saya tak lagi terobsesi mencukur rambut pendek-pendek.
Ini tidak ada hubungannya dengan perubahan hormon.
Ini ada hubungannya dengan tugas baru saya di kantor.

Sudah hampir 3 bulan, saya mendapat tugas baru: mengurusi kelas anak-anak.
Teman-teman langsung menyelamati saya.
Bukan karena tugas baru ini sangat prestigious, tapi karena otomatis mereka terbebas dari tugas paling mengerikan di kantor ini. Jadi, mereka menyelamati saya, karena saya sudah menyelamatkan mereka. Sompret!

Program kelas anak memang dianggap mengerikan oleh para kolega saya. Apalagi oleh para guru-guru. Karena itu, setiap kali guru-guru melihat muka saya -si koordinator anak yang baru- mereka langsung balik kanan bubar jalan menyelamatkan diri dari assignment dipaksa ngajar.

Yang membuat kelas anak mengerikan bukan karena sosok anaknya.
Well, ya, itu juga sih.
Untuk ngajar anak umur 6-12 itu butuh steroid 5x lebih banyak dari pelari marathon kelas dunia.
Selain itu, lesson plan, alat peraga, kesabaran ekstra, stamina tinggi (untuk ngejar-ngejar mereka), obat batuk (untuk menyembuhkan tenggorokan serak), kemampuan P3K, banyak berdoa adalah beberapa hal yang dibutuhkan untuk mengajar anak-anak.
Begitu pun bukan soal itu yang membuat program ini dianggap paling mengerikan.
Satu dan hanya satu hal yang menjadi momok program ini adalah ada siapa di belakang anak-anak yang kami ajar.
Jawabannya: ada mamanya, ada papanya, ada neneknya, ada kakeknya, ada tantenya, ada mbaknya, ada supirnya, ada teman mamanya, dan ada mama tetangganya.
Urusan sepele kecil yang berhubungan dengan satu siswa, bisa merembet panjang karena satu kompi pasukan di belakang anak itu.

Ribut-ribut dari hal yang remeh, seperti:
"Ibu, kenapa si A gak diusir dari kelas? Dia suka nyubitin anak saya!"
"Pak, kenapa sih surat untuk ortu dikasih ke anak saya? Kenapa saya gak di telepon aja?!"
"Bu, anak saya harus makan siang dulu sebelum masuk kelas disini. Jadi dia pasti akan terlambat masuk. Saya gak mau anak saya ditulis terlambat, ya!"
Sampai ke hal-hal yang... *&!@%#$*!^#, seperti:
"Saya gak terima anak saya harus ikut ujian susulan! Kesalahan dia kan hanya gak bayaran aja!"
"Saya bisa pecat situ, tau! Saya gak terima anak saya hanya dimasukin ke level ini!"
"Saya bisa beli gedung ini beserta isinya, tau!"
"Saya minta guru itu dipecat! Saya tidak suka sama muka dia!"

Saya memang patut untuk diselamati.

Saya lalu berencana untuk memanjangkan rambut supaya saya kelihatan lebih tua. Saya juga akhirnya mengikhlaskan diri memakai kacamata yang sudah beberapa tahun saya simpan di laci rumah demi kelihatan lebih dewasa. Dan Tua. Dewasa dan Tua.
Para guru memang meledek saya. Kata mereka, wajah dan penampilan saya kurang ibu-ibu untuk ngurusin para ibu dan bapak. Akibatnya, para ibu dan bapak ini seringkali melecehkan saya karena saya dianggap anak ingusan. Itu masih mending karena kadang saya juga dianggap resepsionis sehingga mereka selalu minta ketemu otoritas lain selain saya yang cuma resepsionis! Memangnya rambut pendek, muka imut-imut (*pletak!*), celana panjang dan sepatu boots tidak pantas punya pekerjaan seperti saya?
Kadang-kadang, saking mereka gak percayanya dengan jabatan saya, mereka sibuk bergerilya mencari kolega saya yang lain untuk minta dilayani. Para kolega saya pun dengan senang hati mengirim mereka kembali ke saya. Sompret!

Saya tidak mengerti ada apa sih dengan para orang tua sekarang ini? Seringkali mereka justru lebih galak mempertahankan diri ketika tahu anaknya berbuat kesalahan.
Mudah-mudahan solusi menuakan diri saya bisa berhasil.
Karena kalau enggak...

Been There Done That

Having been dealing with hospital(s) for too many times surely has made me an expert. Thinking about it again, I might be able to write a book about it. How does "Surviving Patient" sound to you? Or "Being Hospitalized and Actually Love It"?


Having been hospitalized for so many times (and trying to be proud about it), I know the hospital drill so well that I start to think about applying for the job at the hospital.
Here are some tips to survive the hospital drill:
1. Speak up, if your infus injection feels more hurt than the bite of a black ant. Trust me, if the nurse injects it right, you wouldn't suffer. If you don't speak up, you'll risk your hand! If it hurts like hell, then it means they have messed up with your hand.


2. If you are not lucky enough to reside in VIP room, make sure you ask for the bed next to the window. You may have to share the room with other patients, but you can have the view all for yourself.
If it is possible, ask for the room in which the patients are all the same age as yours. Why? The reason is not only about the Generation Gap. Research (mine) shows that older patients (like above 50) receive more visitors than the doctor prescribes. You wouldn't feel happy to be alone in the hospital while your neighbors have a bunch of visitors every 5 minutes. You wouldn't be able to sleep either.


3. Related to no#3, if possible bring a big sign written DO NOT DISTURB and attach it to your bed. Hopefully you can get rid of unwanted eyes coming from your neighbor's visitors. Only God knows why they are so curious about other people in other beds.

4. If you are not into 'sharing', put a label on your bath equipment (soap, toothpaste, toothbrush, etc.). That way other tenant would understand that those items are not provided by the hospital and so are not for public use. My last experience cost me a bottle of soap.

5. Hospital food is never made to satisfy individual's taste. If you don't like it, keep quiet. There will be no use of prostesting the taste of the food. My neighbor did it. The next day she had to have her breakfast at 11 AM.

6. If you have to allow the nurse to bath you in bed, always tell the nurse that you take a bath sometime after 7 o'clock. Having a bath at 5:30 in the morning while being sick is against Human Rights!

7. Take a note on the drugs given to you and the frequency the drugs have to be given to you. Yes, the nurses are supposedly professionals, but they are also human. Papap had to endure his headache longer than necessary because the nurses forgot and skipped one serving.

8. Turn your cellphone to Silent Mode. I had nightmares because my neighbor's phone always rang at 1 AM. The ring tone was the sound of a laughing baby. There is nothing cute about the laugh of a baby if you hear it in the middle of the night.

9. Bring earplug. It always comes in handy. Especially during Visitors Time, and you have no one visiting you.

10. If in any case, you need to undergo a surgery, remember this:
a. Long before the surgery, ask the doctor about your surgery clothing. Do you need to take the whole clothes off? Or not. If you have to have your tooth removed, you don't need to undress. Believe me. And do not assume. If you assume, they'll take all your clothes off.
b. IF there's no way to keep your clothes on (even part of them), tell the nurses you don't want them to leave you cold naked on a cold surgery bed more than 30 seconds. Tell them to remove your clothes, or blanket, or whatever, only seconds before the surgeon says "Let's roll on".
c. If possible, ask for nurses with the same gender as yours. It doesn't hurt to ask. It hurts if you don't.
d. Do not look at the nurses' face, either female, or -especially- male. Do Not try to memorize their faces. You don't want to bump into them again one day and be reminded that they have seen you without clothes.
e. If you don't feel like chitchatting during the surgery, ask them to make you sleep for the whole process. But, if you feel perky about being operated, then you can stay awake and enjoy the ride.

All and all, I must say I wish you never have to apply any of those above.

Oh, one more thing: if you are told to use a catheter, vote against it! Trust me on this!

One of Those Months

By this time, I should have been awarded with Customer of The Year Award!


Early May, I dragged myself to visit my love-and-hate-kind of place: Unit Gawat Darurat, only to find out that my suspicion was correct.
Again, for the fourth, fifth, sixth? time, I suffered from a typhoid fever.
The doctor told me to rest at the hospital, but I refused.
Oh, no, I knew the drill. I could do it myself at home.
Bedrest, porridge for a whole month, no spicy food, no sambal.
The doctor let me go with a note to come and visit him again in three days.
On the third day, I didn't return to him.

I did return to his colleague -the internist- on the fifth day with something new: a sharp pain below my right stomach.
This doctor had me X-ray-ed, blood tested, and a few other silly tests like bending my legs and doing some kind of ball-kicking.
Then, he told me what he had in mind. "I think you have an appendicitis."
You think?

He gave some drugs and sent me home. Of course, with another note: return to him in 5 days if I don't get any better.
I didn't return to him on the fifth day like he told me to.
And it wasn't because I felt better.

The fourth day I suffered from appendicitis, Hikari got sick. The next day he had high fever, was throwing up, and complained about the pain in his stomach. So, I got him to the hospital.
It was like a joke when his doctor told me, "Not a dengue. Definitely a typhoid fever."
Aaaaarrrggghhh....
Hikari was sent home with a bag full of drugs, and a wallet full of bills.
Why not hospitalized? Because Papap and I knew the drill.
We thought so.

Fortunately -at that time, we thought- Hikari was getting better soon. His fever was down and he was cheerful all over again. So, the third day after I saw Hikari was really getting better, I decided I wasn't getting better.

I returned to the UGD.
This time, the doctor didn't let me go home.
On the same day, I had to have a surgery to remove my appendix.

The surgery was a success. I stayed at the hospital for 3 days. I was home by Monday evening. Everything seemed to be normal again. Or so we thought. Sigh...

On Thursday, Hikari's condition suddenly became worse. He suffered from a high fever and complained that he felt so cold!
We had to bring him to the ER of Children hospital at 3 o'clock in the morning because he was shaking, feeling cold, and talking in his fever.
At the ER, we met a young and just-graduated-yesterday-kind of General Practitioner. The young doctor gave a medicine for Hikari's fever only and insisted us to return later, not to him, but to Hikari's personal pediatrician.
What's the use of taking Hikari to the ER then?!
But, we complied. 4 hours after the ER, we took Hikari to his pediatrician.
Despite his fever and trembling body, Hikari was sent home with another bottle of medicine.

12 hours later, Hikari wasn't getting better at all. His fever reached 39C, then 40.3C.
We had been to the ER, we had been to his pediatrician.
I was praying, crying, praying and crying. I even forgot about the wet scar on my stomach.
At 8 PM, we took Hikari to another ER. A different ER, with different doctors. My initial UGD.
Fortunately, these different doctors reacted well.
Hikari was soon got his first aid.
Between my crying and praying, I explained in details what happened with Hikari.
Oh, I swore too, for those doctors in the first hospital!

5 days after that, Hikari was sent home with better condition.
It turned out that he had problems in his lungs. The problems use those names I can't even pronounce and spell correctly.
But, Thank God, he's been better since.

So, there we were, Hikari and I, two days at home, feeling week and exhausted.
I was about to feel relieved when...
when, on the third day Hikari was home, Papap went home from work with a high fever.
The next day Papap was brought to the UGD, my and Hikari's UGD. And he has been hospitalized since then. Until now.

And, everytime I turn around at the hospital, there is somebody saying, "Eh, Ibu. Kok masih di rumah sakit?"

Radio On!

Masih tentang Hair-Quake!

Kalau penasaran kenapa Andita tidak jadi pacaran dengan Prasta,
atau kenapa Andita mau pergi dengan Ricky,
atau kenapa sih Andita ribet banget dengan rambutnya,

dengerin radio Indika fm 91.60 yuk!
besok, Kamis, 29 Mei 2008
jam 9 - 10 pagi!

Pada Waktu Nya

Wooooooww…
Uuuuuuuuuuuu….

Yea, guys, I heard you.

Kelihatannya memang agak huebat banget saya bisa mengeluarkan buku langsung 3 pada saat yang hampir bersamaan. Padahal, there is no trick. You can all hear me saying, 'Gila aja!'

Cerita Anak, Hair-Quake, lalu sekarang La Tahzan for Broken-hearted Muslimah. Mereka ini pekerjaan jaman dulu. Jaman saya di Honjo. Jaman kerjaan saya cuma baby-sit, chatting, blogging, masak (aarrghh), foto-foto, nonton CSI basi, begadang, dan pekerjaan lain yang gak penting. Diantara waktu-waktu itu (Hikari sekolah atau tidur, Papap sekolah atau tidur, temen chatting pada tidur, sayur bayam udah mateng, CSI udah habis) saya mencoba untuk menulis cerita fiksi.

Semua ada waktunya. Selain Hair-Quake (yang saya kirim belakangan sebelum balik ke Indonesia), dua cerita lainnya saya kirim jauuuuuuh-jauh hari ke penerbit yang meminta. Bahkan si La Tahzan itu seharusnya terbit exactly dua tahun yang lalu!

But, Noooooooooo. God the Almighty tidak setuju. Tidak peduli segimana pun saya mengemis-ngemis, 'Mana dong, oh, mana dong?', Yang Punya Waktu tetap bergeming (bergeming as in cuek ajah). Timing Dia selalu tepat. Ya, iyalah. Dia gitu loooh. Nyuekin keluh kesah saya bukan berarti Dia tidak peduli. Ketika saatnya tiba (baca: duit kembang-kempis, BBM naik, anak mau masuk SD, beli lotere gak menang), tiba-tiba… BUM! Ketiga tulisan saya diterbitkan.

Sungguh suatu pelajaran hidup yang berharga. I should have known better.

Lalu bagaimana dengan tulisan selanjutnya?

Kayaknya sih Yang Punya Waktu belum memberi tanda kalau sekarang timingnya sudah tepat buat saya untuk menulis cerita yang lain. Hahaha…

Broken-Hearted Muslimah

Mengapa harus kata jatuh cinta yang berada di depan kata cinta?

Apakah cinta memang selalu identik dengan musibah dan malapetaka?

Mengapa harus ada kata mati yang berada di belakang kata cinta?

Apakah cinta memang selalu menghadirkan segumpal lara dan setetes air mata?

Sejumlah kisah, sejumlah peristiwa, lahir dan tumbuh bersama cinta.


Bersama Asma Nadia dari Lingkar Pena Publishing House dan teman-teman yang lain, saya menulis cerita ke-12: The Heart-Breaker. Semoga buku ini bisa memberi manfaat buat kita semua!

La Tahzan for Broken Hearted MUSLIMAH
Asma Nadia, Intan Arifin, Dian Ibung, Dyotami, Dewi Rieke Kustiantari, Novi Khansa', Me, Amelia Azma, Nasanti, Ummu Alif, Tary, Leyla Imtichanah, Mariskova, Id@ AZ, Esti Handayani.

Satpam atau CS?

Setelah ditunda-tunda beberapa lama, saya harus datang ke bank juga.
Karena sadar kalau hari itu saya bangun dengan mood yang berantakan, saya memutuskan untuk berdiam diri di mobil selama beberapa menit sebelum masuk ke dalam bank. Learning from experience, that is.

Tarik napas, keluar napas, lirik kaca spion, latihan tersenyum dulu supaya wajah tidak terlihat terlalu mengerikan. Di dalam sana, hal-hal yang normal bisa berubah jadi perkelahian panas.
Saya membuka pintu mobil. Melangkah keluar. Berjalan dua meter ke arah pintu bank.
Baru saja tangan saya hendak meraih pegangan pintu, pintu kaca sudah terbuka.
Seraut wajah coklat matang berkumis tipis muncul dari balik pintu.

"Selamat siang, Bu. Silahkan masuk," sapa suara berat dari Pak Satpam berseragam safari abu-abu gelap.
"Ada keperluan apa, Bu?" tanyanya ramah dengan senyum tulus yang muncul menerobos kumisnya.
"Bisa saya bantu? Atau Ibu mau langsung ke Customer Service?" Tangannya menunjukkan arah Mbak CS berdandan super rapi sedang duduk tegak di mejanya.

Mata saya cepat bereaksi.
Ke kanan, ada wajah coklat matang berkumisnya Pak Satpam.
Ke kiri, ada wajah putih bedak tebal lipstik merah rambut tersanggul rapi Mbak CS.

Keputusan yang mudah.
"Bisa sama Bapak aja?" tanya saya cepat.

PMS

PREMENSTRUAL SYNDROME

Boys, aren't you glad you don't have to experience it?!


Rasa sakit melilit di perut itu belum seberapa, karena PMS sendiri adalah gabungan dari gangguan pada emosi, fisik, psikologis, dan mood. Banyak perempuan merasakan gangguan di keempat hal tadi. Saya, entah harus bersyukur atau menyumpah, selalu mengalami penderitaan melulu di fisik.

Sejak pertama kali mendapat haid dan kesananya mengalami sakit haid, saya sudah mengantongi jam terbang pingsan di tempat-tempat publik: di bis, di angkot, di pintu gerbang sekolah, di kelas, di koridor sekolah, di mobil Eyang Kung, di halte bis, di taksi, dll. Yang paling sering tentu di rumah.
Setelah punya anak, sakit haid saya bertambah selain sakit perut juga migren. Untuk migren ini, jam terbang pingsan saya bertambah: di kantor dan di UGD RS Carolus.

Tiap perempuan punya PMS yang berbeda-beda. Teman saya ada yang bertambah nafsu makannya. Dari segentong jadi tiga gentong. Teman yang lain, ada yang malah jadi memilih puasa, karena setiap mencium aroma masakan langsung muntah. Ada yang bawaannya sensitif melulu. Disenggol dikit nangis, gak disenggol kejer. Ada yang bawaannya ngajak berantem melulu. Ada yang bawaannya mencetin jerawat. Ini karena tiap PMS jerawat segede jengkol muncul di seluruh permukaan wajah. Udah jelek, jerawatan pula. Untung ada ojek. Ada juga yang kerjanya marah-marah dan bawaannya pengen beres-beres rumah. Nah, kalo yang ini PMS-nya Mami saya. Pokoknya, kalau sudah PMS, dunia salah aja dah!

Mungkin, mungkin nih, karena itu pula Tuhan mengijinkan perempuan yang sedang haid untuk cuti sholat. Bayangin aja. Tanpa PMS pun, kita seringkali nangis kejer saat sujud di kaki Tuhan. Apalagi pas tingkat sensitif tinggi saat kita PMS???
"Hiks, ooooh, Tuhaaan, suamikuuu ituu..."
"Huaaaa... Tuhaaan... si Mami tuuuhh..."
"Ihiks ihiks... Tuhaaan... Waaaa...."
Segala apa diaduin.
Mungkin Tuhan gak sampai hati untuk bilang, "Bo, elu tuh cuma PMS doang!"

Balik lagi ke sakit perut saya pas PMS bulan ini, seperti ayam nunggu jadwal dipotong saya ngejogrok di pantry kantor. Sapaan pun bertebaran dari manusia-manusia penunggu kantor lainnya. Ketika rahasia terbongkar...
"Ohhh, lagi PMS ya?!"
"Iya. Tapi gak perlu pake teriak-teriak kali ya?"
"Sakit perut yaaa?!"
"Iya. Tapi gak perlu teriak-teriak."
"Wah, gue sih lebih milih sakit perut aja deh kalo pas PMS! Kalo gue pas PMS, bawaannya pengen marah-marah ngamuk-ngamuk sensi-sensi melulu! Orang yang gak tau kan disangkanya gue ini emang pemarah! Bener deh! Gue mendingan sakit perut aja!"

Kenapa ya manusia selalu berlomba untuk lebih menderita dari yang lain???

Blogger Templates by Blog Forum