God is in the office

My life has been like a roller coaster.
Healthy to being Sick
Happy to become Sad
Having some jobs to jobless to having more than I can handle
Having no money to having some, then no money again
Getting more friends to quarelling with a few
After that, people love to tell me how life is like a wheel.
Once you are up, the next time you are down there.
I never think of life that way.
My roller-coaster life is just a proof that God is in the office.
And He is in charge.
And he never takes a leave. Even on holidays.

Happy Eid Mubarak, friends.
Let's renew our faith.
Stronger as years go by...

Maaf, Kami Bukan TPA


TPA
Tempat Penampungan Anak
Tempat Pembuangan Anak
Tempat Penitipan Anak

Sudah sebulan lebih pembantu kami uring-uringan. Rasa uring-uringannya dia masih ditambah dengan rasa deg-degan. Sekujur tubuhnya stress kalau jam sudah menunjukkan angka 2 siang, jamnya Hikari pulang sekolah.
Jangan salah dulu. Dia stress bukan karena Hikari. Pembantu kami itu stress justru karena ulah teman lama saya.

Semenjak Hikari masuk SD, Hikari berkenalan dengan teman satu perumahan tapi lain blok. Anak ini ternyata berada di sekolah yang sama dengan Hikari. Bukan itu saja. Mamanya si anak ini ternyata adalah teman sekolah saya yang baru saja pindah rumah ke perumahan kami.
Awalnya saya senang dengan pertemanan Hikari yang baru, selain juga saya senang ketemu teman lama. Lama-lama...

Mulanya, si Ibu sering mampir ke rumah saya. Alasannya sambil lewat, atau untuk ngobrol (dengan saya) atau ngajak main anaknya. Lama-kelamaan, si Ibu sambil lewat -entah ke pasar, ke mall, ke pengajian, kemana lah- sekalian menurunkan anaknya di rumah saya. Kalau tadinya frekuensi berkisar antara seminggu sekali, lama-lama jadi seminggu... 6 kali. Kalau tadinya si anak ditinggal hanya selama 30 menit, lama-lama jadi 3 jam. Lebih.

Lalu, sebulan lalu, pembantu si Ibu pulang kampung. Sejak itu setiap pulang sekolah si anak ditinggal di rumah saya untuk menghabiskan waktu bermain dengan Hikari. Sejak itu kelimpungan lah pembantu saya di rumah gara-gara Hikari gak mau tidur siang, Hikari loncat-loncat lari-lari kesana kemari, Hikari (dan temannya itu) membuat rumah jadi kapal pecah, dan seterusnya-dan seterusnya.

Awalnya, saya masih bisa menentramkan hati pembantu saya itu dengan beralasan kerepotan yang mungkin dialami si Ibu karena tidak ada pembantu di rumahnya. Memasak sambil ngangon anak sekaligus membereskan rumah (yang sebesar itu!) kan pekerjaan yang luar biasa menghabiskan energi dan pikiran.
Sampai seminggu yang lalu...

Hari Sabtu pagi saya, Papap dan Hikari masih leha-leha di tempat tidur. Malas bangun -apalagi mandi- kalau belum Adzan Dhuhur. Tiba-tiba mobil si Ibu berhenti di depan rumah kami. Keluar lah tiga pasang anggota keluarga itu: Ayah, Ibu, dan Anak mereka. Saya dan Papap blingsatan secara kami belum mandi walau saya bisa jamin kami saya gak sampai bau bantal. Si Ibu dan Anaknya masuk ke dalam rumah kami dengan santai.
"Anak gue mau main disini katanya."
"Elu mau kemana?" tanya saya dengan muka ngantuk dan senep.
"Gue mau belanja dulu. Titip yak!"
Lalu dia pun melenggang pergi bersama suaminya.
Pembantu saya merengut.
"Saya mau pulang kampung buat Lebaran minggu depan!"
Saya dan Papap liat-liatan.

Pertanyaan moral saya kali ini: Pilih Teman atau Pembantu?

Hayo tebak!

Setelah sekian lama, masih saja ada orang yang menanyakan: "Kenapa Andita gak jadi pacaran dengan Prasta?!"
(Herannya gak ada yang tanya kenapa Andita gak jadi pacaran dengan Ricky???)

Iya, saya lagi ngomongin novel Hair-quake saya itu yang endingnya... ehem... ternyata bikin orang patah hati.
Terus terang, maksud saya tadinya bukan itu. Bukan untuk mematahkan hati siapapun.
Gini deh. Kita main tebak-tebakan aja yuk. Terutama untuk yang udah baca. Yang belum baca, silahkan baca. Hehehe...

Pertanyaannya: Kenapa sih saya tidak mengakhiri cerita itu dengan membuat si tokoh utama pacaran dengan salah satu cowok disitu?

Jawaban saya ditunggu seminggu lagi yak. Moga-moga pada hari Selasa minggu depan, internet kantor nyala dan boss gak nyuruh meeting lagi meeting lagi! Hehehe...

Not my kind...

Apa yang membuat anda membenci tidak menyukai sebuah buku?
1. Judulnya?
2. Cover-nya?
3. Penulisnya?
4. Sinopsisnya?
5. Ceritanya secara keseluruhan?
6. Nilai-nilai yang disisipkan di dalamnya?
7. Editing-nya?
8. Harganya?

I love reading.
Tidak seperti film, saya tidak pernah menghakimi sebuah buku dari nilai-nilai yang dianut penulisnya. Atau sinopsisnya. Atau penulisnya. Atau malah covernya. Apalagi judulnya.
Beberapa kali saya berhenti membaca satu buku tanpa selesai. Itu biasanya karena:
a. Otak saya ternyata nggak nyampe dalam menelan isi buku.
b. Tanpa menyelesaikan membaca, saya sudah tahu kesimpulan buku itu.
c. Itu buku matematika. Atau aritmatika. Atau statistika. Atau apapun yang berbau tika-tika...
Tapi, saya tidak pernah berhenti membaca satu buku karena saya benci cerita di buku itu.

Hal yang sama terjadi kemarin ketika saya membeli sebuah buku yang berkaitan dengan satu hukum agama setebal kurang dari 100 halaman. Judulnya anggap saja sama seperti "Apakah kita boleh makan menggunakan sendok?"
Sampai halaman 55, si penulis masih berputar-putar dengan cerita 'Sendok adalah... dan Gunanya Sendok adalah..." Perkara Apakahnya belum juga disentuh. Eeh, belakangan, perkara apakah saya boleh makan menggunakan sendok hanya dibahas kurang dari 5 halaman. Itupun tidak ada kesimpulan yang dimulai dengan kata "Jadi...".
Kecewa dengan buku itu? Jelas. Tapi benci? Nggak tuh.

Selama ini saya tidak pernah membenci satu buku dengan alasan jelas. I love reading. Bahkan koran gurem yang dari kertasnya aja sudah gak enak di mata, tetap saya baca, tak peduli beritanya juga cuma yang gurem-gurem aja. Saya tetap membaca semata-mata untuk memuaskan mata saya.

Tapi beberapa waktu lalu saya membeli sebuah novel. Covernya keren. Judulnya modern. Ceritanya tentang kehidupan perempuan cantik yang sibuk dan mandiri yang tinggal di kota besar. Seharusnya saya merasa 'gue banget gitu loh' (terutama yang bagian cantik dan mandiri tinggal di kota besar haha!).
Nyatanya... Tidak sama sekali!
Dan itu bukan karena jalan ceritanya, bahasanya, editingnya, etc.
Ada satu hal di buku itu yang membuat saya -sebagai seorang yang senang membaca- menjadi tersedih-sedih bukan main. Satu hal itu adalah kesan. Cerita di buku itu memberi kesan yang sama ketika seseorang mengelompokkan manusia berdasarkan kasta: the haves, the so-so, atau the neither-one. Membaca novel itu membuat saya seakan-akan masuk ke sebuah kelompok eksklusif dimana saya tidak diundang tapi dengan nggak tau dirinya malah nongol di pertemuan kelompok itu. Lalu, untuk pertama kalinya dalam hidup saya, saya membenci sebuah buku.

Kalau anda, apa yang membuat anda membenci sebuah buku?

Our Mother's Signature

Nama perempuan itu Jeng DJ. Usianya di pertengahan 30-an tahun. Kata perfeksionis dan idealis sepertinya diciptakan khusus untuk dia saat dia lahir.

Saya sebenarnya lebih suka memanggil di Jeng TOA as in TOA mesjid. Ini bukan penghinaan. Hanya sekedar menyamakan deskripsi karakter dan bawaan orok dengan sebuah nama panggilan. Lagipula, TOA nya bukan sembarang TOA. TOA yang satu ini seringkali menyuarakan gema sebuah bom yang meledak. Meledaknya gak tanggung-tanggung: di kantor, di antara para pejabat tinggi, di tengah-tengah orang berhati lemah.

Saat ini -seperti juga saat-saat yang lalu- Jeng DJ sedang stress berat. Bawaannya (dikutip sesuai dengan kalimat aslinya) PENGEN NELEN ORANG. Ini akibat dia ditimpuki kerjaan yang gak tanggung-tanggung banyaknya dan jelas gak sesuai dengan nominal gaji.
Menurut saya pribadi sih, Jeng DJ pengen nelen orang bukan karena kerjaannya yang ngebludak. Dia sampai gahar begitu karena orang-orang yang harus dia kerja-samai mempunyai deskripsi 'sudah bego, goblok lagi'. Dan anehnya mereka selalu naik pangkat...

Coba sekarang kita bayangkan si Jeng DJ ini. Di tenggelamkan oleh kerjaan, di gaji rendah (haha!), di kerjain para kolega dengan menyuruhnya ikut panitia ini itu, dianggap terlalu idealis, dan yang paling menggelikan (buat saya) dia diiklankan sebagai berkepribadian tidak dewasa.

Lalu apa yang dilakukan oleh Jeng DJ?
Jelas apa yang selalu dilakukan oleh dia.
Ngamuk. Ngomel. Maksa orang untuk bekerja bener.
Does it work?
Jelas tidak.
Sebagai akibatnya, Jeng DJ jadi pengen nelen orang lagi.

Apa hubungannya Jeng DJ dengan saya?
Jeng DJ itu sosok yang menentramkan buat saya. Jelas bukan menentramkan dengan feeling yang sama seperti mendengarkan Pak Quraish Shihab berceramah tentang kemurnian hati. Feeling menentramkannya adalah seperti, "Oooooh, ternyata ada orang yang hidupnya lebih sial lagi dari gue!"
Tapi, applause should be given to her. Setelah selesai nelen orang, Jeng DJ biasanya sanggup tertawa-tawa lepas menertawakan hidupnya yang lebih sial dari saya.
Bawaan orok Jeng DJ yang terakhir (tertawa-tawa lepas menertawakan hidupnya yang lebih sial dari saya) itu lah yang menjadi persamaan antara saya dan dia.

Terakhir kali saya bercakap-cakap dengan Jeng DJ, kami berkesimpulan bahwa kemampuan kami menertawakan kepahitan (hayah!) hidup ini berkat didikan ibu-ibu kami.
Perlu diketahui, walaupun ibu-ibu kami itu tidak saling mengenal, mereka sepertinya lulusan dari perguruan silat yang sama: Kejemnya gak kira-kira! Dan terutama, mereka selalu sanggup menaikkan dagu pasang tampang sekokoh batu walaupun cobaan hidup mereka luar biasa beratnya (having us as daughters, that is!).
Maka, selagi kami memperingati dan mengenang karakter Raja Tega mereka (yang terutama ditujukan kepada kami yang anak perempuan satu-satunya), kami mendapat satu kesimpulan. Satu pencerahan.
"Kalau emak-emak kita itu gak raja tega sama kita, yang ada sedikit-sedikit susah kita bakal mewek mulu kali ya?" kata saya berfilosofi.
"Iya, itu emang begitu itu mereka ngedidik kita."

Jadi, itu lah signature dari para ibu kami.
Pesan moral kali ini: what is your mother's signature on you?

REZAH

"Namanya Re-zah, Mama. Harus pake huruf H dibelakangnya. Mama harus sebut pelan-pelan. Reeee---zaaahhhh. Kalau pelan-pelan, namanya jadi merdu, Ma."

Rezah.
Itu panggilan Hikari untuk calon adiknya. Saya dan Papap hanya bisa tertawa mendengar rencana-rencana dia untuk adiknya.

"Mama jadi punya dua anak kesayangan, ya?"
"Adiknya perempuan atau laki-laki?"
"Kok perut Mama belum besar juga?"

Pertanyaan demi pertanyaan Hikari lontarkan tak sabar.
Sembilan hari yang lalu, pertanyaan itu berubah menjadi...
"Kenapa adik sakit, Ma?"
"Kenapa adik harus dikeluarkan sekarang?"
Dan saya tak punya jawabannya.
Yang saya tahu, life had been hard for this little one. Dia harus berjuang keras sekali sejak awal. Lalu Dia berkehendak Rezah hanya hadir untuk 12 minggu.

Law and Order

Sudah seminggu ini tol Jagorawi selalu macet. Kalau jam pulang kantor, macetnya di jalur menuju Bogor. Sebaliknya jam masuk kantor, macetnya di jalur yang ke arah Cawang.
Hari pertama macet -pas jam pulang kantor- radio bersuara empuk-empuk ngantuk yang saya putar menginformasikan sumber kemacetan itu.
Penyiar (suara besar bariton): "Pendengar yang terhormat, baru saja kami mendapat informasi dari petugas tol Jagorawi yang menginformasikan bahwa tol Jagorawi kilometer 6 sampai 8 kondisi jalan ramai padat."
Ramai padat jidat lu. Wong gue gak bergerak begene!
Penyiar lagi: "Kepadatan terjadi karena ada pembenahan di bahu jalan sampai dengan kilometer 8."
Saat itu yang ada dibayangan saya atas kata 'pembenahan bahu jalan' adalah adanya pekerjaan konstruksi di bahu jalan sepanjang tol. Entah kerikilnya lepas lah, entah aspalnya botak lah, entah jalanan bolong lah...
You know what I did find out?
Ternyata...
Ternyata...
Mulai dari kilometer 6 sampai pintu tol Cibubur, beberapa mobil patroli polisi sengaja parkir di bahu jalan supaya orang-orang tidak memakai bahu jalan itu untuk jalur umum!

Terus terang, harus saya akui. Bapak-bapak (gak ada Polwannya karena) yang baik, niat anda sungguh mulia. Memang para pengendara mobil yang suka seenak udelnya kalo nyupir di tol ini harus diberi pendidikan tentang tata tertib lalu lintas. Tapi, sumpah, Pak! Saya miris melihat caranya. Bukan, bukan miris kepada Bapak. You're just doing your job. Saya miris kepada sesama teman pengendara. Apakah kita (elu kali, gue sih enggak!) udah segitu tololnya sampai-sampai Polisi harus melakukan tindakan se-konyol itu supaya kita (elu kali, gue sih enggak!) jera?
Teman seperjalanan saya satu kali pernah meringis melihat deretan mobil patroli yang melintang di bahu jalan. Katanya, "kesian ya polisi-polisi itu. Buat bikin orang tertib aja sampe harus pasang badan begitu. Kalo ada supir yang ngebut nyelonong ke dia gimana tuh?"
Saya sih gak kesian sama polisi-polisi itu, kecuali kalau ada supir yang bener-bener nyelonong ke arah beliau. Saya justru kesian sama orang-orang yang menjadi obyek penertiban itu. Kesian, karena saking bebalnya, polisi-polisi itu sampai harus memakai jalan yang memiriskan seperti itu. Ternyata, warning sign aja gak cukup di negeri ini!

Pesan moral saya hari ini:
1. Bahu jalan itu untuk kondisi darurat. Titik! Emang ente mau diseruduk mobil pas lagi ngeganti ban mobil yang kempes di tol?!
2. Kalau tidak mau diperlakukan seperti orang tolol dan bebal, ya behave decently lah!
3. Hindari tol Jagorawi pas jam-jam sibuk.

Imej

Mungkin memang bukan salah anak-anak ketika setiap kali ditanya cita-citanya selalu menjawab PD, "jadi dokter!"
Dokter.
Di mata mereka (dan kita?), dokter itu hebat, tau segala-gala, bisa bikin penyakitnya hilang, tempat papa-mama bertanya (kadang-kadang pakai nangis juga), kelihatannya pintar, penampilannya necis, bla bla bla...
Setidaknya saya harus setuju tentang penampilannya necis. Berjubah putih pulak! Semua dokter yang saya lihat/kenal setidaknya memang necis. Hampir semua.

Saat itu saya sedang duduk di ruang tunggu RS menunggu giliran untuk dipanggil. Dokter yang saya tunggu belum datang juga. Saya sendiri belum pernah lihat tampang si dokter. Lalu, seorang laki-laki setengah baya dengan wajah kuyu berkulit gelap rambut acak-acakan, berkemeja lecek warna coklat luntur dan celana abu-abu muncul. Sembari lewat di depan para pasien -termasuk saya- dia menatap orang-orang yang sedang menunggu satu persatu. Begitu giliran saya, wajah butek saya (akibat kelamaan menunggu) langsung berkerut-kerut sembari melotot memberi pesan singkat, "apa lu liat-liat?!"
Laki-laki itu kemudian masuk ke ruang praktek dokter di depan saya. Belum sempat saya bereaksi, si suster memanggil nama saya untuk masuk.
"Silahkan, bu."
"Memang dokternya sudah dateng, sus?"
"Sudah."
"Kapan?"
"Barusan."
"Hah? Yang mana?"
"Yang baru aja masuk!" kata si suster heran.
Mampus gue!

Pesan moral saya kali ini: dokter belum tentu memakai jubahnya kemana-mana...

Sekali Lancung...

Setelah 2 minggu tidak masuk kantor, seorang teman mengirimkan saya sms dengan nada prihatin. Tulisan singkatnya, "are you really seriously ill?"

Spontan saya meringis. Antara nahan meriang dan nahan harga diri yang jatuh ke kaki.
Bukannya gak menghargai pesan prihatin si teman. Tapi pilihan kata 'seriously ill' sungguh berkesan banget di hati...
Sebagai usaha untuk bercermin, saya pikir ini pasti gara-gara catatan medis saya yang merah melulu. Setelah sebulan sebelumnya masuk RS gara-gara usus buntu, bulan ini saya masuk RS lagi. Anyone wouldn't take your medical reason seriously after so many in-and-outs of the hospital. Sekali lancung ke ujian...

Sebenarnya, teman-teman di kantor sudah sering ngehina-hina saya.
Kalau orang-orang di kantor pada bergantian masuk RS karena demam berdarah, mereka berkomentar lain pada saya.
"Ah, kalo elu masuk RS, gue udah tau deh diagnosanya. Elu paling tipus lagi tipus lagi."
Sial! Tapi benar!
Mereka malah nambahin satu kalimat menakutkan buat saya.
"Kata orang, kalo udah 5 kali sakit tipus, elu bisa mati, tau!"

Yang membuat saya tambah tertohok adalah (dan ini gak ada hubungannya dengan sms si teman itu) dua hari sebelum saya balik dirawat di RS, Hikari baru saja pulang dari dirawat di RS juga selama seminggu!
Iya, dia juga sampai 2x dirawat.
Si Mami bilang saya kena bad karma. Ya, beliau memang sangat suportif.
Bad karma karena sewaktu si Mami nyuruh saya menunda pindahan rumah ke bulan Juni, saya ngeyel dan menolak mentah-mentah.
Akibatnya -kata si Mami- saya, Hikari, Papap, Hikari lagi, saya lagi, masuk RS lagi.
Saya bilang pada beliau.
"Ini bukan bad karma. Ini namanya disumpahin ibu sendiri."

Baru seminggu ini saya masuk kembali ke kantor.
Hari pertama masuk saya langsung disalami oleh seluruh karyawan.
Tentu disertai kalimat, "ternyata lama gak ngeliat elu bikin kangen juga!"
Yang tentu saya jawab, "yang gak jenguk gue, bukan temen!"
Hari pertama itu diakhiri dengan kalimat penutup.
"Sori ya gak jenguk. We thought it was nothing serious."
"........"

Sempurna

Sempurna
-Andra & The Backbone-

Kau begitu sempurna
Di mataku kau begitu indah
Kau membuat diriku akan selalu memujamu
Di setiap langkahku ku kan selalu memikirkan dirimu
Tak bisa ku bayangkan
Hidupku tanpa cintamu

Janganlah kau tinggalkan diriku
tak kan mampu menghadapi semua
Hanya bersamamu ku akan bisa
Kau adalah darahku
Kau adalah jantungku
Kau adalah hidup ku
lengkapi diriku
oh sayang engkau begitu sempurna .. sempurna

Kau genggam tanganku saat diriku lemah dan terjatuh
kau bisikkan dan hapus semua sesalku

Janganlah kau tinggalkan diriku
tak kan mampu menghadapi semua
Hanya bersamamu ku akan bisa
Kau adalah darahku
Kau adalah jantungku
Kau adalah hidup ku
lengkapi diriku
oh sayang engkau begitu sempurna .. sempurna

Kau genggam tanganku saat diriku lemah dan terjatuh
kau bisikkan dan hapus semua sesalku

Janganlah kau tinggalkan diriku
tak kan mampu menghadapi semua
Hanya bersamamu ku akan bisa

Kau adalah darahku
Kau adalah jantungku
Kau adalah hidup
ku lengkapi diriku oh sayang
engkau begitu sempurna .. sempurna

Hikari sayang,
Selamat Ulang Tahun.
You are unquestionably perfect.

Blogger Templates by Blog Forum